Mendustakan Nikmat?!

12 Agu

M. Quraish Shihab menerangkan bahwa nikmat diartikan oleh sementara ulama sebagai “segala sesuatu yang berlebih dari modal.” Lalu, adakah manusia memiliki sesuatu sebagai modal? Jawabnya, “Tidak.” Bukankah hidupnya sendiri adalah anugerah Allah?

هَلْ أَتَى عَلَى الْإِنْسَانِ حِيْنٌ مِنَ الدَّهْرِ لَمْ يَكُنْ شَيْئًا مَذْكُوْرًا

Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut? (QS al-Insân [76]: 1)

كَيْفَ تَكْفُرُوْنَ بِاللهِ وَكُنْتُمْ أَمْوَاتًا فَأَحْياَكُمْ ثُمَّ يُمِيْتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيْكُمْ ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُوْنَ

Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nyalah kamu dikembalikan. (QS al-Baqarah [2]: 28)

Semua nikmat berasal dari Allah, karena Allah adalah Dzat Yang Maha Memberi Nikmat (Al-Mun‘im).

وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللهِ

Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya). (QS an-Nahl [16]: 53)

Dengan semua nikmat yang telah dianugerahkan Allah, kita ditanya oleh-Nya,

فَبِأَيِّ آَلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

“Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS ar-Rahmân [55]: 13, 16, 18, 21, 23, 25, 28, 30, 32, 34, 36, 38, 40, 42, 45, 47, 49, 51, 53, 55, 57, 59, 61, 63, 65, 67, 69, 71, 73, 75, 77)

Para ulama menganalisis jumlah pengulangan ayat (31x) dan mengelompokkannya:

Delapan pertanyaan berkaitan dengan nikmat dalam kehidupan di dunia, antara lain nikmat pengajaran Al-Qur’an, pengajaran berekspresi, langit, bumi, matahari, lautan, tumbuh-tumbuhan dan sebagainya.
Tujuh pertanyaan berkaitan dengan ancaman siksa neraka di akhirat nanti. Perlu diingat bahwa ancaman adalah bagian dari pemeliharaan dan pendidikan, serta merupakan salah satu nikmat Allah.
Delapan pertanyaan berkaitan dengan nikmat yang diperoleh di surga pertama.
Delapan pertanyaan berhubungan dengan nikmat di surga kedua.

Dari hasil tersebut, para ulama menyusun semacam “rumus”, yaitu siapa yang mampu mensyukuri nikmat-nikmat Allah yang disebutkan dalam rangkaian delapan pertanyaan pertama—syukur seperti makna yang dikemukakan di atas—maka ia akan selamat dari ketujuh pintu neraka yang disebut dalam ancaman dalam tujuh pertanyaan berikutnya. Sekaligus dia dapat memilih pintu-pintu mana saja dari kedelapan pintu surga, baik surga pertama maupun surga kedua, baik surga (kenikmatan duniawi) maupun kenikmatan ukhrawi.

Dengan demikian, repetisi pertanyaan di 31 ayat tersebut adalah renungan, nasihat dan peringatan bagi kita.

Namun, kiranya jarang sekali bahkan mungkin tak ada di antara kita yang merasa diri telah mendustakan nikmat yang telah dianugerahkan Allah.

Bisa juga terjadi, kita sudah merasa dan mengakui telah mendustakan nikmat Allah, namun hanya berupa tulisan dan perkataan, tak ada langkah kongkret yang kita lakukan ‘tuk memperbaiki diri. Entah mengapa! Kondisi kita persis seperti sindiran umum, “Kalau cuma ngomong, anak TK pun bisa. Buktikan dong!”

Mari kita perhatikan salah satu nikmat Allah, yaitu jantung. Detak jantung ditimbulkan oleh jantung itu sendiri, bukan bersandar kepada bagian tubuh lainnya. Itu kenapa, ketika kita tidur pun—saat banyak organ tubuh lainnya beristirahat—jantung tetap berdetak.

Untuk lebih memahami kehebatan anugerah Allah, mari kita buat jantung buatan. Dengan demikian, bila ada seseorang rusak jantungnya, cukup diganti dengan jantung buatan ini. Ada dua kelemahan jantung buatan ini, yaitu:

Bagaimana agar jantung tersebut terus berdetak? Disuplai saja dengan baterei seperti hand phone. Jika baterei habis, harus di-charge. Jika saat ini banyak terdapat hot spot, dengan jantung buatan ini harus ada charger spot di mana-mana. Bisa juga menggunakan sensor elektronik untuk mengontrol detak jantung dan juga aliran darah yang mengalir ke dalamnya, sebagaimana penemuan ilmuwan Perancis. Dengan konsep ini pun, sensor harus tetap diperhatikan sensitivitasnya.
Jika hendak mendekati orang yang kita segani/cintai, degup jantung cenderung tetap; tak berubah. Tak ada rasa deg-degan, darah berdesir dan sejenisnya.

Subhanallâh. Betapa besar nikmat Allah kepada kita. Lantas, apa yang telah kita lakukan sebagai bukti bahwa kita tidak mendustakan nikmat jantung tersebut? Mari merenung sejenak!

. . . . . . .
. . . . . . .
. . . . . . .

Di Tafsir Ibnu Jarir ath-Thabari dijelaskan bahwa آلاء bisa pula dimaknai “kekuasaan”. Berikut ini penjelasan di tafsir tersebut:

حدثني يونس، قال: أخبرنا ابن وهب، قال: قال ابن زيد في قوله: ( فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ ) قال: الآلاء: القدرة، فبأيّ آلائه تكذّب خلقكم كذا وكذا، فبأيّ قُدرة الله تكذّبان أيها الثَّقَلان، الجنّ والإنس.

Jadi, Allah mengajukan pertanyaan kepada kita, “Maka, kekuasaan Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”

Adakah kita hendak mengingkari kekuasaan Allah?
Adakah kita hendak melupakan kekuasaan Allah?
Adakah kita hendak mengabaikan kekuasaan Allah?
Adakah kita hendak meremehkan kekuasaan Allah?

Jika kita menjawab “Tidak,” mari periksa lagi apa saja yang kita kerjakan setiap hari. Benarkah jawaban kita sesuai dengan kenyataan? Mari kita rinci tiap 15 menit. Mengapa 15 menit? Karena kalau rentang waktu melebar, biasanya terlihat kegiatan kita padat sekali. Oleh karena itu, 15 menit adalah rentang waktu yang lebih fair dalam menilai kesibukan kita sehari-hari.

Mari kita catat, sedang apakah kita saat pukul:

07:00 – 07:15
07:15 – 07:30
07:30 – 07:45
07:45 – 08:00
dan seterusnya sampai dengan pukul 07:00 hari berikutnya

bercomentarlah dengan santun dan mendidik

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: