Banyak Orang Shalat, Mengapa Masih Ada Bencana? (1 of 2)

12 Agu

Pertanyaan ini seringkali diajukan oleh peserta seminar, tanya-jawab keislaman dan pengajian. Secara tersirat seolah-olah dikatakan bahwa harusnya kalau kita shalat, maka tidak akan ada bencana. Apakah memang seperti itu?

Perlu kita ingat lagi, bahwa sesuatu yang menimpa kita adakalanya adalah ujian, peringatan atau azab (hukuman). Nah, bencana yang menimpa kita termasuk yang mana?

Peraturan dasar untuk sebuah introspeksi adalah ketika kita menilai orang lain, kita harus berbaik sangka. Bencana yang menimpa orang lain harus kita anggap sebagai ujian. Sebaliknya, saat kita menilai diri sendiri, maka anggaplah diri ini banyak kekurangannya. Bencana yang menimpa kita harus kita pikir sebagai peringatan dari Allah.

Hanya saja, terkadang bahkan seringkali kita tidak mau menerima pernyataan bahwa yang menimpa kita adalah peringatan apalagi azab dari Allah. Kalau ada sebuah daerah tertimpa bencana, kita cenderung mengatakan bahwa itu karena kesalahan dan dosa mereka, sehingga Allah memberi peringatan bahkan azab kepada mereka. Dan, keadaan sebaliknya berlaku untuk kita.

Kita merasa diri sudah bertakwa, menjalankan semua perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya.

Kita merasa diri sudah baik dan benar, sehingga bila ada bencana yang menimpa kita, kita yakin itu adalah ujian, bukan peringatan atau hukuman.

Kita merasa bahwa tidak seharusnya kita menerima bencana itu, karena kita sudah rajin shalat.

Kita merasa bahwa orang lainlah yang terkena bencana, dan kita ikut menerima imbasnya. Kita mengibaratkan ada seekor semut yang menggigit seseorang, lalu orang itu membunuh semua semut yang ada di dalam lubang. Semut yang tidak menggigit ikut menderita karena terkena dampak perbuatan semut lainnya.

Kita merasa bencana itu tidak ditujukan oleh Allah untuk kita. Kita ikut terkena bencana karena kita satu wilayah dengan orang-orang yang berbuat zhalim dan maksiat.

Nastahgfirullâh al-‘Azhîm. Marilah kita memohon ampun kepada Allah Yang Maha Pengampun (Al-Ghaffâr) atas perasaan bahwa kita adalah orang baik dan benar, yang tidak mungkin mendapat peringatan apalagi azab. Marilah kita mohon ampunan Allah atas perasaan bahwa kita tidak seharusnya menerima bencana karena kita merasa telah bertakwa, menjalankan shalat—baik yang wajib maupun nawafil, sedekah, zakat, puasa (wajib dan sunnah) serta menunaikan ibadah haji dan umrah.

Ibnu Qatadah menasihatkan, “Janganlah kamu menuntut idlal (kenikmatan) karena amal perbuatanmu.”

Idlal al-‘amal adalah perasaan bahwa diri kita memiliki kedudukan yang sangat mulia di sisi Allah karena ibadah yang dilakukan. Dengannya, kita merasa berhak mendapat kenikmatan dari Allah dan tidak menerima segala perkara yang tidak disukai menimpa diri kita.

Seorang dokter mengatakan bahwa “merasa” itu menguatirkan. Seseorang yang merasa diri sehat, kemungkinan bisa terjangkit banyak penyakit, misalnya darah tinggi, kolesterol, asam urat, liver dan lainnya. Begitu pula jika seseorang merasa diri baik dan benar, bisa jadi di dalam dirinya justru banyak sekali pintu-pintu yang sudah dimasuki dan dihuni oleh setan dan kawan-kawannya.

Sudah kita bahas di posting “Benarkah Kita Hamba Allah? (2 of 2)” bahwa orang beriman akan mendapat ujian dari Allah. Jadi, tidak masuk akal kalau kita mengatakan bahwa jika kita rajin shalat, maka kita tidak mungkin mendapat bencana. Jika memang kita orang beriman, maka bencana itulah ujian kita.

Ibnu Athaillah menasihatkan, “Sebenarnya kesusahan dari bencana yang menimpamu akan menjadi ringan, apabila kamu sudah mengetahui bahwa Allah Ta‘ala sedang mengujimu. Sebab Dialah yang sedang mencoba kamu melalui qadar-Nya. Dia juga yang telah mengarahkan kamu untuk mengadakan pilihan yang paling baik.”

Apabila kita memahami bahwasanya suatu cobaan dari Allah diterima dengan ridha hati dan dipahami pula sebagai anugerah, maka kita akan menerimanya tidak dengan hati sedih, bahkan akan menjadi sesuatu yang sangat ringan. Allah memberi cobaan kepada para hamba-Nya, tidaklah berarti Allah membenci, akan tetapi Allah Ta‘ala menunjukkan kasih sayang dengan memperhatikan hamba yang dicoba itu. Demikian pula, Allah memberi kesempatan kepada para hamba untuk berikhtiar sepenuh hati, agar segala yang menimpanya mendapatkan jalan keluar dengan pertolongan dan ijin Allah. Allah juga mengingatkan kita tentang hakikat sebuah permasalahan dalam firman-Nya:

وَعَسٰىۤ أَنْ تَكْرَهُوْا شَيْـئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّـكُمْ وَعَسٰىۤ أَنْ تُحِبُّوْا شَيْـئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّـكُمْ وَٱللهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لاَتَعْلَمُوْنَ

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui. (QS al-Baqarah [2]: 216)

Abu Ali ad-Daqqaq berkata, “Orang yang selalu mendapat taufiq dari Allah SWT ialah mereka yang terpelihara ibadahnya, dan terjaga imannya di saat menghadapi ujian dan cobaan dari-Nya. Orang yang selalu menjaga ibadahnya dengan mengendalikan kehendak hawa nafsunya, maka imannya pun akan terpelihara, dan jiwanya akan menjadi tenang menghadapi setiap ujian dari Allah Ta‘ala.”

Seorang ulama menerangkan, “Seorang hamba hendaklah dapat merasakan pemberian Allah sebagai anugerah. Dengan demikian ia pun harus dapat merasakan cobaan dari Allah sebagai anugerah kasih sayang dari-Nya. Hikmah seorang hamba dalam keadaan kesusahan atau sedang tertimpa bencana adalah ia akan bertambah dekat kepada Allah. Dengan dekatnya si hamba kepada-Nya, maka akan berlimpahlah kasih sayang kepada si hamba. Itulah anugerah yang tiada taranya. Orang yang keimanannya tebal akan menerima setiap bencana selain sebagai ujian atas keimanan, juga meyakini bahwa Allah menunjukkan kasih sayang dan rahmat-Nya. Hal itu sebagai bukti bahwa Allah adalah Rabb (Pengasuh atau Pendidik) alam semesta dan seluruh makhluk-Nya.”

M. Quraish Shihab menjelaskan, “Nalar tak dapat menembus semua dimensi. Seringkali ketika ia memandang sesuatu secara mikro, dinilainya buruk, jahat dan tidak adil. Akan tetapi, jika dipandangnya secara makro dan menyeluruh, justru ia merupakan unsur keindahan, kebaikan dan keadilan. Bukankah jika pandangan hanya ditujukan kepada tahi lalat di wajah seorang wanita, ia akan terlihat buruk? Sebaliknya, bila wajah dipandang secara menyeluruh, maka tahi lalat tadi justru menjadi unsur utama kecantikannya.”

“Bukankah jika kita hanya melihat bagaimana kaki seseorang dipotong, kita akan menilainya kejam? Tetapi bila kita mengetahui bahwa tindakan itu dilakukan oleh seorang dokter yang mengamputasi pasiennya untuk menyelamatkan nyawa sang pasien, maka kita berterima kasih dan memujinya. Karena itu jangan memandang kebijaksanaan Allah secara mikro. Jikalau pun kita tidak mampu memandangnya secara makro, maka yakinilah bahwa ada himah di balik itu,” lanjut M. Quraish Shihab.

bercomentarlah dengan santun dan mendidik

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: