Permohonan Pertolongan

15 Agu

S: Apa arti Istiqhotsh itu?
J: Istighotsah ialah permintaan tolong dan bantuan oleh seseorang kepada orang yang bisa membantu memenuhi hajat atau menolak bahaya dalam situasi yang kritis atau lainnya.
S: Bolehkah meminta bantuan kepada selain Allah?
J: Meminta bantuan dan pertolongan kepada selain Allah itu boleh dengan keyakinan bahwa makhluk yang dimintai pertolongan itu sebatas sebagai sebab dan perantara saja. Pertolongan sekalipun pada hakekatnya hanya dari Allah, namun tidak menafikan bahwa Allah menjadikan beberapa sebab dan perantara untuk pertolongan-Nya itu yang telah disiapkan.
Dalilnya adalah hadits Nabi :
“Allah selalu memberi pertolongan hamba selagi si hamba itu selalu dalam memberi pertolongan saudaranya.” (HR. Imam Muslim).
“Dan hendaknya engkau menolong orang-orang yang meminta tolong dan menunjukkan orang sesat.” (HR. Imam Abu Dawud)
Beliau dalam hadits di atas menisbatkan dan menyandarkan pemberian pertolongan kepada hamba dan menganjurkan hamba-hamba Allah saling memberi pertolongan. Orang yang meminta pertolongan kepada selain Allah itu tidak meminta kepadanya agar ia menciptakan atau membuat sesuatu, tapi hanya bermaksud agar orang yang dimintai tolong itu mendo’akan kepada Allah untuknya (yang meminta) dalam membebaskan dirinya dari kesulitan atau lainnya.
S: Apa dalil disyari’atkannya Istighotsah?
J: Dalilnya adalah hadits-hadits Nabi , antara lain:
Sesungguhnya Nabi  bersabda, “Sesungguhnya di hari kiamat nanti matahari berada sangat dekat dengan manusia, sehingga keringat membanjir setinggi telinga. Ketika manusia dalam keadaan seperti itu, maka mereka meminta pertolongan Nabi Adam, kemudian Nabi Musa, lalu kepada Nabi Muhammad .” (HR. Imam al-Bukhari).
Hadits di atas adalah dalil yang paling tegas disyari’at-kannya istighotsah (meminta pertolongan) kepada selain Allah.
Dalam hadits lain yang diriwayatkan Imam at-Thobrani disebutkan:
Sesungguhnya Nabi  bersabda, “Apabila salah seorang di antara kamu tersesat di jalan atau apabila salah seorang di antara kamu hendak meminta tolong sedangkan ia berada di tempat yang tiada sahabat atau orang yang baik hati, maka ucapkanlah, ‘Hai hamba-hamba Allah, tolonglah aku.’ Dalam sebuah riwayat lain diceritakan dengan redaksi, ‘Tolonglah aku.’ Sesungguhnya Allah itu mempunyai hamba-hamba yang tidak kalian lihat.
Hadits ini dengan jelas menunjukkan dibolehkannya memanggil-manggil untuk memohon bantuan kepada orang-orang yang tidak terlihat yang hidup maupun yang mati.
Imam as-Sayyid Ahmad Zaini Dahlan dalam kitab Khulashotul Kalam menegaskan, “Madzhab Ahli as-Sunnah wa al-Jama’ah membolehkan tawassul dan istighotsah (meminta bantuan) dengan orang-orang yang hidup dan orang-orang yang telah tiada, karena kita tidak meyakini adanya pengaruh manfaat atau madlorot kecuali milik Allah. Hanya Dia yang memilikinya dan tiada sekutu bagi-Nya. Para nabi tidak memiliki kemampuan membuat apapun, mereka hanya diambil berkahnya dan dimintai bantuan karena kedudukannya sebagai orang-orang yang dicintai Allah swt. Adapun orang-orang yang membedakan antara orang-orang hidup dan mati, mereka itu berarti mempunyai kepercayaan bahwa yang mempunyai kemampuan membuat sesuatu hanyalah orang-orang yang hidup, sedang yang mati tidak. Dan kita golongan Ahli as-Sunnah wa al-Jama’ah berkeyakinan bahwa hanya Allah Pencipta segala sesuatu.”
“Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu.” (QS. Az-Zumar: 62).
“Dan Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu.” (QS. As-Shaffat: 96).
S: Apa makna hadits, “Apabila kamu meminta, maka mintalah kepada Allah, dan jika minta pertolongan, maka mintalah pertolongan Allah”?
J: Hadits tersebut menjelaskan bahwa terkabulnya hajat dan pertolongan secara hakiki adalah dari Allah swt dan perlu diingat, bahwa dalam hukum Allah yang telah berlaku, bahwa Dia dalam memberi pertolongan kepada hamba-Nya adakalanya dengan perantaraan atau sebab, dan adakalanya tanpa sebab. Oleh sebab itu, meminta kepada selain Allah dan memohon bantuan kepadanya, dalam arti menjadikan-nya sebab turunnya pertolongan Allah itu boleh dengan syarat disertai keyakinan bahwa pada hakekatnya yang memberi adalah Allah, bukan lain-Nya. Dengan demikian, maka tidak benar menggunakan hadits tersebut sebagai dalil larangan istighotsah kepada selain Allah. Sebab apabila kita membawa hadits tersebut kepada makna bahwa istighotsah tidak boleh kecuali kepada Allah, maka kita menentang al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi  padahal Allah dan Rasul-Nya (Syar’i) telah menyandarkan pemberian pertolongan kepada selain-Nya juga dan menganjurkan hamba-hamba-Nya agar memberi pertolongan kepada sesamanya. Allah swt berfirman:
“Dan tolong menolonglah kemu dalam (mengerjakan) kebaijikan dan taqwa.” (QS. Al-Maidah: 2).
Baca kembali hadits-hadits yang telah disebutkan pada bahasan-bahasan sebelumnya.
S: Apa hukum bersuara keras meminta tolong kepada selain Allah?
J: Bersuara keras meminta bantuan pertolongan selain Allah, baik masih hidup atau sesudah meninggal dengan maksud supaya ia menghadap Allah dalam urusannya itu boleh menurut kesepakatan ulama dan imam-imam ahli ijtihad. Tak seorang pun dari mereka yang berpendapat makruh, apalagi syirik atau haram.
S: Apakah bersuara keras meminta tolong (nida’) itu termasuk penyembahan?
J: Para ulama berpendapat bahwa bersuara keras meminta pertolongan itu bukan penyembahan, kecuali disertai keyakinan bahwa yang dipanggil mampu dengan sendirinya membuat manfaat, madlorot atau dapat melaksanakan keinginan disamping Allah. Hal ini adalah syirik, karena kepercayaannya terhadap suatu sifat ketuhanan pada selain Allah. Adapun jika tidak disertai kepercayaan seperti itu, maka jelas bukan ibadah. Apabila ada orang bersuara keras memanggil atasannya atar menolongnya menghadapi orang dzalim atau agar membantunya membebaskan diri dari kesulitan sedangkan ia tidak meyakini bahwa atasannya itu tidak mempunyai kemampuan mendatangkan manfaat atau menolak bahaya, namun dalam kebiasaannya ia sepertinya telah dijadikan oleh Allah sebagai sebab menyelesaikan perkara yang dikehendaki-Nya, maka hal ini tidak berarti ibadah (penyembahan) kepadanya. Apabila bersuara keras meminta pertolongan itu merupakan penyembahan, maka pasti memanggil dengan keras orang hidup dan mati itu dilarang, karena keduanya sama dalam hal tidak berdayanya membuat pengaruh tanpa kekuasaan Allah. Dan tak seoran pun orang Islam yang melarangnya.
Imam Ibnu al-Qayyim meriwayatkan dalam kitab al-Kalim at-Thoyyib, bahwa sesungguhnya para sahabat dalam melawan orang-orang yang murtad dalam perang Yamamah syi’ar atau slogam mereka adalah Wa Muhammadaah (Ya Muhammad), padahal beliau telah wafat, tepatnya pada masa Khalifah Abu Bakar as-Shiddiq . Ada juga riwayat yang kuat yang disebutkan oleh Imam Ibnu al-Qayyim dalam kitab tersebut, bahwa Ibnu Abbas dan Ibnu Umar Radliyaalahu ‘anhuma berkata:
“Apabila kami salah seorang diantara kamu terserang penyakit mati rasa, maka panggilah Ya Muhammad.”
Al-Qadli ‘Iyadl dalam kitab as-Syifa’ menuturkan:
Sesungguhnya Abdullah bin Umar  kakinya terkena penyakit mati rasa, kemudian ia diomongi: “sebutlah orang yang paling kamu cintai, maka akan pulih.” Ia terus berteriak denan mengucapakan, ‘Oh Muhammad.’

bercomentarlah dengan santun dan mendidik

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: