Banyak Orang Shalat, Mengapa Masih Ada Bencana? (2 of 2)

12 Agu

Oleh karena blog ini membahas tentang introspeksi diri (muhâsabah), maka kita anggap saja bencana yang menimpa kita sebagai peringatan dari Allah. Peringatan Allah mempunyai maksud agar kita menyadari kekeliruan dan kekurangan kita, sehingga kita segera memenuhi kewajiban kita.

Kalau terjadi gempa dan kita tidak siap sehingga terkena dampaknya, itu berarti bahwa Allah mengingatkan kita untuk selalu meningkatkan ilmu dan kewaspadaan. Marilah kita ingat lagi sabda Nabi saw. bahwa menuntut ilmu hukumnya wajib, dan harus dicari mulai buaian ibu sampai ke liang lahat. Juga agar kita senantiasa taat kepada-Nya, sehingga jika sewaktu-waktu kita dipanggil oleh-Nya, maka kita sudah mempersiapkan diri. Bukankah kita adalah milik Allah? Tidakkah itu berarti bahwa Allah berhak mengambil nyawa kita tanpa pemberitahuan terlebih dahulu? Bukankah sudah kita ketahui bersama bahwa banyak orang meninggal tanpa adanya tanda bahwa orang itu akan meninggal, seperti sakit keras yang tidak sembuh-sembuh? Bukankah banyak terjadi kecelakaan di jalan raya yang mengakibatkan korban meninggal seketika? Itulah peringatan Allah agar kita senantiasa menambah wawasan, ilmu, pengalaman, kehati-hatian dan ibadah kepada-Nya.

Jika terjadi banjir dan penyebabnya adalah penggundulan hutan atau berkurangnya daerah resapan air serta penyaluran air yang kurang tepat, itu artinya kita dingatkan oleh Allah agar bersahabat dengan alam. Kita diingatkan Allah bahwa kita adalah khalifah di muka bumi ini. Berikut ini penjelasan M. Qurais Shihab tentang prinsip kekhalifahan.

Kekhalifahan menuntut adanya interaksi antara manusia dengan sesama dan manusia dengan alam.

Kekhalifahan mengandung arti pengayoman, pemeliharaan serta pembimbingan agar setiap makhluk mencapai tujuan penciptaannya.

Kekhalifahan mengharuskan kita menjadi manusia yang bertanggung jawab, sehingga tidak melakukan tindak perusakan. Dengan kata lain, setiap perusakan terhadap lingkungan harus dinilai sebagai perusakan pada diri kita sendiri. Jika ini kita abaikan, maka akan tampaklah kerusakan di bumi yang kita diami ini.

ظَهَرَ ٱلْفَسَـادُ ِفى ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ بِمَا كَسَـبَتْ أَيْدِى ٱلنَّاِس لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ ٱلَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ

Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia. (QS ar-Rûm [30]: 41)

Dalam pandangan Islam, seseorang tidak dibenarkan mengambil buah sebelum matang, atau memetik bunga sebelum mekar, karena hal ini berarti tidak memberi kesempatan kepada makhluk untuk mencapai tujuan penciptaannya.

Binatang, tumbuhan dan benda-benda tak bernyawa semuanya diciptakan oleh Allah dan menjadi milik-Nya. Keyakinan ini mengantarkan kita untuk menyadari bahwa semuanya adalah “umat” Allah yang harus diperlakukan secara wajar dan baik. Al-Qurthubi menjelaskan dalam tafsirnya, bahwa semua itu tidak boleh diperlakukan secara aniaya.

Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat (juga) seperti kamu. Tiadalah Kami alpakan sesuatupun di dalam Al-Kitab, kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan. (QS al-An‘âm [6]: 38)

Bahwa semuanya adalah milik Allah, mengantarkan kita kepada kesadaran bahwa apa pun yang berada di dalam genggaman tangan kita, tidak lain kecuali amanat yang harus dipertanggungjawabkan.

“Setiap jengkal tanah yang terhampar di bumi, setiap angin sepoi yang berhembus di udara dan setiap tetes hujan yang tercurah dari langit akan dimintakan pertanggungjawaban manusia menyangkut pemeliharaan dan pemanfaatannya.” Demikianlah kandungan penjelasan Nabi saw. tentang firman Allah:

ثُمَّ لَتُسْـئَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ ٱلنَّعِيْمِ

Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu). (QS at-Takâtsur [102]: 8)

Dengan demikian bukan saja dituntut agar tidak alpa dan angkuh terhadap sumber daya yang dimilikinya, melainkan juga dituntut untuk memperhatikan apa yang sebenarnya dikehendaki oleh Pemilik (Allah) menyangkut apa yang berada di sekitar manusia.

مَا خَلَقْنَا ٱلسَّمٰوٰتِ وَٱْلأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَاۤ إِلاَّ بِٱلْحَقِّ وَأَجَلٍ مُّسَمًّى

Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya, melainkan dengan (tujuan) yang benar dan dalam waktu yang ditentukan. (QS al-Ahqâf [46]: 3)

Firman Allah tersebut mengundang seluruh manusia untuk tidak hanya memikirkan kepentingan diri sendiri, kelompok, bangsa dan jenisnya saja (sesama manusia); melainkan juga harus berpikir dan bersikap demi kemaslahatan semua pihak. Kita tidak boleh bersikap sebagai penakluk alam atau berlaku sewenang-wenang terhadapnya. Memang, istilah penaklukan alam tidak dikenal dalam ajaran Islam. Istilah itu muncul dari pandangan mitos Yunani yang beranggapan bahwa benda-benda alam merupakan dewa-dewa yang memusuhi manusia, sehingga harus ditaklukkan.

Menurut Al-Qur’an, yang menundukkan alam adalah Allah. Kita tidak sedikit pun mempunyai kemampuan kecuali berkat anugerah Allah kepada kita.

سُبْحٰنَ ٱلَّذِيْ سَخَّرَ لَنَا هٰذَا وَمَا كُنَّا لَهُ ُ مُقْرِنِيْنَ

Maha Suci Tuhan yang telah menundukkan semua ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya. (QS az-Zukhruf [43]: 13)

Jika demikian, berarti kita tidak mencari kemenangan, tetapi keselarasan dengan alam. Keduanya tunduk kepada Allah, sehingga kita harus bersahabat dengan alam.

Al-Qur’an menekankan agar kita meneladani Nabi Muhammad saw. yang membawa rahmat untuk seluruh alam (segala sesuatu). Untuk menyebarkan rahmat itu, Rasulullah bahkan memberi nama semua yang menjadi milik pribadinya, sekalipun benda-benda itu tak bernyawa. “Nama” memberikan kesan adanya kepribadian, sedangkan kesan itu mengantarkan kepada kesadaran untuk bersahabat dengan pemilik nama.

Di samping prinsip kekhalifahan yang disebutkan di atas, masih ada lagi prinsip taskhir, yang berarti penundukan.

Dan Dialah, Allah yang menundukkan lautan (untukmu), agar kamu dapat memakan daripadanya daging yang segar (ikan), dan kamu mengeluarkan dari lautan itu perhiasan yang kamu pakai; dan kamu melihat bahtera berlayar padanya, dan supaya kamu mencari (keuntungan) dari karunia-Nya, dan supaya kamu bersyukur. (QS an-Nahl [16]: 14)

Dan Dia (Allah) menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai rahmat) dari-Nya. (QS al-Jâtsiyah [45]: 13)

Ini menunjukkan bahwa alam raya telah ditundukkan Allah untuk manusia. Kita dapat memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya. Namun pada saat yang sama, kita tidak boleh merendahkan diri terhadap segala sesuatu yang telah ditundukkan Allah untuk kita, berapa pun harga benda-benda itu. Kita tidak boleh diperbudak oleh benda-benda sehingga mengorbankan kepentingan kita sendiri. Dalam hal ini, kita dituntut untuk selalu mengingat-ingat, bahwa kita boleh meraih apa pun asalkan yang kita raih serta cara meraihnya tdak mengorbankan kepentingan di akhirat kelak.

Marilah kita perhatikan lagi masa Rasulullah saw. dan Khulafa’ ar-Rasyidin. Masa itu adalah bagian paling gemilang dari sejarah kita. Masa itu adalah tahi lalat indah di dahi zaman, mutiara putih di mahkota kehidupan, dan bulan purnama yang menyinari seluruh permukaan bumi. Semua itu terjadi karena pada masa itu, perintah Allah ditaati dan semua perbuatan serta perkataan seseorang sesuai dengan aturan-aturan Allah. Mereka mempunyai budi pekerti yang luhur sebagaimana suri teladan mulia, Rasulullah Muhammad saw.

كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنُ

Budi pekerti Nabi saw. adalah Al-Qur’an. (HR Ahmad)

إِنَّمَا بُعِثْتُ ِلأُتَمِّمَ مَكَارِمَ اْلأَخْـلاَقِ

Aku hanya diutus untuk menyempurnakan akhalak yang mulia. (HR Malik)

مَامِنْ شَيْئٍ أَثْقَلُ فِي ِميْزَانِ الْمُؤْمِنِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ حُسْنِ الْخُـلُقِ

Tidak ada sesuatu yang lebih berat dalam timbangan (amal) seorang mukmin pada hari Kiamat, melebihi akhlak yang luhur. (HR Tirmidzi)

Agar dalam bimbingan-Nya selalu, marilah kita bersama-sama berdoa kepada Allah:

اللَّهُمَّ أَعِنِّيْ عَلَى دِيْنِكَ بِدُنْيَايَ وَعَلَى آخِرَتِي بِتَقْوَايَ وَوَفِّقْنِي لِتَهْذِيْبِ أَخْلاَقِ نَفْسِي وَتَلْطِيْفِ كَثَافَتِهَا

Ya Allah, bantulah hamba dalam hal agama dengan dunia hamba, bantu pula hamba menyangkut kehidupan akhirat dengan ketakwaan hamba, anugerahi pula hamba kemampuan untuk meluhurkan akhlak dan memperhalus budi hamba, amin.

2 Tanggapan to “Banyak Orang Shalat, Mengapa Masih Ada Bencana? (2 of 2)”

  1. Gendhis Van Java Agustus 13, 2013 pada 8:17 pm #

    Hadir pak kyai….
    🙂

bercomentarlah dengan santun dan mendidik

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: