Kehidupan Para Nabi ‘Alaihimus Salam

15 Agu

S: Apakah nabi-nabi itu hidup di dalam kiburnya?
J: Nabi-nabi dan juga orang-orang yang mati syahid itu hidup di dalam kubur-kubur mereka dengan kehidupan alam barzah, mereka mengetahui situasi dan kondisi alam ini menurut kehendak Allah swt. Al-Qur’an menjelaskan tentang hidup orang-orang yang mati syahid di alam barzah. Allah berfirman:
“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu ) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.” (QS. Al-Baqarah: 154).
Tidak diragukan lagi bahwa hidup para nabi alaihimus salam dan semua pewarisnya dari kalangan sahabat dan auliya’ itu lebih sempurna daripada hidup para syuhada’ karena derajat para nabi dan pewarisnya lebih tinggi daripada para syuhada’ berdasarkan firman Allah swt:
“Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. dan mereka Itulah teman yang sebaik-baiknya.” (QS. An-Nisa’: 69).
S: Apakah ada sunnah yang tegas menerangkan kehidupan para Nabi alaihimus salam di kubur?
J: Ya, ada hadits-hadits yang shohih yang menerangkan hidup para nabi dalam kubur, dan bumi tidak memakan jasad mereka, seperti hadits:
Sesungguhnya Nabi  bersabda, “Sesungguhnya hari yang paling mulia adalah hari Jum’at, sebab bacaan sholawatmu itu disuguhkan kepada saya.” Para sahabat bertanya, “Bagaimana mungkin sholawat kami disuguhkan kepada Anda, padahal Anda telah hancur?”, beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah mengharamkan bumi memakan jasad para nabi.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Turmudzi).
Ada juga hadits yang menjelaskan bahwa mereka melakukan sholat dan amal-amal kebaikan seperti yang dilakukan pada waktu hidup mereka.
Para nabi itu hidup di dalam kubur mereka dalam dalam sholat. (HR. Imam al-Baihaqi).
Para ulama mengatakan bahwa hadits-hadits yang menerangkan sholat para nabi di kubur dan semisalnya tersebut sama sekali tidak bertentangan dengan keterangan bahwa akhirat bukanlah tempat menjalankan kewajiban dan amal. Amal perbuatan kebaikan yang mereka lakukan di alam kubur jelas bukan kearena menjalani kewajiban, tetapi untuk kesenangan (taladdzud), juga tidak bertentangan dengan hadits Nabi :
“Tak seorangpun yang mengucapkan salam kepada saya, kecuali Allah mengembalikan ruh kepada saya sampai saya menjawab salam itu.”
Arti mengembalikan ruh adalah mengembalikan ruh dan suatu aspek yang membuat Rasulullah  merasakan atau mengetahui umatnya mengucapkan salam kepada beliau. Ini berarti mengungkapkan sebagian dari keseluruhan.

bercomentarlah dengan santun dan mendidik

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: