Hakekat Ibadah

15 Agu

S: Apakah pengertian ibadah itu?
J: Ulama ahli tahqiq menjelaskan, bahwa ibadah menurut agama ialah suatu aktifitas yang di lakukan dengan sepenuh kerendahan hati (ketundukan) disertai I’tikad (keyakinan) ketuhanan dzat yang ditunduki, atau salah satu dari ciri-ciri ketuhanan, seperti kemampuan mendatangkan manfaat atau madlorot dengan sendiri-Nya. Jika tidak disertai dengan I’tikad (keyakinan) seperti itu, maka aktifitas tersebut sama sekali bukan ibadah, sekalipun berupa perbuatan sujud, apalagi selain sujud. Allah swt. telah menunjukan tentang hal ini dengan memerintahkan para Malaikat agar mereka bersujud kepada Nabi Adam, dan mereka sujud kepadanya. Dikisahkan juga, bahwa Nabi Allah bernama Ya’qub, istri dan anak-anaknya sujud kepada Nabi Yusuf.
Allah berfirman :
“Dan mereka (semuanya) merebahkan diri seraya sujud kepada Yusuf. (Q.S. Yusuf:100).
Al-Hafidz Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya men-jelaskan, tekah bersujud kepada Yusuf kedua orang tuanya dan saudara-saudaranya, mereka ini berjumlah sebelas orang. Perbuatan sujud kepada selain Allah ini dalam syari’at mereka masih di bolehkan, yaitu dalam syari’at Nabi Adam as. Sampai Nabi Isa as. Namun dalam agama Islam syare’at Nabi Muhammad  ini di haramkan. Sujud hanya boleh dilakukan ke hadlirat Allah swt. Di dalam hadits di sebutkan:
“Sesungguhnya Muadz pergi ke Syam dan menjumpai orang-orang disana sujud kepada para uskup. Ketika kembali dari Syam, ia sujud kepada Raslullah , kemudian beliau bersabda : “ Apa ini, hai Muadz ?” Ia menjawab, “Sesungguhnya saya melihat orang-orang di Syam sujud kepada para uskup mereka, dan engkau lebih berhak untuk di sujudi. Rasulullah  bersabda, “Andaikata saya boleh memerintahkan seseorang bersujud kepada orang lain, tentu saya memerintahkan wanita bersujud kepada suaminya.” (H.R. Imam At-Turmudzi).
Maksudnya adalah, sujud kepada selain Allah dibolehkan hanya dalam Syari’at mereka. Tetapi dalam syari’at Nabi Muhammad  tidak dibolehkan.
Apabila sujud kepada selain Allah merupakan ibadah mutlak, maka pastilah sujud seperti yang telah di terangkan di atas tidak dibolehkan dalam syari’at nabi siapapun, karena hal itu merupakan kekufuran. Dan tidak ada perbedaan tentang kekufuran dalam semua syare’at, dan Allah tidak pernah perintah berbuat kekufuran sepanjang masa. Dia berfirman:
“Dia tidak meridloi kekafiran bagi hamba-Nya.” (Q.S. Az-Zumar: 7)
Dengan demikian, maka dapat dimengerti, bahwa sujud dan bentuk-bentuk merendahkan diri (ketundukan) menurut syara’ bukanlah bentuk ibadah, kecuali disertai dengan keyakinan ketuhanan atau unsur ketuhanan dzat yang direndahi/ ditunduki. Seperti sujud orang-orang musyrik di hadapan patung-patung mereka dan permohonan mereka patung-patung tersebut, karena mereka ini meyakini ke-tuhanan patung-patung itu dan kemampuannya memberi manfaat dan madlorot. Mereka ini kafir karena keyakininnya itu. Orang-orang musrik ini menganggap, bahwa Allah adalah tuhan paling besar dan patung-patung yang mereka sembah memiliki sifat ketuhanan yang mereka miliki, maka mereka (patung-patung sesembahan orang musrik) pasti memiliki kemampuan melaksanakan kehendak Allah, dan pertolongan mereka (patung) dapat diterima, tidak dapat di tolak dan tidak bergantuing pada idzin Allah. Hal itu adalah batil dan Allah menolak apa yang mereka (orang-orang musyrik) percaya, seperti ditunjukan dalam ayat :
“Atau siapakah dia yang menjadi tentara bagimu yang akan menolongmu selain daripada Allah yang maha pemurah?” (Q.S. Al-Mulk: 20)
“Atau adakah mereka mempunyai tuhan-tuhan yang dapat memelihara mereka dari (adzab) Kami. Tuhan-itu tidak sanggup menolong diri mereka sendiri?” (Q.S. Al-Anbiya’: 43)
Adapun tindakan orang muslim mencari wasilah (perantara) kepada Allah, permohonan syafa’at dengan Rasulullah  dalam berdoa kepada-Nya, ssemuanya dengan memohon pertolongan kepada-Nya. Nadzarnya dan pe-nyembelihan binatang yang ia lakukan dengan maksud bersedekah yang pahalanya diniatkan untuk salah seorang nabi atau wali, dan tindakannya menyentuh atau me-ngelilingi kuburnya semuanya sama sekali bukanlah termasuk ibadah kepada selain Allah, karena tidak ada seorangpun kaum muslimin yang meyakini ketuhanan selain Allah atau mempercayai kemampuan selain Allah dalam memberi manfaat, madloirot atau pengaruh apapun.
S: Mengapa sebagian orang berani mengkafirkan orang Islam?
J: ketahuilah, sesungguhnya kekeliruan golongan orang yang berani mengkafirkan orang Islam adalah karena mereka berpendapat :”Setiap ibadah kepada selain Allah adalah syirik.”Ucapan (kaidah) inio sekalipun benar dan dimengerti oleh kalangan orang awam dan khusus (terpelajar), namun mereka (orang yang berani mengkafirkan orang Islam) tetap sesat dan menyesatkan, karena atas dasar (kaidah) ini mereka membuat beberapa perkara yang merusak dan tuduhan-tuduhan palsu, seperti anggapan mereka, bahwa setiap pemanggilan terhadap orang yang telah mati atau melaksanakan nadzar menyembelih binatang untuk shodaqoh yang pahalanya dihadiahkan kepada seseorang nabu atau wali, thawaf dan menyentuh sebuah kuburan adalah ibadah kepada selain Allah dan pelakunya adalah kafir dan musyrik. Ini adalah suatu kebodohan dan kekeliruan yang nyata dan berlawanan dengan pemahaman golongan yang haq dan madzhab yang benar. Hal ini disebabkan mereka, golongan yang gampang mengkafirkan orang itu tidak mengerti arti ibadah dan hakekatnya menurut syara’, sebagaimana yang telah diterangkan diatas, yaitu melakukan suatu tindakan dengan kerendahan diri (ketundukan) yang penuh disertai dengan keyakinan ketuhanan dzat yang direndahi diri (ditunduki) atau salah satu ciri ketuhanan padanya, seperti kemampuan memberi manfaat atau madlorot.

Pengukuhan Syafaat
S: Apakah syafaat yang diyakini ahli tauhid itu?
J: Syafaat yang dipercaya oleh ahli tauhid ialah doa orang yang memberi syafaat kepada orang yang diberi syafaat dan dikabulkan oleh Allah dengan anugrah-Nya kepada orang yang dikehendaki-Nya.
S: Apakah syafa’at itu dibolehkan, dan apa dalilnya?
J: Ya, syafa’at itu dibolehkan. Dalilnya adalah firman Allah swt. dalam al-Qur’an:
“Dan mereka tiada memberi syafa’at melainkan kepada orang yang diridloi Allah.” (QS. al-Anbiya’: 28).
“Dan berapa banyaknya malaikat di langit, syafaat mereka sedikitpun tidak berguna, kecuali sesudah Allah mengijinkan bagi orang yang dikehendaki dan diridhai (Nya).” (QS. an-Najm: 26).
S: Apakah syafa’at yang dilarang oleh al-Qur’an?
J: Syafa’at yang diingkari dan dilarang oleh al-Qur’an ialah syafa’at yang mengandung kemusyrikan yang dipercaya oleh orang-orang musyrik, yaitu syafa’at yang terlepas dari izin Allah dan ridlo-Nya. Orang-orang musyrik itu ber-pendapat, bahwa syafa’at patung tuhan mereka itu pasti, tidak dapat dielakkan dan terlepas dari izin Allah swt. Adapun syafa’at dengan izin dan ridlo Allah dari hamba-hamba-Nya yang sholeh kepada orang-orang ahli tauhid yang maksiat, maka tidak dilarang, bahkan mempercayainya bagian dari ajaran agama, sebab termasuk do’a, dan Allah swt. mengabulkan do’a orang-orang yang beriman serta berbuat amal-amal baik dan Dia selalu menambah anugerah-Nya kepada mereka.

bercomentarlah dengan santun dan mendidik

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: