DALIL MEMBACA USHALLI

9 Agu

Salah satu kerancuan yang dibuat oleh salafi untuk membodohi kaum awam adalah kerancuan tentang pelafadzan / menjaharkan niat dengan lisan. Adapun niat dalam sholat, maka mereka pun juga sepakat dgn kita yaitu tempatnya di dalam hati.

Mereka ingin membuat kesan seolah ulama syafi’iyyah telah berbuat bid’ah besar dalam sholat yaitu menjaharkan niat dgn lisan. Padahal ini pun juga pendapat imam Syafi’I yang ditegaskan lagi oleh para ulama syafi’iyyah sprit imam Nawawi, Imam Ibnu Hajar dan lainnya.
Mereka membuat kedustaan dengan mengatakan “ Mengucapkan niat menurut kaum Aswaja itu hukumnya wajib “ dengan hanya melihat praktek yang sering mereka dengar saat kaum aswaja mengucapkan Usholli saat hendak takbir. Padahal bagi kaum aswaja melafadzkan niat dgn lisan hukumnya sunnah (bukan wajib) tujuannya agar lisan dapat membantu hati. Lebih banyak kaum aswaja yang tidak melafadzkan niat (Usholli) ketimbang yang mengucapkannya.

Dalil mengucapkan niat bisa kita ambil dari hadits shahih riwayat imam Muslim no : 2168 berikut :

ان انس رضى الله فال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول ” لبيك عمرة و حجا ”

Dari Anas Ra berkata, aku mendengar Rasulullah Saw mengucapkan “ Labbaik umrotan wa hajjan “.

Hadits ini berkaitan tentang niat haji yang beliau Saw lafadzkan dengan lisan, maka dapat diqiyaskan bahwa jika niat di dalam haji sunnah dilafadzkan dengan lisan, maka demikian pula melafadzkan niat dengan lisan di dalam hati dengan lafazd Usholli hukumnya sunnah demikian juga dalam ibadah yang lainnya seperti wudhu’, puasa dan zakat.

يسن أن يتلفظ بلسانه باالنية، كأن يقول بلسانه أصلي فرض الظهر مثلا، لأن فى ذالك تنبيها للقلب، فلو نوى بقلبه صلاة الظهر، ولكن سبق لسانه فقال: نويت أن أصلي العصر فأنه لا يضر، لأنك قد عرفت أن المعتبر فى النية انما هو فى القلب، والنطق با للسان ليس بنية………….. وهذا الحكم متفق عليه عند الشافعية والحنابلة. [كتاب الفقه على المذاهب الاربعة لعبد الرحمن الجزيري ص : 114]

Disunnahkan melafazhkan niat dgn lisan, sebagaimana mengucapkan niat dgn lisan, misal “Aku niat sholat fardhu zhuhur,” karena hal itu unt mengingatkan hati. Jika seseorang niat di dlm hatinya sholat zhuhur tetapi lisannya mendahului dgn ucapan niat : “Aku niat sholat ashar,” itu tdk masalah. Karena kamu mengetahui bahwa sesungguhnya niat itu ada di dlm hati, dan ucapan lisan itu bukan niat………… Ini adalah hukum kesepakatan menurut madzhab Syafi’iyah dan Hanabilah [Syafi’i dan Hambali] [Kitab Fikih Empat Madzhab oleh Abdurrohman Al-Jazairi juz 1 hal. 114]

هل يستحب اللفظ بالنية ؟ على قولين : فقال طائفة من أصحاب أبي حنيفة ، والشافعي ، وأحمد : يستحب التلفظ بها لكونه أوكد، وقالت طائفة من أصحاب مالك ، وأحمد ، وغيرهما : لا يستحب التلفظ بها ؛ لأن ذلك بدعة لم ينقل عن رسول الله صلى الله عليه وسلم ولا أصحابه ولا أمر النبي صلى الله عليه وسلم أحدا من أمته أن يلفظ بالنية
الفتاوى الكبرى ص : 1 / 214 – 215 [

Apakah disunnahkan melafazhkan niat? Maka dikatakan ada dua pendapat. Pendapat sebagian sahabat Imam Abu Hanifah [Hanafi], Syafi’i dan Ahmad [Hambali] mensunnahkan melafazhkannya unt menguatkan [niat] . Dan sebagian dari sahabat Imam Malik dan Imam Ahmad dan selain dari keduanya, tdk mensunnahkannya karena hal itu bid’ah yg tdk pernah diucapkan Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa sallam dan tdk oleh para sahabat. Dan Nabi Shollallohu ‘alaihi wa sallam tdk pernah memerintahkan kpd seorang pun dari umatnya unt melafazhkan niat. [Al-Fatawa Al-Kubro juz 1 hal. 214-215] Wallohu a’lam bish-Showab

bercomentarlah dengan santun dan mendidik

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: