Benarkah madhab syafiiyah tidak beraqidah seperti Imam Syafii??

18 Agu

Wahabi berkata: ”Tidak pantas bagi seseorang untuk membela Madzhab Syafi’i dlm mslh fiqh ttpi tdk mengikutinya dlm mslh Ushul (Aqidah)”.(Al- Intishar li Ashabil Hadits.9).
Yaa..sbuah mutiara yg tiada ternilai bagi Ahlussunnah oleh krn keindahan rupa dan warnanya.Namun bagi Ahlul-ahwa merupakan sebuah pukulan mematikan yg mematahkan punggung- punggung mrk! Kalau saja mengikuti Imam Syafi’i dlm fiqh ttpi tdk mengikuti Aqidah bliau mrupakan hal yg tdk pantas(krn seolah imam Syafi’i hnya paham fiqh dan tdk memahami Aqidah yg benar),maka bagaimana pula halnya dgn org2 yg hanya sekedar menisbatkan diri pd bliau tetapi menyelisihi bliau dlm fiqh maupun ushul? Aq yakin..bkn tdk pantas lg ttpi sungguh tdk berakal!

Komentar: Cuba jelaskan apa arti mazhab kepada saya….?? Kemudian jelaskan pula apa bidang mazhab Syafi’e dalam bidang ilmu Islam…?? Mazhab Syafi’e dalam lapangan keilmuan Islam adalah sebuah mazhab fiqh. anda Faham atau tidak bagaimana letak kedudukan fiqh di banding ilmu-ilmu islam yang lainnya dalam tradisi keilmuan Islam?

Ilmu-ilmu agama terbagi kepada macam2 bagian. Ilmu fiqh adalah cabang dari keseluruhan bidang ilmu agama yang ada. Mazhab Syafi’e adalah satu mazhab yang berkaitan dengan ilmu fiqh yang melibatkan perbahasan hukum hakam syariat, dan bukan berkaitan aqidah. JAdi, fahamilah dahulu kedudukan “mazhab Syafi’e” dalam lapangan keilmuan Islam dalam bidang apa…

Adapun aqidah Imam As-Syafi’e adalah aqidah Islam yang murni seperti aqidah Imam Al-Asy’ari itu juga adalah aqidah Islam yang murni. Tetapi, Imam Al-Asy’ari menyusun pembahasan aqidah lebih terperinci dan sistematik di banding Imam As-Syafi’e yang tidak membahas terhadap bidang aqidah Islam secara terperinci dan secara sustematik kerana memfokuskankan pembahasan dalam bidang fiqh. Oleh sebab itulah, bila dalam bidang ilmu aqidah, maka para ulama’ ahlus-sunnah menisbahkan diri kepada Imam Al-Asy’ari yang memfokuskan pembahasan dalam bidang aqidah Islam dan menjaganya daripada kesesatan orang-orang sesat dengan hujah dari sudut naql (Al-Quran dan As-Sunnah) dan akal, sbagaimana sebagian ulama yang menisbahkan diri kepada Imam As-Syafi’e dalam bidang fiqh.

Apapun perkataan anda, maka benarlah perkataan Imam As-Syafi’e r.a.: “Ilmu itu adalah kejahilan bagi orang-orang jahil”. Sebab, perlu memahami pembahasan secara menyeluruh dan dari awal. Kalau tidak, makin ia akan keliru

kita katakan, ulama’ Nusantara mengikut mazhab Al-Asy’ari dari sudut aqidah maksudnya adalah mengikuti metodologi Imam Al-Asy’ari dalam berhujah, pembahasan dan dalam mempertahankan aqidah Ahlus-Sunnah wal Jamaah yang tidak didapati dari Imam As-Syafi’e secara terperinci. Berbedanya rujukan kepada para imam yang berlainan bidang itu menunjukkan adanya pelbagai kemahiran para ulama’ dan pengkhususan mereka.

Kalau kita katakan, dari sudut hadith, kita merujuk Sahih Al-Bukhari karena itu yang paling utama dari sudut riwayat, namun beliau hanya melibatkan periwayatan hadith. Adapun dari sudut memahami sesuatu hadith, maka kita jarang temui penjelasan-penjelasan hadith daripada Imam Al-Bukhari melainkan sedikit. Oleh sebab itulah, dalam memahami hukum syariat dari hadith-hadith yang ada di dalamnya, maka kita lebih mengikuti imam-imam fiqh seperti Imam As-Syafi’e dan sebagainya di banding Imam Al-Bukhari. Ini bukan bererti Imam Al-Bukhari tidak faham hukum yang benarl, tapi beliau tidak terlibat membahas mengenainya secara terperici seperti Imam As-SYafi’e. Begitu juga ketika merujuk kepada Imam Al-Asy’ari dalam masalah aqidah, bukan karena Imam As-Syafi’e tidak mempunyai aqidah yang benar, tapi karena Imam Al-Asy’ari lebih banyak membahas masalah aqidah secara terperinci dengan susunan matodologi yang lengkap di banding Imam As-Syafi’e.

Jadi, tak ada istilah soal membeda2kan. Tapi, ini soal pengkhususan. Dalam urusan Sumber Manusia pun, kita faham, pengkhususan bukan berarti pemisahan. Tetapi pemohusan kepada sesuatu bidang secara khusus dan adanya kemahiran dalam bidang tertentu. Dalam bidang ilmu agama, ilmu itu dibagi secara pengkhususan, bukan secara terpisah-pisah karana setiap ilmu agama ada hubungan keterkaitan dan ada ahli khususnya.

Masalah zaman sekarang, ada sebagian golongan manusia mencuba menisbahkan kepada Imam As-Syafi’e suatu aqidah yang bukan aqidah Imam As-Syafi’e yang sebenarnya lalu mendakwa Imam Al-Asy’ari tidak mengikut Imam As-Syafi’e dalam aqidah bahkan mendakwa para ulama’ bermazhab Al-Asy’ari dalam aqidah (yang mana majoritas ulama’ bermazhab As-Syafi’e adalah mazhab Al-Asy’ari dalam aqidah) tidak mengikut aqidah Imam As-SYafi’e.

tidaklah dari zaman ke zaman, majoriasi ulama’ bermazhab Syafi’e dalam fiqh yang bermazhab Asy’ari dalam aqidah tidak sadar kalau aqidah Al-Asy’ari bertentangan dengan aqidah Imam As-Syafi’e. Ini tidak tepat. Kesimpulan seperti ini hanya dilakukan oleh orang-orang jahil zaman ini yang tidak faham sejarah tradisi ilmu diwarisi dari zaman ke zaman oleh para ulama’.

Kalau mau jujur mengkaji ,maka kita akan tau bahwa puncak kerusakan agama Kristin adalah karena mereka merujuk PAUL (SAUL) yang tidak mengambil femahaman “Bible” yang sebenarnya dari para ulama’ (ahli ilmu) dari kalangan pengikut Nabi Isa a.s. (the disciples). yaitu, dia pandai mentafsir perkataan Nabi Isa dengan femahaman sendiri. Akhirnya, dia sesat lalu menyesatkan orang lain. Sejarah kerusakan dan kepincangan agama Kristin berpuncak dari “tafsiran sendiri” terhadap nas agama mereka lalu menambah perkataan2 lain sehingga bercampur antara perkataaan Nabi dan perkataan tafsiran Paul dan sebagainya.

itulah bahaya dan kepincangan golongan yang belajar ilmu-ilmu agama dengan buku tanpa sanad keilmuan yang jelas. Para ulama’ Al-Asya’irah mengambil ilmu-ilmu agama daripada para ulama’ sebelum mereka dan sanad keilmuan mereka bersambung kepada para ulama’ Salaf secara jelas dalam kitab-kitab thabaqat dan faharis mereka. Hanyasaja dewasa ini, golongan jahil muncul mendakwa menyebarkan ilmu padahal mereka tidak lain hanyalah menyebarkan kejahilan generasi sebelum mereka yang terputus sanad keilmuannya daripada para ulama’ salaf, namun masih mengaku mengikut salaf.

Di sisi penilaian para ulama’ muktabar, ukuran keilmuan yang terputus ini adalah ukuran yang sangat lemah dalam penilaian ilmiah. Kita juga mempunyai karangan para ulama’ muktabar dalam menjelaskan kedudukan aqidah Imam As-Syafi’e r.a.. Majoritas ulama’ Syafi’iyyah berpegang dengan manhaj Al-Asy’ari dalam aqidah menunjukkan mereka yang memahami fiqh Imam As-Syafi’e juga menilai aqidah Imam Al-Asy’ari adalah sama dengan Imam As-Syafi’e, secara terperinci, lalu mereka memperjuangkan manhaj Al-Asy’ari tersebut.

Bisa di simak dalam kitab-kitab ulama’ muktabar seperti Al-Asma’ wa As-Sifat dan Manaqib As-Syafi’e oleh Imam Al-Baihaqi, Tabyiin Kazb Al-Muftari oleh Al-Hafiz Imam Ibn Asakir, Tabaqat Syafiiyyah oleh Imam As-Subki dan sebagainya. Para ulama’ Syafi’iyyah sudah semestinya lebih memahami aqidah Imam As-Syafi’e sebagaimana mereka memahami fiqh Imam As-Syafi’e. Hanya mereka [wahabi] saja yang tidak faham hakikat ini,tetapi sudah berani menipu orang-orang awam ,ini sebagaimana diisyaratkan oleh Imam Ibn Al-Jauzi dalam muqoddimah Daf Syubah At-Tasybih.

Institusi ulama islam’ tidak sama dengan pendetai2 Kristin. karena, pendetai2 Kristin sudah terputus sanad ilmu dan femahaman daripada Nabi Isa a.s., sedangkan para ulama’ Islam (majoritasnya, iaitu ahlus-sunnah) secara jelas mengambil femahaman agama daripada para ulama’ sebelum mereka dan bersambung sanad keilmuan dan femahaman mereka kepada Rasulullah s.a.w. dan para sahabat r.a.. Jadi, hanya orang2 awam dan jahil saja tidak melihat kedudukan yang sebenarnya dari institusi ulama’ dalam menjelaskan femahaman agama kepada orang2 awam.

Pertama sekali, secara ilmu dan hujah, saya berani menyatakan bahwa kebanyakan yang mengaku “Salafi” sebenarnya jauh daripada manhaj para ulama’ Salaf itu sendiri apakah dari sudut fiqh maupun aqidah. Jadi, kebanyakan pengaku “Salafi” ini mempunyai masalah tersendiri dalam memahami manhaj Salaf secara tepat dan sahih.

Kedua: Sebelum kemunculan golongan pengaku Salafi ini, apakah sebelum munculnya Muhammad Abdul Wahab, atau sebelum munculnya Ibn Taimiyyah sebelum itu, para ulama’ ahlus-sunnah versi majoritas ulama’ sudah sekian lama giat dalam dakwah kepada non-muslim. Sehingga, Islam datang ke Nusantara pun bukan hasil dakwah “pengaku Salafi”. Bahkan, ilmu Islam dikembangkan di indo pun hasil usaha para ulama’ Nusantara (kaum tua).

Bahkan, hingga hari ini, banyak para ulama’ ahlus-sunnah sebenarnya mengembangkan dakwah Islam . Adapun sebagian golongan pengaku Salafi masih terus sibuk membid’ahkan masalah khilafiyyah. Buat apa mengajak orang untuk masuk Islam dalam waktu yang sama menghukumi orang Islam yang mengamalkan amalan2 khilafiyyah sebagai orang sesat dan masuk neraka (bid’ah dholalah). Ini adalah suatu perkara yang tak bersendikan femahaman Islam yang sebenarnya. Dakwah bagusl, tapi menuduh sesat atau bid’ah dholalah bagi amalan2 yang para ulama’ berselisih pendapat mengenainya, mau buat apa mereka itu?

Di Eropah sendiri, sebagian golongan “ini” sibuk merampas masjid2 yang mana jemaahnya adalah dari kalangan Sufi yang dakwahnya berkembang pesat, hanya karena “menuduh” amalan2 mereka sebagai bid’ah dholalah. Bayangkanlah, umat Islam (golongan Sufi atau Asya’irah) di Barat khususnya sedang giat berdakwah dan mengumpulkan duit untuk membangun masjid2 utk jemaah2 Islam yang baru memeluk Islam, tetapi sebagian golongan sibuk menyusun agenda “merampas” masjid2 dari golongan yang mereka tuduh sebagai “sesat” dari kalangan golongan sufi atau Asya’irah.

Jadi, nilailah secara adil. Kita boleh lihat dari setiap sudut. Apa yang baik, bab dakwah, kita stuju dan dukong. Tapi kalau kerjanya membid’ahkan amalan2 khilafiyyah, menuduh sesat sesama muslim, kritik insititusi ulama’ as-sawad al-a’zhom dan sebagainya, itu penyakit besar dalam masyarakat Islam.

Silalah dakwah kepada non-muslim. Kami pun insya Allah laksanakan dakwah yang sama kepada femahaman Islam yang lebih jelas dan tepat. Adapun sikap menghukum bid’ah dalam masalah2 khilafiyyah, maka itulah yang membawa kepada perpecahan ummah. Semoga Allah s.w.t. mengampuni mereka dan seluruh umat Islam. Amiin…

http://abuhalim34.blogspot.com/2013/08/benarkah-madhab-syafiiyah-tidak.html

bercomentarlah dengan santun dan mendidik

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: