Korelasi Akidah dengan Tasawuf

25 Agu

بِسْــــــــــــــــــــــمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Korelasi Akidah dengan Tasawuf
يقول الشيخ أحمد زروق رحمه الله:
(التصوف علم قصد لإصلاح القلوب، وإفرادها لله تعالى عما سواه. والفقه لإصلاح العمل، وحفظ النظام، وظهور الحكمة بالأحكام. والأصول “علم التوحيد” لتحقيق المقدمات بالبراهين، وتحلية الإيمان
بالإيقان، كالطب لحفظ الأبدان، وكالنحو لإصلاح اللسان إلى غير ذلك)
قال سيد الطائفتين الإمام الجنيد رحمه الله:
(التصوف استعمال كل خلق سني، وترك كل خلق دني)

(التصوف كله أخلاق، فمن زاد عليك بالأخلاق زاد عليك بالتصوف)

وقال أبو الحسن الشاذلي رحمه الله:
(التصوف تدريب النفس على العبودية، وردها لأحكام الربوبية)

وقال ابن عجيبة رحمه الله:
(التصوف: هو علم يعرف به كيفية السلوك إلى حضرة ملك الملوك، وتصفية البواطن من الرذائل، وتحليتها بأنواع الفضائل، وأوله علم، ووسطه عمل، وآخره موهبة)
Dalam kaitannya dengan akidah, tasawuf berfungsi sebagai pemberi wawasan spiritual dalam pemahaman akidah. Penghayatan yang mendalam melalui hati terhadap akidah akan menjadikan perilaku seseorang lebih terhayati. Dengan demikian, tasawuf merupakan penyempurna akidah. Akidah juga berfungsi sebagai pengendali tasawuf. Ada korelasi yang tidak terpisahkan antara keduanya. Maka, jika muncul satu aliran atau kepercayaan baru baik aliran teologi atau tasawuf yang bertentangan dengan Al-Qur’an, sunnah, dan tidak pernah diriwayatkan ulama’ salaf maka harus ditolak. Kemunculan penyimpangan-penyimpangan ini lebih dikarenakan ketidakseimbangan antara tasawuf dengan akidah.

Tasawuf juga berfungsi sebagai pemberi kesadaran ruhaniah dalam perdebatan-perdebatan ilmu kalam atau ilmu tauhid (akidah). Kandungan ilmu kalam cenderung kepada rasional meskipun tetap memakai dalil naqliyah. Jika tidak diimbangi dengan kesadaran rohaniyah, maka ilmu kalam aqidah dapat bergerak ke arah yang lebih liberal dan bebas.

Tasawuf mempunyai pengaruh besar dalam ketauhidan. Misalnya jika rasa sabar tidak ada maka muncullah kekufuran. Jika rasa syukur sedikit lahirlah kegelapan. Begitu juga tauhid dapat memberikan kontribusi kepada tasawuf. Sebagai contoh jika cahaya tauhid lenyap muncullah penyakit-penyakit hati seperti ujub, congkak, riya’, dengki, hasud, dan sombong. Andai kita sadar bahwa hanya Allah saja yang memberi, niscaya rasa hasud dan dengki akan sirna. Kalau kita tahu kedudukan penghambaan diri, niscaya rasa sombong akan hilang. Jadi dapat disimpulkan bahwa tauhid atau akidah merupakan jenjang pertama menuju Ma’rifatullah. 

bercomentarlah dengan santun dan mendidik

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: