Tawassul

15 Agu

S: Apa arti tawassul dengan walinya Allah?
J: Tawassul dengan walinya Allah swt. artinya menjadikan para kekasih Allah itu sebagai perantara menjuju Allah swt dalam mencapai hajat, karena kedudukan dan kehormatan di sisi Allah swt yang mereka miliki, disertai keyakinan bahwa mereka adalah ahmba dan makhluk Allah swt yang dijadikan oleh-Nya sebagai lambang kebaikan, barokah dan kunci pembuka rahmat. Pada hakekatnya, orang yang bertawassul itu tidak meminta hajatnya terkabulkan kecuali kepada Allah swt. dan tetap berkeyakinan bahwa Allah-lah Yang Maha Memberi dan Maha Menolak, bukan lain-Nya. Ia menuju kepada Allah swt dengan orang-orang yang dicintai Allah swt karena mereka lebih dekat kepada-Nya, dan Dia menerima do’a mereka dan syafa’atnya karena kecintaan-Nya kepada mereka dan karena cinta mereka kepada-Nya. Allah swt itu mencintai orang-orang yang baik dan orang-orang yang bertaqwa.
Dalam hadits Qudsi disebutkan:
“Hamba-Ku tidak henti-hentinya mendekatkan diri kepada Ku dengan ibadah-ibadah sunnah, sehingga Aku mencintainya. Apabila Aku mencintainya, maka Aku pendengarannya yang ia mendengar dengannya, dan penglihatannya yang ia melihat dengannya, tangannya yang ia memukul dengannya dan kakinya yang ia berjalan dengannya. Apabila ia memohon kepada-Ku, maka Aku memberinya, dan jika meminta perlindungan, maka Aku berikan perlindungan.
S: Apa hukum tawassul dengan orang-orang yang dikasihi oleh Allah?
J: Tawassul dengan orang-orang yang dicintai Allah, seperti nabi-nabi dan orang-orang yang sholeh itu boleh, berdasarkan ijma’ ulama kaum muslimin. Bahkan ia merupakan cara orang-orang mu’min yang diridloi. Tawassul itu telah dikenal sejak zaman dahulu dan sekarang.
S: Bagaimana halnya dengan orang yang beraggapan bahwa tawassul adalah syirik dan kufur dan pelakunya musyrik dan kafir?
J: Tidak dapat diteladani orang yang nyleneh dan terpisah dari jama’ah yang beranggapan bahwa tawassul adalah perbuatan syirik atau haram, lalu menghukumi musyrik orang-orang yang bertawassul. Ini jelas tidak benar dan batil, sebab anggapan seperti ini akan menimbulkan penilaian bahwa sebagian besar umat Islam telah membuat kesepaktan (ijma’) atas perkara yang haram atau kemusyrikan. Hal yang demikian adalah mustahil, karena umat Muhammad ini telah mendapat jaminan tidak mungkin membuat kesepakatan atas perbuatan sesat, berdasarkan hadits-hadits Rasulullah , seperti hadits:
“Saya memohon kepada Tuhanku Allah untuk tidak menghimpunkan umatku atas perkara sesat, dan Dia mengabulkan permohonan itu.” (HR. Ahmad dan at-Thobrani).
“Allah tidak menghimpunkan umatku bersepakat atas perkara sesat selama-lamanya.” (HR. Imam al-Hakim).
“Apa yang diyakini baik oleh orang-orang Islam maka menurut Allah juga baik.”
S: Apakah ada dalil al-Qur’an tentang tawassul?
J: Ya, ada. Adapun ayat al-Qur’an yang menunjukkan diboleh-kan tawassul adalah ayat (artinya):
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya.” (QS. Al-Maaidah: 35).
Ini adalah perintah dari Allah agar kita mencari wasilah (perantara), yaitu sesuatu yang telah ditetapkan oleh Allah sebagai sebab untuk mendekat kepada-Nya dan sampai pada terpenuhinya hajat dari-Nya.
S: Apakah tawassul itu terbatas pada amal perbuatan saja, tidak pada benda (Dzat)?
J: Tidak, kerena ayat al-Qur’an tersebut bersifat umum (‘amm) meliputi amal-amal perbuatan baik dan orang-orang sholeh , yakni dzat-dzat yang mulia, seperti Nabi  dan wali-wali Allah yang bertaqwa.
Adapun orang-orang yang berpendapat boleh bertawassul dengan amal perbuatan saja, sedangkan tawassul dengan dzat-dzat tidak boleh, dan ia membatasi maksud ayat pada pengertian pertama (tawassul dengan amal perbuatan), maka pendapat ini tidak berdasar, sebab ayat tersebut adalah mutlak. Bahkan membawa ayat tersebut kepada pengertian kedua (tawassul dengan dzat)itu lebih mendekati, sebab Allah dalam ayat itu memerintahkan taqwa dan mencari wasilah, sedangkan arti taqwa adalah mengerjakan perintah dan menjauhi larangan.apabila kata” ibtighoul wasilah” (mencari wasilah) kita artikan dengan amal-amal sholeh,berarti perintah dalam mencari wasilah hanyalah sekedar pengulangan dan pengukuhan. Tetapi jika lafadl “al wasilah” ditafsirkan dzat-dzat yang mulia, maka ia berarti yang asal, dan makna inilah yang lebih di utamakan atau didahulukan. Di samping itu, apabila tawassul itu boleh dengan amal-amal perbuatan baik, padahal amal-amal perbuatan merupakan sifat yang diciptakan, maka dzat-dzat yang diridloi oleh Allah lebih berhak dibolehkan, mengingat ketinggian tingkat ketaatan, keyakinan dan ma’rifat dzat-dzat itu kepada Allah swt. Allah swt berfirman:
“Sesungguhnya Jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.(QS.an-Nisa’: 64).
Ayat ini dengan jelas menerangkan dijadikannya Rasulullah  sebagai wasilah kepada Allah swt. Firman Allah “jaa-uuka” (mereka datang kepadamu) dan “wastaghfaro lahumu ar-rasulu” (dan Rasul memohonkan ampunan untuk mereka). Andaikata tidak demikian, maka apa manfaat kalimat “jaa-uuka”?
J: Apakah tawassul itu dibolehkan secara umum, baik dengan orang-orang yang hidup dan orang-orang yang telah mati?
S: Ya, dibolehkan secara umum, karena ayat tersebut juga umum (‘amm), ketika beliau masih hidup di dunia dan sesudah beliau wafat.
Telah dipastikan, bahwa para nabi dan para wali itu hidup dalam kubur mereka, dan arwah mereka di sisi Allah swt. Barangsiapa tawassul dengan mereka dan menghadap kepada mereka, maka mereka menghadap kepada Allah dalam rangka tercapainya permintaannya.
Dengan demikian, maka yang diminta adalah Allah. Dia-lah yang Berbuat dan yang Mencipta, bukan lain-Nya. Sesungguhnya kami golongan Ahli as-Sunnah wa al-Jama’ah tidak meyakini adanya kekuasaan, penciptaan, manfaat dan madlorot kecuali milik Allah Yang Maha Esa dan tiada sekutu bagi-Nya. Para nabi dan para wali tidak memiliki kekuasaan apapun. Mereka hanya diambil berkah dan dimintai bantuan orang yang dicintai Allah, karena mereka-lah Allah memberi rahmat kepada-hamba-Nya. Dalam hal ini, tidak ada perbedaan antara mereka yang masih hidup atau mereka yang sudah meninggal dunia. Yang Kuasa berbuat, dalam dua kodisi tersebut hakekatnya adalah Allah, bukan mereka yang hidup atau yang mati.
Adapun orang-orang yang membedakan antara tawassul dengan orang-orang yang masih hidup dan orang-orang yang telah meninggal, sepertinya mereka itu berkeyakinan bahwa orang-orang yang masih hidup memiliki kemampuan memberi pengaruh kepada orang lain sedangkan orang-orang yang telah meninggal tidak. Keyakinan seperti ini batil, sebab Allah-lah Pencipta segala sesuatu.
J: Apa dalil tawassul dengan orang-orang yang telah meninggal itu dibolehkan?
S: Dalilnya adalah firman Allah swt:
“Sesungguhnya Jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.(QS.an-Nisa’: 64).
Ayat di atas adalah umum (‘amm) mencakup pengertian ketika beliau masih hidup dan ketika sesudah wafat dan berpindahnya ke alam barzah.
Imam Ibnu al-Qayyim dalam kitab Zadul Ma’ad menyebutkan:
Dari Abu Sa’id al-Khudriy ia berkata, Rasulullah  bersabda, “Seseorang tidak keluar dari rumahnya hendak sholat dan membaca do’a:
اللهم إنّي أسألُكَ بِحقّ السآئليْنَ عليكَ وبِحقِّ ممْشَايَ هذَا إليكَ فإنّي لَم أخْرُجْ بَطَرًا وَلاَ أشَرًا ولا رِيَاءًا ولا سُمْعَةً، وإنّمَا خرَجْتُ اتِّقاء سخَطِكَ وابتِغَاءَ مرضَاتِكَ وأسألُكَ أن تُنْقِذَنِي مِنَ النَّار وأن تَغفِرَ لِي ذُنُوبِي فإنّه لاَ يغْفِرُ الذّنُوبَ إلاّ أنتَ.
kecuali Allah menugaskan 70.000 malaikat agar memohonkan ampunan untuk orang tersebut, dan Allah menatap orang-orang itu hingga selesai sholat.” (HR. Ibnu Majah).
Imam al-Baihaqi, Ibnu as-Sunni dan al-Hafidz Abu Nu’aim meriwayatkan bahwa doa Rasulullah ketika hendak keluar untuk menunaikan sholat adalah:
بَطَرًا وَلاَ أشَرًا ولا رِيَاءًا ولا سُمْعَةً، وإنّمَا خرَجْتُ اتِّقاء سخَطِكَ وابتِغَاءَ مرضَاتِكَ وأسألُكَ أن تُنْقِذَنِي مِنَ النَّار وأن تَغفِرَ لِي ذُنُوبِي فإنّه لاَ يغْفِرُ الذّنُوبَ إلاّ أنتَ.
Para ulama berkata, “Ini adalah tawassul yang jelas dengan semua hamba beriman yang hidup atau yang sudah mati. Rasulullah mengajarkan do’a ini kepada sahabat dan memerintahkannya membaca do’a ini. Dan semua orang salaf dan sekarang selalu berdo’a dengan do’a ini ketika hendak pergi sholat.”
Abu Nu’aim dalam kitab al-Ma’rifah, at-Thobrani dan Ibnu Majah mentakhrij hadits:
Dari Anas bin Malik  ia berkata, “Ketika Fatimah binti Asad, ibunda Ali bin Abi Thalib  meninggal dunia, maka sesungguhnya Nabi  berbaring di atas kuburannya dan bersabda: “Allah adalah Dzat yang Menghidupkan dan Mematikan, Dia adalah Maha Hidup, tidak mati. Ampunilah ibuku Fatimah binti Asad, ajarilah hujjah (jawaban) pertanyaan kubur dan lapangkan-lah kuburannya dengan hak Nabi-Mu dan nabi-nabi serta para rasul sebelumku, sesungguhnya Engkau Maha Penyayang.”
Maka hendaklah diperhatikan sabda beliau yang berbunyi: بحق الأنبياء من قبلي (dengan hak para nabi sebelumku).
J: Jika tawassul dengan orang-orang yang telah mati itu boleh, mengapa Khalifah Umar bin Khattab tawassul dengan al-Abbas, tidak dengan Nabi ?
S: Para ulama telah menjelaskan hal ini juga, mereka berkata, “Adapun tawassul Umar bin Khattab dengan al-Abbas  bukanlah dalil larangan tawassul dengan orang yang telah meninggal dunia, tawassul Umar bin Khattab  dengan al-Abbas tidak dengan Nabi  itu untuk menjelaskan kepada orang bahwa tawassul dengan selain Nabi itu boleh, tidak berdosa. Tentang mengapa dengan al-Abbas bukan dengan sahabat-sahabat lain, adalah untuk memperlihatkan kemuliaan ahli bait Rasulullah .
J: Apa dalilnya?
S: Dalilnya adalah perbuatan para sahabat. Mereka selalu dan terbiasa bertawassul dengan Rasulullah  setelah beliau wafat. Seperti yang diriwayatkan Imam al-Baihaqi dan Ibnu Abi Syaibah dengan sanad yang shohih:
Sesungguhnya orang-orang pada masa khilafah Umar bin Khattab  tertimpa paceklik karena kekurangan hujan. Kemudian Bilal bin al-Harits  datang ke kuburan Rasulullah  dan berkata, “Ya Rasulullah, mintakanlah hujan untuk umatmu karena mereka telah binasa.” Kemudian ketika Bilal tidur didatangi oleh Rasulullah  dan berkata: “Datanglah kepada Umar dan sampai-kan salamku kepadanya dan beritahukan kepaa mereka, bahwa mereka akan dituruni hujan. Bilal lalu datang kepada khalifah Umar dan menyampaikan berita tersebut. Umar mengangis dan orang-orang dituruni hujan.”
J: Di mana letak penggunaan dalil hadits tersebut?
S: Letak penggunaan dalil dari hadits tersebut adalah perbuat-an Bilal bin al-Harits, seorang sahabat Nabi  yang tidak diprotes oleh khalifah Umar maupun sahabat Nabi lainnya. Imam ad-Darimi juga mentakhrij sebuah hadits:
Sesungguhnya penduduk Madinah mengalami paceklik yang amat parah, karena langka hujan. Mereka mengadu kepada Aisyah r.a. dan ia berkata: “Lihatlah kamu semua ke kuburan Nabi , lalu buatlah lubang terbuka yang mengarah ke langit, sehingga antara kuburan beliau dan langit tidak ada atap yang mengahalanginya. Mereka melaksanakan perintah Aisyah, kemudian mereka dituruni huan yang sangat deras, hingga rumput-rumput tumbuh dan unta-unta menjadi gemuk.”
Ringkasnya, tawassul itu dibolehkan, baik dengan amal perbuatan yang baik maupun dengan hamba-hamba Allah yang sholeh, baik yang masih hidup atau yang sudah meninggal dunia. Bahkan tawassul itu telah berlaku sebelum Nabi Muhammad diciptakan.
J: Apa dalil bahwa tawassul terjadi sebelum Nabi Agung Muhammad  diciptakan?
S: Dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan dari Umar bin Khattab :
“Ketika Nabi Adam terpeleset melakukan kesalahan, maka berkata, “Hai Tuhanku, aku memohohn kepada-Mu dengan haq Muhammad, Engkau pasti mengampuni kesalahanku. Allah berfirman: “Bagaimana kamu mengetahui Muhammad, padahal belum Aku ciptakan?”, Nabi Adam berkata: “Hai Tuhanku, karena Engkau ketika menciptakanku dengan tangan kekuasaan-Mu dan meniupkan kepadaku ruh dari-Mu, aku mengangkat kepalaku kemudian aku melihat ke atas tiang-tiang Arsy tertulis:
لا إله إلاّ الله مُحمّدٌ رسُولُ الله
kemudian aku mengerti, sesungguhnya Engkau tidak menyandarkan ke nama-Mu keculai makhluk yang paling Engkau cintai.” Kemudian Allah berfirman: “Benar engkau, hai Adam. Muhammad adalah makhluk yang paling Aku cintai. Apabila kamu memohon kepada-Ku dengan hak Muhammad, maka Aku mengampunimu, dan andaikata tidak karena Muhammad, maka Aku tidak menciptakanmu.” (HR. al-Hakim, at-Thobrani dan al-Baihaqy).
Nabi Adam a.s adalah orang yang mula-mula tawassul dengan Nabi Muhammad . Imam Malik telah memberi anjuran tawassul kepada Khalifah al-Manshur yaitu ketika ia ditanya oleh Khalifah yang sedang berada di Masjid Nabawy: “Saya sebaiknya menghadap kiblat dan berdo’a atau menghadap Nabi ?” Imam Malik berkata kepada Khalifah, “Mengapa engakau memalingkan wajahmu dari beliau, padahal beliau adalah wasilahmu dan wasilah bapakku Nabi Adam a.s kepada Allah swt. Menghadaplah kepada beliau dan mohonlah pertolongan dengannya, Allah akan memberinya pertolongan dalam apa yang engkau minta.” Allah berfirman:
“Sesungguhnya Jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nisa’: 64).
Keterangan ini disebutkan oleh al-Qadli ‘Iyadl dalam kitab as-Syifa’.
J: Bagaimana cara tawassul?
S: Para ulama telah menerangkan bahwa tawassul dengan dzat-dzat yang mulia, seperti Nabi  para nabi dan hamba-hamba Allah yang sholeh itu ada tiga macam cara, yaitu:
1. Memohon (berdo’a) kepada Allah swt dengan meminta bantuan mereka. Contoh:
“Ya Allah, saya memohon kepada-Mu melalui Nabi-Mu Muhammad atau dengan hak beliau atas kamu atau saya manghadap kepada-Mu dengan Nabi  untuk…..”
2. Meminta kepada orang yang dijadikan wasilah agar ia memohon kepada Allah untukna agar terpenuhi hajat-hajatnya, seperti:
“Ya Rasulullah, mohonkanlah kepada Allah swt agar Dia menurunkan hujan kepada kami atau……”
3. Meminta sesuatu yang dibutuhkan kepada orang yang dijadikan wasilah, dan menyakininya hanya sebagai sebab Allah memenuhi permintaannya karena pertolongan orang yang dijadikan wasilah dan karena do’anya pula. Cara ketiga ini sebenarnya sama dengan cara kedua.
Tiga macam cara tawassul ini semuanya berdasarkan nash-nash yang shohih dan dalil-dalil yang jelas.
J: Apa dalil tawassul dengan cara yang pertama?
S: Dalil tawassul dengan cara yang pertama adalah hadits Nabi  antara lain:
Dari Utsman bin Hunaif  sesungguhnya seorang laki-laki tuna netra datang kepada Nabi  dan berkata: “Ya Rasulullah, berdo’alah kepada Allah agar menyembuhkan saya.” Beliau bersabda: “Jika engkau mau, berdo’alah. Dan jika engkau mau, bersabarlah (dengan kebutaan) karena hal itu (sabar) lebih baik untuk kamu.” Laki-laki itu berkata: “Berdo’alah kepada Allah untuk saya, karena mataku benar-benar memberatkan (merepotkan) ku.” Kemudia Nabi  memerintahkan si laki-laki itu agar berwudlu, sholat dua raka’at lalu berdo’a dengan do’a seperti dalam hadits, yang arti do’a itu adalah: “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu dan menghadap kepada-Mu melalui Nabi Muhammad, Nabi pembawa rahmat. Ya Muhammad, sesungguhnya aku melalui kamu menghadap kepada Tuhanku dalamurusan hajatku ini, agar hajat itu dikabulkan kepadaku. Ya Allah, tolonglah beliau dalam urusanku.” Si laki-laki itu melakukan apa yang diperintahkan Rasulullah  kemudian pulang dalam keadaan dapat melihat.”
Renungkanlah, bagaimana Nabi  tidak berdo’a sendiri untuk kesembuhan mata si tuna netra, tetapi beliau mengajarkan kepadanya cara berdo’a dan menghadap kepada Allah melalui kedudukan diri beliau dan memohon kepada Allah dengan meminta bantuan dengan beliau. Dalam hal ini, ada dalil yang jelas tentang kesunnahan tawassul dan meminta bantuan dengan dzat Nabi Muhammad . Ajaran tawassul dalam do’a yang disebutkan pada hadits tersebut tidak khusus untuk si laki-laki tuna netra itu saja, tetapi umum untuk umatnya seluruhnya, baik semasa beliau masih hidup atau sesudah wafat. Para sahabat, tabi’in dan orang-orang sesudah mereka dahulu sampai sekarang senantiasa menggunakan do’a ajaran Rasulullah  tersebut agar dikabulkan hajatnya oleh Allah swt.
Imam at-Thabroni dan al-Baihaqi meriwayatkan, “Sesungguhnya rawi hadits tersebut, yaitu Utsman bin Hunaif mengajarkan do’a tersebut kepada orang lain yang pernah mempunyai hajat kepada Khalifah Utsman bin Affan sesudah Rasulullah  wafat.” Pemahaman rawi dalam memahami hadits itu dapat dijadikan hujjah sebagaimana diuraikan dalam ilmu ushul.
S: Apa dalil tawassul dengan cara kedua?
J: Dalilnya banyak, diantaranya:
Dari Anas  ia berkata: Ketika Nabi  berkhutbah pada hari jum’at, tiba-tiba ada seorang laki-laki masuk dari pintu masjid dan langsung menghadap kepada Nabi  seraya berteriak: “Hai Rasulullah, harta benda telah binasa dan jalan-jalan terputus, maka berdo’alah kepada Allah supaya memberi hujan kepada kami. Rasulullah  lalu mengangkat tangan dan berdo’a: “Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami (tiga kali).” Anas berkata: ‘Demi Allah, kami melihat awan di langit dan kami hari ini dituruni hujan begitu juga hari berikutnya hingga jum’at berikutnya.’ Kemudian si laki-laki itu atau orang lainnya datang dan berkata: “Ya Rasulullah, rumah-rumah ambruk dan jalan-jalan terputus.” Kemudian beliau mengangkat kedua tangannya dan berdo’a: “Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan di atas kami.” Kemudian awan terbelah dan kami keluar berjalan di bawah sinar matahari.
Di dalam hadits yang shohih ini ada petunjuk atau dalil bahwa setiap orang disamping boleh berdo’a (memohon) kepada Allah secara langsung, boleh juga menggunakan perantara orang-orang yang dicintai Allah yang dijadikan oleh-Nya sebagai sebab terpenuhinya hajat hamba-hamba-Nya. Disamping itu, karena manusia ketika melihat dirinya masih berlumur dosa yang membuatnya jauh dari Allah yang tentu saja merasa layak ditolak permohonannya. Sebab itu, ia menghadap kepada Allah melalui orang-orang yang dicintai-Nya. Ia memohon kepada Allah dengan kedudukan dan kemuliaan para kekasih-Nya, agar Allah mengabulkan hajatnya karena hamba-hamba-Nya yang dicintai-Nya yang mereka itu tidak tahu apa-apa kecuali taat kepada-Nya.
S: Apa dalil tawassul dengan cara ketiga?
J: Dalilnya banyak, antara lain:
Dari Rabi’ah bin Malik al-Aslami  ia berkata: Nabi  bersabda kepadaku: “Mintalah apa saja yang kamu inginkan.” Saya berkata: “Saya memohon kepada-Mu dapat bersamamu di surga.” Beliau bersabda: “Selain itu?”, saya berkata: “Hanya itu.” Kemudian beliau bersabda: “Bantulah saya untuk memenuhi keinginanmu dengan memperbanyak sujud.” (HR. Imam Muslim).
“Sesungguhnya Qatadah bin Nu’man pada waktu perang Uhud matanya terkena panah sampai keluar ke pipinya, lalu datang kepada Nabi  dan berkata: “Mataku, Ya Rasulullah.” Beliau memberinya pilihan antara sabar dengan sakit pada matanya itu dan beliau berdo’a untuk kesembuhannya. Qatadah memilih agar Rasulullah menyembuhkannya melalui do’a. kemudian beliau mengembalikan mata Qatadah ke tampatnya semula dengan tangan beliau yang mulia sehingga kembali normal seperti semula.”

bercomentarlah dengan santun dan mendidik

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: