Siapa Mengenal Dirinya, Maka Ia Mengenal Allah

15 Agu

S: Apa pengertian kalimat, “Siapa mengenal dirinya, maka mengenal Tuhannya.”
J: Pengertian kalimat “Siapa mengenal dirinya, maka mengenal Tuhannya” yang tersebut dalam Atsar, ialah mengenal diri sendiri merupakan salah satu cara mengenal Allah swt. apabila manusia seperti kita merenungi kelemahan dirinya, keterbatasannya, kebutuhannya dan ketidakberdayaannya mengambil kemanfaatan untuk dirinya serta menghindarkan bahaya darinya, maka ia akan mengetahui ia mempunyai Tuhan dan Pencipta yang mandiri dalam menciptakannya, mandiri dalam membantunya, mengatur dan mengendali-kannya, kemudian ia sadar bahwa ia hanyalah seorang hamba yang serta terbatas dan semua persoalanna di tangan lainnya, yang tiada lain adalah Allah, Yang Maha Mulia dan Maha Bijaksana.
Demikian juga halnya manusia jika mau berfikir tentang permulaan penciptaannya; ia asalnya tidak ada, lalu diwujudkan oleh Allah swt. dengan kemurahan-Nya, Allah menciptakannya dari setetes air hina dan nuthfah (zigot) yang busuk, kemudian membentuknya, membuka pendengaran dan penglihatannya hingga menjadikannya dalam bentuk yang sangat baik, memperindahnya dengan sifat-sifat mulia dan derajat-derajat yang tinggi baik bersifat keagamaan maupun keduniawian.
Allah swt. telah berfirman:
“Dan Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah.”
“Kemudian kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim).”
“Kemudian air mani itu kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu kami bungkus dengan daging. Kemudian kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta yang paling baik.” (QS. al-Mu’minun: 12-14).

Pengaruh Kekuasaan Allah SWT
S: Karena apa kita yakin adanya Allah swt.?
J: Kita yakin dan mantap bahwa Allah swt. itu ada, karena pengaruh-pengaruh kekuasaan-Nya dan bukti-bukti kebijaksanaan-Nya yang kita saksikan – sekalipun kita tidak melihat-Nya dengan mata kepala dan tidak mendapati hakikat-Nya dengan pikiran atau angan kita – sebab, di dalam benda buatan (makhluk) tersebut terdapat dilalah (petunjuk) terhadap khaliq (penciptanya) dan dalam keteraturannya terdapat tanda Sang Pembuat yang bijak. Demikian juga dengan seorang yang melihat sebuah bangunan yang menjulang tinggi, tentu ia mengerti bangunan itu pasti ada yang membuatnya. Barangsiapa yang melihat sebuah tenda yang berdiri di tanah lapang, maka ia mengerti bahwa kemah tersebut pasti ada yang mendirikan, sebagaimana juga orang yang melihat makhluk-makhluk di bumi dan langit akan mantap dan yakin bahwa semuanya ada yang membuatnya yang kemampuan dan sifat-sifat-Nya sangat sempurna.
Allah swt. berfirman:
“Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan, Dan langit, bagaimana ia ditinggikan?, Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan?, Dan bumi bagaimana ia dihamparkan?.” (QS. al-Ghasyiyah: 17-20).
“Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah malam; kami tanggalkan siang dari malam itu, Maka dengan serta merta mereka berada dalam kegelapan.. Dan matahari berjalan ditempat peredarannya. Demikianlah ketetapan yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. Dan Telah kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (Setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua. Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. dan masing-masing beredar pada garis edarnya. Dan suatu tanda (kebesaran Allah yang besar) bagi mereka adalah bahwa kami angkut keturunan mereka dalam bahtera yang penuh muatan. Dan kami ciptakan untuk mereka yang akan mereka kendarai seperti bahtera itu. Dan jika kami menghendaki niscaya kami tenggelamkan mereka, Maka tiadalah bagi mereka penolong dan tidak pula mereka diselamatkan. Tetapi (Kami selamatkan mereka) Karena rahmat yang besar dari kami dan untuk memberikan kesenangan hidup sampai kepada suatu ketika.” (QS. Yasiin: 37-44).
Ciptaan-ciptaan Allah swt. dan makhluk-makhlukNya di bumi dan langit semuanya menjadi saksi atas ke-Tuhan-anNya dan menegaskan ke-Esa-anNya. Semoga Allah memberi kebaikan kepada orang yang berkata:
Sungguh mengherankan, bagaimana Tuhan didurhakai, atau bagaimana orang yang ingkar mengingkari-Nya.
Dalam segala sesuatu ada tanda yang menunjukkan bahwa Tuhan itu hanya satu.
Dan Allah mempunyai pengaruh nyata dalam setiap gerak dan diam.
Sebagian ulama pernah ditanya tentang dalil keberadaan Allah swt, lalu ia menjawab; kotoran unta menunjukkan adanya unta, kotoran keledai menunjukkan adanya keledai, bekas tapak kaki di jalan menunjukkan adanya orang lewat disitu, dan langit yang memiliki bujur (zodiac), bumi yang memiliki banyak lintasan dan celah, dan laut yang memiliki banyak gelombang, semuanya menunjukkan Sang Pencipta Yang Maha Teliti.
Imam Abu Hanifah dalam sebuah dialog dengan orang-orang Atheisme mengatakan; “Apakah masuk akal, sebuah kapal yang meluncur di permukaan laut yang dalam, diterpa gelombang dahsyat dan angin kencang, sedangkan kapal tetap berjalan lurus tanpa nahkoda?” orang-orang Atheis itu menjawab; “Tidak, tidak dapat diterima akal.” Imam Abu Hanifah berkata: “Apabila hal itu tidak dapat diterima akal, bagaimana mungkin alam raya yang membentang atas dan bawah beserta kondisi yang beraneka ragam ini tanpa ada yang membuat?”
Perlu diingat, bahwa orang yang merenungkan bumi, langit dari keajaiban-keajaiban makhluk-makhluk di antara keduanya dan tidak mempercayai, bahwa semuanya tidak mempunyai Tuhan dan Pencipta, maka orang itu tidak sehat akal pikirannya dan gelap hatinya, ia mengalami desersi dan ia diselimuti kerusakan. Orang tersebut termasuk yang difirmankan oleh Allah swt. dalam ayat al-Qur’an:
“Dan Sesungguhnya kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. mereka Itulah orang-orang yang lalai.” (QS. al-A’raaf: 179).
Binatang-binatang ternak dan hewan-hewan lainnya, bahkan tumbuh-tumbuhan dan batu-batuan saja mengakui penciptanya sebagai Tuhan Yang Maha Esa, andaikata dapat berbicara, pasti mengungkapkan pengakuannya itu.
Allah swt berfirman:
“Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” (QS. al-Israa’: 44).
“Dan apakah mereka tidak memperhatikan segala sesuatu yang Telah diciptakan Allah yang bayangannya berbolak-balik ke kanan dan ke kiri dalam keadaan sujud kepada Allah, sedang mereka berendah diri?, Dan kepada Allah sajalah bersujud segala apa yang berada di langit dan semua makhluk yang melata di bumi dan (juga) para ma]aikat, sedang mereka (malaikat) tidak menyombongkan diri. Mereka takut kepada Tuhan mereka yang di atas mereka dan melaksanakan apa yang diperintahkan (kepada mereka). (QS. an-Nahl: 48-50).

bercomentarlah dengan santun dan mendidik

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: