Keharusan Mengikuti Jama’ah Umat Islam dan Ulama’ Salaf Yang Sholeh

15 Agu

S: Apa yang harus dilakukan oleh setiap orang Islam ketika terjadi perbedaan?
J: Ketahuilah, bahwa Rasulullah  benar-benar telah me-merintahkan menetapi golongan mayoritas umat Islam, ketika terjadi ikhtilaf (perselisihan). Beliau memberitahukan, sesungguhnya umatnya terpelihara dari persepakatan sesat atau salah dalam urusan agama. Didalam beberapa hadits, beliau menjelaskan tentang hal ini :
“Sesungguhnya umatku tidak dapat bersepakatan membuat kesesatan. Apabila kamu semua melihat perselisihan, maka kamu harus menetapi golongan terbesar.”
Dari Ibnu Umar r.a. dari Nabi  beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak menghimpunkan umatku untuk membuat kesesatan selama-lamanya. Kekuatan Allah itu disertakan pada jama’ah, maka ikutilah golongan paling besar (banyak). Barang siapa yang memencilkan diri, maka pasti terpencil dakam neraka.” (H.R. At-Turmudzi/Al-Hakim)
Rasulullah  bersabda: “Saya telah memohon kepada Tuhanku Allah, agar tidak menghimpunkan umatku bersepakat atas suatu kesesatan, dan dia memenuhi permohonanku itu kepadaku. (H.R. Imam Ahmad)
Para Ulama mengatakan, bahwa dengan ucapan Alhamdulillah, golongan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah sejak zaman permulaan sampai kini senantiasa merupakan golongan terbesar. Dengan demikian, maka tidak salah, bahwa golongan Ahlus Sunnah merupakan golongan yang selamat yang tetap berpegang padaAl-Qur’an dan As-Sunnah (hadits) dan apa yang di ikuti oleh para shohabat, tabi’in dan pemuka-pemuka para imam ahli ijtihad yang mereka ini merupakan generasi terdahulu dari umat Nabi Muhammad .
Golongan Ahlus Sunnah inilah yang di isyaratkan dalam sabda Nabi Muhammad  :
“Sesungguhnya Bani Israil berpecah menjadi 72 aliran, dan umatku akan berpecah menjadi 73 aliran, semuanya masuk dalam neraka kecuali satu aliran.” Para sahabat bertana : ‘Siapakah satu aliran itu, ya Rasulullah?’ Beliau bersabda : ‘Siapa yang menetapi apa yang aku dan sahabat-sahabatku menetapinya.’” (H.R. At-Turmudzi dan Al-Baihaqi)
S: Apa yang harus dilakukan oleh orang yang belum mencapai tingkatan ijtihad?
J: Setiap orangmu’min yang mengikuti syari’at Nabi Muhammad  wajib mempercayai apa yang diterangkan oleh ayat-ayat al-Qur’an dan as-Sunnah yang tegas dan jelas. Dalam hal seperti ini, ia harus berpegangan ucapan ulama-ulama yang terkenal di kalangan orang-orang khusus dan awam, sebagaimana imam-imam yang berjumlah empat orang, yaitu: Imam as-Syafi’i, Imam Malik, Imam Abu Hanifah, Imam Ahmad bin Hanbal dan imam selain mereka. Orang yang taqlid kepada salah seorang dari mereka dalam beramal dengan dalil kitab al-Qur’an dan as-Sunnah yang mereka pahami, menurut Allah orang itu selamat dalam taqlid tersebut, kerena Allah telah memperkenankan para ahli ijtihad agar berijtihad, dan orang ahli taqlid untuk bertaqlid.
Dia berfirman:
“Dan kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang kami beri wahyu kepada mereka; Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (QS. an-Nahl: 43).
Maka, jelaslah bahwa orang yang bukan ahli ijtihad harus taqlid kepada salah seorang dari imam ahli ijtihad. Itulah jalan orang-orang mu’min. Dan orang yang bukan ahli ijtihad itu seharusnya tidak mendakwakan ijtihad dan mengambil hukum-hukum dari al-Qur’an dan as-Sunnah secara langsung tanpa membutuhkan taqlid kepada para imam ahli ijtihad, karena sejak zaman sahabat dan tabi’in hukum-hukum dan kaidah-kaidah Islam telah tersebut dari al-Qur’an dan as-Sunnah telah sempurna dan atas dasar hukum dan kaidah tersebut kitab-kitab ushul dan furu’ telah disusun, sehingga bagi generasi sesudah mereka cukup merujuk pada hukum-hukum tersebut dan taqlid kepada para ulama yang bobot keilmuannya telah diketahui oleh kalangan orang-orang khusus dan awam.
S: Apa manfaat ikhtilaf antara para imam ahli ijtihad?
J: Perlu diingat, bahwa ikhtilaf yang terjadi antara para imam ahli ijtihad itu merupakan suatu rahmat dari Allah swt. untuk umat ini. Sesungguhnya mereka itu tidak berbeda pendapat dalam masalah-masalah ushul (pokok). Perbedaan diantara mereka hanya terbatas pada masalah furu’ karena tidak ada ketetapan nash yang qoth’i tentang hukum masalah-masalah tersebut. Ikhtilaf dalam masalah-masalah seperti itu membuat kemudahan dan kelonggaran bagi semua orang serta membebaskan mereka dari kesulitan, kebingungan dan keputusasaan yang hal itu sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh Allah swt. sebelumnya, berdasar-kan firmanNya:
“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (QS. al-Baqarah: 185).
“Dan dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan.”(QS. Al-Hajj: 78)
Di sebutkan juga dalam suatu hadits Nabi  :
“ Perbedaan umatku adalah suatu rahmat.”
Hadits ini ditakhrij oleh syaikh al Muqoddasi dalam kitab Al-Hujjah dan di kutip oleh As Suyuthi dalam kitab Al-khosois Al Kubro.
Imam Al-Khatib dari Ismail bin Abu al-Mujalid meriwayatkan bahwa sesungguhnya khalifah Harun al-Rasyid berkata kepada imam Malik bin Anas, “hai abu Abdillah, kami akan menulis kitab ini (Al-Muwattho’) dan kami menyebarkannya ke seluruh negara Islam. “Imam malik berkata, “Hai Amirul mukminin, sesungguhnya ikhtilaf diantara Ulama itu merupakan rahmat untuk umat ini, masing-masing (ulama) mengikuti hadits yang paling shahih menurutnya, masing-masing mengikuti petunjuk dan masing-masing menghendaki ridlo Allah.
Hendaknya diketahui, bahwa ulama yang berselisih pendapat dalam masalah-masalah furu’, mereka itulah yang diisyaratkan dalam firman Allah swt :
“Mereka senantiasa berselisih pendapat. Kecuali orang-orang ang diberi rahmat oleh tuhanmu. “(QS. Hud:118-119)
Mereka itulah ulama yang dirahmati Allah, dan tentu saja ikhtilaf mereka merupakan rahmat.
Adapun orang-orang yang berbeda pendapat dalam masalah-masalah ushul atau dasar agama, maka bukanlah orang-orang yang dirahmati dan bukan pula orang-orang yang diridloi kecuali mereka yang sesuai dengan kebenaran (haq), yaitu orang-orang Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang tetap berpegang pada apa yang diamalkan oleh Nabi  dan para sahabat beliau.

Bid’ah dan Pembagiannya
S: Berapakah pembagaian bid’ah itu?
J: Para ulama mengklasifikasikan bid’ah menjadi dua bagian, yaitu Bid’ah Hasanah dan Bid’ah Qabihah.
S: Apa Bid’ah Hasanah itu?
J: Bid’ah Hasanah adalah apa saja yang dipandang oleh para imam yang sesuai dengan al-Qur’an dan as-Sunnah dalam hal kemanfaatan dan kemaslahatan. Seperti pengumpulan al-Qur’an dalam satu muskhaf, berkumpulnya orang-orang untuk sholat tarawih di bulan Ramadlan, Adzan awal pada hari jum’at dan mengadakan pesantren dan sekolah, serta semua kebaikan yang tidak diketahui pada zaman Nabi  semuanya adalah Bi’dah Hasanah (bid’ah yang baik) dan orang yang mengerjakanna diberi pahala. Dasarnya adalah sabda Nabi :
“Barangsiapa membuat suatu perilaku (perbuatan) yang baik dalam Islam, maka ia mendapat pahala perbuatan baik itu dan pahala orang yang mengamalkannya tanpa mengurangi sedikitpun dari pahala-pahala mereka.” (HR. Imam Muslim).
S: Apa Bid’ah yang tercela yang diperingatkan oleh Rasul  agar kita menghindarinya?
J: Bid’ah yang tercela adalah setiap amalan yang bertentangan nash-nash al-Qur’an dan as-Sunnah atau yang menentang ijma’ umat Islam, seperti madzhab-madzhab yang sesat dan akidah-akidah yang menyimpang yang berlainan dengan akidah-akidah yang dipegang oleh golongan Ahlus Sunnah.
S: Apa dasarnya?
J: Dasarnya adalah hadits-hadits yang menerangkan tentang tercelanya bid’ah, seperti hadits:
“Setiap perkara baru (yang dimunculkan) adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat, dan setiap kesesatan adalah di neraka.”
Maksud perkara baru (yang dimunculkan) dalam hadits diatas adalah semua perkara baru yang batil yang tidak diridloi oleh Allah dan Rasul-Nya. Dalilnya adalah hadits Nabi :
“Barangsiapa membuat suatu bid’ah (perkara baru) yang sesat yang menyebabkan Allah dan Rasul-Nya tidak ridlo, maka ia berdosa dan mendapat dosa-dosa orang yang mengamalkannya yang dosa-dosa itu tidak mengurangi dosa-dosa mereka.” (HR. at-Turmudzi dan Ibnu Majah).
S: Apa komentar ulama tentang hadits-hadits shohih berikut ini?
“Kamu semua harus berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah al-Khulafa’ ar-Rasyidin yang mendapat petunjuk. Gigitlah dengan geraham, takutlah kamu semua pada hal yang diada-adakan, sebab setiap yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat, dan setiap kesesatan adalah di neraka.”
J: Para ulama memberikan penjelasan, bahwa hadits ini termasuk hadits umum (‘amm) yang di takhsish. Yang di maksud hal-hal yang diadakan (muhdatsat) dalam hadits adalah hal-hal yang baru yang dibuat-buat yang batil dan bid’ah-bid’ah yang tercela yang tidak memiliki dasar dalam hukum syara’. Bid’ah inilah yang di larang. Berbeda dengan bid’ah yang mempunyai dasar dalam hukum syara’. Bid’ah ini adalah bid’ah yang terpuji, karena ia adalah bid’ah hasanah, dan termasuk sunnah Khulafa’ur Rasidin serta sunnah imam-imam yang mendapat petunjuk. Ungkapan “setiap bid’ah” (kullu bid’atun) tidak menghalangi adanya hadits tersebut ‘am yang di takhsish. Bahkan kata kullu ini termasuk takhsish, seperti firman Allah (Al-Ahqaf: 25). Maksudnya segala sesuatu yang dapat dirusak. Adapun yang tidak dapat dirusak berarti tidak masuk pada ungkapan ini.

bercomentarlah dengan santun dan mendidik

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: