Penipuan dan kecurangan wahabi-salafi di dalam menolak riwayat pentakwilan imam Ahmad bin Hanbal

26 Agu

Kaum wahabi-salafi tidak akan pernah berhenti melakukan penipuan dan pen-distorsian terhadap ucapan-ucapan para ulama Ahlus sunnah demi mencari pembenaran hujjah-hujjah mereka.

Ketika mereka merasa terpojokkan dan bungkam seribu bahasa tak mampu menjawab dari hujjah imam Ahmad yang disodorkan Ahlus sunnah tentang bahwasanya imam Ahmad juga melakukan takwil, maka mereka tempuh cara licik yang menipu untuk mencari pembenaran. Di sini pembaca akan melihat sesungguhnya wahabi-salafi berhujjah hanyalah berdasarkan hawa nafsu..

Syubhat wahabi-salafi :

Pertama : Wahabi mengatakan bahwa riwayat imam Ahmad yang metakwil ayat :
وجاء ربك
“ Dan telah datang Tuhanmu “ Dengan takwilan : “ Dan telah datang pahala Tuhanmu “, adalah tidak kuat, atsar itu diriwayatkan oleh Hanbal bin Ishaq, sedangkan Ibnu Katsir dalam kitabnya Al-Bidayah wa An-Nihayah mengatakan atsar tersebut ma’lulah (cacat) karena Ishaq menyendiri dari lainnya dan menyelisihi riwayat yang lebih kuat dan masyhur dari imam Ahmad. Karena Ishaq walaupun tsiqah ia memiliki beberapa kekeliruan dan wahm (kesamaran) apa yang ia riwayatkan dari imam Ahmad.

Ibnu Rajab dalam fathul barinya mengatakan “ Riwayat itu sangat musykil (rumit) dan tidak meriwayatkannya seorang pun selain Hanbal, walaupun ia tsiqah akan tetapi ia terkadang sedikit wahm. Telah berbeda pendapat para ulama terdahulu tentang tafarrud (riwayat menyendiri)-nya dari imam Ahmad, apakah riwayatnya tsabit (kuat) atau tidak “.

Al-hafidz Adz-Dzahabi di dalam kitabnya as-Siyar an-Nubala mengtakan “ Dia memiliki masalah yang banyak dari riwayat imam Ahmad dengan menyendiri dan asing. Al-Ulaimi dalam kitabnya al-manhaj al-ahmad menukil ucapan Abu Bakar al-Khallal yang mengtakan “ Telah datang Hanbal dari imam Ahmad dengan masalah yang menjadi baik riwayatnya namun gharib sedikit, dan jika kamu melihat di dalam masalah-masalahnya, maka kamu akan bingung di dalam baik dan buruknya.

Sebagaimana banyak beredar dalam situs-situs mereka seperti http://www.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=108469, http://www.ajurry.com/vb/showthread.php?t=24356 dan situs lainnya.

Jawaban :

Benarkah alasan-alasan wahabi tersebut tentang periwayatan Hanbal ??

Perlu diketahui bahwa imam Hanbal adalah putra dari paman imam Ahmad bin Hanbal yang juga menjadi murid beliau.

Beliau imam Hanbal telah ditautsiq (ditisqahkan periwayatannya) oleh banyak ulama Hanabilah di antaranya Ibnu Aqil, Al-Qadhi Abi Ya’la, az-Zaghuni, Ibnu al-Jauzi, al-Faqih Ibnu Hamdan dan selain mereka.
Sekarang kita bongkar di mana letak kebodohan dan penipuan wahabi dari hujjah yang mereka lontarkan terkait riwayat di atas.

Mereka mengatas namakan imam Ibnu Katsir yang mengatakan riwayat tsb cacat dan tidak tsabit.

Kita jawab : Itu adalah suatu penipuan dan dusta belaka. Bagaimana tidak, sedangkan al-hafidz Ibnu Katsir sendiri telah menampilkan riwayat tersebut di kitabnya al-Bidayah wa an-Nihayah juz 10 halaman 354 sebagai berikut :

وكلامه في نفي التَّشبيه وتَرْك الخوضِ في الكلام والتّمسّك بما ورد في الكتاب والسنَّة عن النَّبي صلى الله عليه وسلَّم وعن أصحابه روى البيهقي عن الحاكم عن أبي عمرو ابن السمّاك عن حنبل أنَّ أحمد بن حنبل تأوّلَ قوله تعالى: (( وَجَاءَ رَبّكَ )) أنَّه جاء ثوابه ، ثمَّ قال البيهقي : وهذا إسناد لا غبار عليه.

“ Dan ucapan beliau (imam Ahmad) tersebut adalah tentang menafikan tasybih dan menjauhi pembahasan mendalam (tentang ayat mutasyabihat) dan berpegang teguh terhadap al-Quran dan sunnah dari Nabi saw dan para sahabatnya. Al-baihaqi meriwayatkan dari al-Hakim dari Abi Amr Ibnu as-sammak dari Hanbal bahwasanya imam Ahmad bin Hanbal mentakwil firman Allah Swt : “ Dan telah datang Tuhanmu “ dengan “ Telah dating pahala Tuhanmu “. Kemudian al-baihaqi mengatakan “ Isnad ini tidak ada debu sama sekali atasnya (sangat jelas) “.
Kita lihat scen kitab seperti diatas:

Al-Hafidz Ibnu Katsir setelah menukil ucapan imam Baihaqi tersebut tidak menjarh (menilai cacat) sedikitpun atas periwayatan tersebut bahkan tampak beliau menguatkan penilaian imam Baihaqi. Sebelum menampilkan riwayat imam Ahmad beliau mengtakan “ Dan ucapan beliau (imam Ahmad) tersebut adalah tentang menafikan tasybih dan menjauhi pembahasan mendalam (tentang ayat mutasyabihat) dan berpegang teguh terhadap al-Quran dan sunnah dari Nabi saw dan para sahabatnya..” kemudian seketika itu juga beliau langsung menyodorkan riwayat imam Ahmad tentang pentakwilan terhadap ayat tsb lalu beliau tidak melemahkan sedikitpun terhadap penilaian imam Baihaqi atau riwayatnya. Maka hal itu menunjukkan kesepakatan al-hafidz ibnu Katsir atas kesahihan riwayat tsb.

Ibnul Jauzi al-Hanbali juga menukil atsar tsb di dalam kitabnya Daf’us syubhah wat tasybih halaman 110 :

مالا بُدَّ مِن تأويله كقوله تعالى: ((وَجَاءَ رَبُّكَ)) ، أي جاء أمره. وقال أحمد بن حنبل: وإنَّما صرفه إلى ذلكَ أدلّة العقل ؛ فإنّه لا يجوز عليه الإنتقال

“ Di antara ayat yang harus ditakwil sepeti firman Allah Swt : “ Dan telah dating Tuhanmu “, maksudnya telah dating urusan Allah. Imam Ahmad bin Hanbal berkata “ Dan sesungguhnya mengharuskan untuk ditawkil demikian adalah karena dalil-dalil akal, Karena Allah tidak boleh disifati dengan intiqal (berpindah) “.
Lihat scen kitab dibawah ini:

Demikian telah menukil pula Ibnu Aqil, Al-Qadhi Abi Ya’la, Ibnu Hamdan dan lainnya. Bahkan Ibnu Taimiyyah telah menukil hujjah al-Qadhi Abi ya’la yang meriwayatkan atsar imam Ahmad tsb di dalam kitabnya “Majmu’ Fatawa” 16/405-406 walaupun setelah itu Ibnu Taimiyyah menolaknya.

Ibnu Hamdan al-Hanbali berkata :

وقد تأول أحمد آيات وأحاديث كآية النجوى وقوله أن ” يأتيهم الله” وقال قدرته وأمره وقوله “وجاء ربك ” قال: قدرته ذكرهما ابن الجوزي في المنهاج واختار هو إمرار الآيات كما جاءت من غير تفسير .
وتأول ابن عقيل كثيرا من الآيات والاخبار . وتأول أحمد قول النبي صلى الله عليه وسلم ” الحجر الاسود يمين الله في الارض ” ونحوه أ.هـ “نهاية المبتدئين

“ Imam Ahmad telah mentakwil beberapa ayat dan hadits seperti ayat an-Najwad dan firman Allah Ta’ala “ Dan Allah mendatangi mereka “ maksudnya kemampuan dan urusan-Nya. Dan firman Allah Ta’ala “ Dan telah dating Tuhanmu “ maksdunya telah dating kemampuan-Nya.

Syubhat kedua :

Ibnu Rajab dalam fathul barinya mengatakan “ Riwayat itu sangat musykil (rumit) dan tidak meriwayatkannya seorang pun selain Hanbal, walaupun ia tsiqah akan tetapi ia terkadang sedikit wahm. Telah berbeda pendapat para ulama terdahulu tentang tafarrud dan gharibnya (riwayat menyendiri)-nya dari imam Ahmad, apakah riwayatnya tsabit (kuat) atau tidak “.

Jawaban :

Nukilan mereka tersebut yang mengatasnamakan al-Hafidz Ibnu Rajab adalah sebuah penipuan terhadap umat dan pengkaburan dari kebenaran. Bagi kaum awam muslimin yang tidak memiliki kitab Fathul Bari karya Ibnu Rajab, akan percaya dan terpengaruh begitu saja dengan tipu daya wahabi-salafi tersebut.

Sungguh cara berhujjah mereka sangatlah kotor, buruk dan tidak layak sama sekali untuk dituliskan karena tidak ada lain tujuan mereka berbuat seprti itu hanyalah untuk memperdaya kaum muslimin dan mengira bahwa al-Hafidz Ibnu Rajab mengatakan riwayat takwil imam Ahmad menurutnya sangatlah rumit. Padahal setelah merujuk dan meneliti kitab beliau, didapatkan kenyataan yang sangat berbeda jauh. Dan ucapan beliau tersebut bukanlah membahas takwilan imam Ahmad melainkan sedang membahas “ Bab jika pakaiannya sempit “, sangat berbeda faktanya, ibarat bumi dan langit.

Saya akan tampilkan redaksi asli dari kitab Fathul Bari karya Ibnu Rajab :

Di dalam kitab Fathul Bari, Ibnu Rajab juz II halaman : 156-157 cetakan kedua, Dar Ibnul Jauzi 1422 H dengan Tahqiq Abu Mu’adz Thariq bin ‘Iwadillah bin Muhammad, disebutkan redaksi sebagai berikut :

وقال حنبل : قيل لأبي عبد الله – يعني أحمد -: الرجل يكون عليه الثوب اللطيف لا يبلغ أن يعقده ، ترى أن يتزر به ويصلي ؟ قال : لا أرى ذلك مجزئا عنه ، وإن كان الثوب لطيفاً صلَّى قاعداً وعقده مِن ورائه ، على ما فعل أصحاب النبي -صلى الله عليه وسلم- (في الثوب الواحد) . وهذه رواية مشكلة جداً ، ولم يروها عن أحمد غير حنبل ، وهو ثقة ، إلا أنه يهم أحيانا ، وقد اختلف متقدمو الأصحاب فيما تفرد به حنبل عن أحمد: هل تثبت به رواية عنه أم لا ؟

ولكن اعتمد الأصحاب على هذه الرواية ، ثم اختلفوا في معناها : فقال القاضي أبو يعلى ومن اتبعه: من وجد ما يستر به منكبيه أو عورته ولا يكفي إلا أحدهما فإنه يستر عورته ، ويصلي جالسا ؛ لأن الجلوس بدل عن القيام ، ويحصل به ستر العورة ، فيستر بالثوب اللطيف منكبيه حيث لم يكن له بدل

“ Hanbal berkata : “ Ditanyakan kepada Abu Abdillah yaitu imam Ahmad ; Seseorang memakai pakaian tipis dan tidak sampai diikatnya, apakah engkau berpendapat ia boleh memakainya dan sholat ? “ beliau menjawab : “ Aku berpendapat tidak boleh, jika pakaiannya tipis, maka ia sholat dengan cra duduk dan mengikatnya dari belakang sebagaimana dilakukan oleh para sahabat Nabi Saw (di dalam satu baju) “. Riwayat ini sangatlah rumit dan tidak meriwayatkannya seorang pun selain Hanbal, walaupun ia tsiqah akan tetapi ia terkadang sedikit wahm. Telah berbeda pendapat para ulama terdahulu tentang tafarrud (riwayat menyendiri)-nya dari imam Ahmad, apakah riwayatnya tsabit (kuat) atau tidak “.

Dalam redaksi tersebut sangatlah jelas, bahwa yang sedang dibahas bukanlah tentang penakwilan imam Ahmad pada ayat mutasyabihat akan tetapi pembahasan tentang bab sholat. Sungguh hal ini adalah penipuan nyata yang sangat buruk yang telah mereka lakukan demi mencari pembenaran.

Di samping itu, mereka selain berdusta atas nama imam Ahmad dengan cara menipu, mereka juga berusaha membuat pengkaburan fakta dengan menukil-nukil secara septong-potong agar membuat kesan bahwa periwayatan imam Hanbal tidaklah tsiqah.

Mereka tidak menukil lanjutan redaksi dalam kitab tersebut yang tertulis :

ولكن اعتمد الأصحاب على هذه الرواية ، ثم اختلفوا في معناها : فقال القاضي أبو يعلى ومن اتبعه: من وجد ما يستر به منكبيه أو عورته ولا يكفي إلا أحدهما فإنه يستر عورته ، ويصلي جالسا.
“ Akan tetapi para ulama Hanabilah memegang kuat riwayat tersebut, kemudian berbeda pendapat tentang maknanya; Al-Qadhi Abu Ya’la dan ulam yang mengikutinya berkata “ Orang yang menukan pakaian yang menutup kedua pundak atau auratnya akan tetapi tidak mencukupi salah satunya, maka ia gunakan untuk menutupi auratnya saja dan sholat dengan cara duduk. ”

Terlihat nyata, mereka sudah menipu pembaca dengan riwayat yang sengaja disalah tempatkan, juga mereka menipu pembaca dengan membuang lanjutan redaksi tersebut tentang pembahasan bab Sholat.

Sebuah penibuan yang nyata dan Allah-lah yang akan menghisap perbuatan kalian tersebut di hari perhitungan kelak.

Ketiga : wahabi mengatakan : “ Al-hafidz Adz-Dzahabi di dalam kitabnya as-Siyar an-Nubala mengatakan “ Dia memiliki masalah yang banyak dari riwayat imam Ahmad dengan menyendiri (tafarrud) dan asing (gharib)“.

Jawaban : beginilah kebiasaan wahabi selalu langsung comot dalil tanpa mau memahami maksud sebenarnya. Atau boleh dikatakan bahwa mereka berhujjah tanpa dasar ilmu dari apa yang mereka nukil.
Tafarrud (menyendiri) dan ghraib (asing) adalah satu sinonim dalam lughah dan istilah. Akan tetapi para ulama membedakan keduanya dari segi banyak dan sedikitnya penggunaan. Renungkanlah apa yang dijelaskan oleh al-Hafidz Ibnu Hajar di dalam kitab “ Nuzhah an-Nadzar hal. 66 :

وهما ليسا بجرح والعِبرة فيهما بِحال الراوي مِن جهة الضبط وعدمه فقد ينفرد الثقة ويغرب في روايات وتكون صحيحة بل ويُعوَّل عليها لأنه ثقة .

“ Keduanya (tafarrud dan gharib) bukanlah jarh (pencacatan). Yang menjadi pegangan di dalam tafarrud dan gharib adalah keadaan siperiwayat dari segi kuat dan tidaknya hafalannya. Terkadang siperiwayat tsiqah menyendiri dan asing di dalam beberapa riwayat dan kedudukannya shahih dan dipercayai karena ia tsiqah “
Inilah yang dimaksud oleh imam Adz-Dzahabi dari tafarrud dan gharibnya imam Hanbal. Dan sesuai dengan ucapan beliau dalam sebelumnya kitab Siyar An-Nubala yang sengaja tidak ditulis oleh wahabi berikut ini :

حنبل ابن إسحاق بن حنبل بن هلال بن أسد الإمام الحافظ المحدث الصدوق ، المصنف أبو علي الشيباني ابن عم الإمام أحمد وتلميذه…قال الخطيب: كان ثقة ثبتا .
قلت: له مسائل كثيرة عن أحمد، ويتفرد ويغرب

“ Hanbal bin Ishaq bin Hilal bin Asad adalah seorang imam Al-Hafidz, ahli Hadits dan sangat jujur Mushannif Abu Ali asy-Syaibani. Beliau adalah anak dari paman imam Ahmad dan juga muridnya…imam Al-Khatbi Al-Baghdadi mengatakan “ Hanbal adalah tisqah yang tsabat “. Aku katakan : “ Hanbal memiliki banyak masalah dari Ahmad dan menjadi tafarrud dan gharib “.

Kalimat “ Tsiqah yang tsabat “ dalam ilmu Jarh wa ta’dil merupakan di antara tingkatan ta’dil (penilaian adil) yang paling tinggi. Al-Hafidz Al-Iraqi di dalam kitabnya Syarh Alfiyyah juz II hal. 3 mengatakan :

مراتب التعديل على أربع أو خمس طبقات ؛ فالمرتبة الأولى: العُـلْـيَـا مِن ألفاظ هي إذا كُرِّرَ لفظُ التوثيق ، إمّا مع تباينِ اللفظين كقولهم: ثبت حُجّة ، أو ثبتٌ حافظ ، أو ثقة ثبت ، أو ثقة متقن ، أو نحو ذلك

“ Tingkatan-tingkatan Ta’dil ada empat atau lima. Tingkatan pertama yaitu jika lafadz tautsiq diulang-ulang, adakalanya dengan dua lafadz seperti ; Tsabat hujjah, tsabat hafidz, tsiqah tsabat, tsiqah mutqan dan semisalnya “.

Jika mereka berkata : “ Dalam hal ini kita harus mendaulukan jarh daripada ta’dil “.

Maka kita jawab sebagaimana jawaban imam Tajuddin As-Subuki di dalam kitabnya Thabaqat Syafi’iyyah al-Kubra juz II hal. 9 :

فإنَّكَ إذا سَمعتَ أنَّ الجرحَ مقدَّم على التَّعديل ، ورأيتَ الجرح والتعديل ، وكنتَ غِـرّاً بالأمور أو فَدْماً مقتصراً على منقول الأصول حَسبتَ أنَّ العمل على جرحه ، فإيّاكَ ثمَّ إيّاكَ ، والحذَرَ ثمَّ الحذر مِن هذا الحسبان ، بل الصواب عندنا: أنَّ مَن ثبتَتْ إمامته وعدالته ، وكثُرَ مادحُوه ومزكُّوه ، ونَدُرَ جارحه ، وكانتْ هناكَ قرينة دالّة على سبب الجرح ، مِن تعصّب مذهبي أو غيره ، فإنّا لا نلتفتُ إلى الجرح فيه ، ونعمل فيه بالعدالة ، وإلاَّ لو فتحنا هذا الباب ، أو أخذنا تقديم الجرح على إطلاقه لَمَا سَلِمَ لنا أحدٌ مِن الأئمّة؛ إذْ ما مِن إمامٍ إلاَّ وقد طعنَ فيه طاعنون ، وهلكَ فيه هالكون

“ Sesungguhnya jika kamu mendengar bahwa jarh harus didahulukan daripada ta’dil, engkau melihat adanya jarh dan ta’dil sedangkan engkau bukan orang yang berpengalaman atas hal ini dan hanya mencukupi diri dengan menukil usulnya saja, lalu engkau menilainya bahwa harus mengamalkan jarh daripada ta’dil, maka sungguh berhati-hatilah engkau dari penilaian tersebut. Akan tetapi yang benar bagi kami adalah : Sesungguhnya orang yang tsubut (kuat) ke-imaman dan keadilannya, banyak orang yang memujinya, dan didapati di sana dari sebab pen-jarh-an adalah karena fanatisme madzhab atau selainnya, maka janganlah engkau menoleh kepada Jarh di dalamnya, akan tetapi kita amalkan keadilannya (ta’dil), jika tidak demikian yakni seandainya kita buka bab ini atau kita dahulukan jarh secara muthlaq, maka tidak akan selamat seorang pun dari para imam, sebab tidak ada seoarang imam pun terkecuali ada orang yang mencacatnya dan celakalah orang yang celaka “.

Nasehat untuk kalian wahai wahabi-salafi :

Ilmu Jarh wa Ta’dil tidak cukup hanya dengan menukil saja, tapi suatu keharusan untuk mengetahui seluk beluk yang ada di dalamnya. Menjarh sesorang perowi bahayanya cukup besar daripada berijtihad dalam masalah fiqhiyyah. Jika kalian mencabut haq periwayatan seorang perowi dengan kesalahan atau dzalim, maka sama saja kalian mendzalimi hadits-hadits Nabi Saw. Jika kalian telah mendzalimi hadits-hadits Nabi Saw, maka berarti kalian telah mendzalimi pribadi Rasululah Saw dan menolak ucapan beliau secara dzhalim. Maka sama saja kalian menolak wahyu Allah Swt. Dan akan mendapat balasan yang sangat berat dari-Nya.
Sebagaimana sesorang berdutsa atas nama Nabi saw akan masuk neraka, maka demikian pula seseorang yang menolak hadits Nabi Saw karena fanatisme dan kebodohan sebab ketidak layakan, maka juga terancam neraka.

Renungkan pula nasehat al-Hafidz Ibnu hajar berikut :

((ولْيَحذر المتكلِّمُ في هذا الفن مِن التَّساهل في الجرح والتَّعديل ؛ فإنّه إنْ عدّلَ بغيرِ تثبّتٍ كانَ كالمُثْبِتِ حُكْماً ليس بثابتٍ ، فيُخشَى عليه أنْ يَدْخُلَ في زُمْرَة مَن رَوَى حديثاً وهو يُظَنْ أنَّه كَذِبٌ ، وإنْ جَرَحَ بغير تحرّزٍ أقدمَ على الطَّعنِ في مسلمٍ بريءٍ مِن ذلك ، ووَسَمه بمَيْسَمِ سوءٍ يَبْقَى عليه عارُهُ أبداً. والآفة تَدْخل في هذا تارةً مِن الهوى والغرض الفاسد. وكلامُ المتقدِّمين سالِمٌ مِن هذا ، غالباً. وتارةً مِن مُخالفةِ العقائد، وهو موجود كثيراً، قديماً وحديثاً. ولا يَنْبَغِي إطلاق الجَرح بذلك

“ Berhati-hatilah bagi orang yang berbicara di dalam ilmu ini (Jarh wa ta’dil) dari meremehkan masalah jarh dan ta’dil. Karena jika ia menta’dil tanpa adanya ke-tsubutan, sama saja ia menetapkan hokum yang tidak tsabit dan ditakutkan termasuk orang yang meriwayatkan hadits dengan dusta. Dan jika ia menjarh tanpa kehati-hatian, ia menuduh seorang muslim dengan tuduhan yang ia terbebas darinya dan memvonisnya dengan vonis yang buruk, maka aibnya akan terus ada selamanya. Penyakit yang masuk di dalam hal ini adakalanya karena hawa nafsu dan tujuan yang rusak. Ucapan ulama terdahulu selamat dari hal ini. Dan terkadang karena menyelisihi akidah dan inilah yang ada dan banyak sekali sejak dulu hingga saat ini, maka sebaiknya tidak enteng begitu saja menjarh seseorang “.

Imam Hanbal bin Ishaq sungguh sangatlah masyhur dengan banyaknya periwayatan sebagaimana dijelaskan al-Hafidz Adz-Dzhabi dan selainnya, namun saat sampai pada wahabi, dengan entengnya mengatakan imam Hanbal bermasalah sehingga periwayatannya ditolak. Jika demikian berapa banya yang akan ditolak wahabi jika dalam sanad ada imam Hanbal bin Ishaq ??

Sangat banyak takwi-takwil lain dari imam Ahmad bin Hanbal tentang ayat-ayat mutasyabihat yang juga disebutkan oleh al-Hafidz Ibnu Katsir dan al-Hafidz ad-Dzahabi juga para ulama Hanabilah di dalam kita-kitab mereka sendiri. Misalnya diriwayatkan oleh Al-Khallal dengan sanadnya dari Hanbal bin Ishaq dari imam Ahmad bin Hanbal bahwasanya imam Hanbal mendengar imam Ahmad berkata : “ Mereka berhujjah padaku di hari perdebatan itu..mereka berkata “ Di hari kiamat surat Al-Baqarah akan datang “, maka aku katakan pada mereka :

إنما هو الثواب

” Sesungguhnya yang datang hanalah pahala dari surat al-Baqarah tsb “.

Di antara ulama ahli tafsir yang mengikuti takwilan imam Ahmad bin Hanbal adalah :
Imam Al-Baghawi mentakwil “Ja-a Rabbuka “ dengan “ Ja-a amruhu wa qadhauhu “ di dalam tafsirnya.
Imam Qurthubi mentakwil ayat tsb dengan “ Ja-a Amruhu wa qadhauhu “ juga.di dalam tafsirnya.
Imam Al-Wahidi mentakwilnya dengan “ Ja-a amru Rabbika wa qadhauhu “ di dalam tafsirnya.
imam Al-Baidhawi metakwilnya dengan “ Dhaharat ayaatu qudrati qahrihi “
al-Allamah asy-Syaukani mentakwilnya dengan “ Ja-a Amruhu wa qadhauhu wa dhaharat ayaatuhu “.
imam An-Nasafi mentakwilnya “ Qod ja-a amru Rabbika, qadhauhu wa hukmuhu “
Dan para ulama besar lainnya.

Kesimpulannya :

Akidah imam Ahmad terkait ayat-ayat shifat dan mutasyabihat adalah terkadang beliau mentafwidh makna dan kaifiyatnya kepada Allah Swt, dan juga terkadang mentakwilnya dengan takwilan yang layak bagi keagungan Allah Swt.

Dan akidah beliau seluruhnya sama sebagaimana akidah para imam asy’ariyyah :

Di dalam kitab “ I’tiqad imam Ahmad “ halaman : 38-39, Abul Fadhl at-Tamimi menukil dari imam Ahmad bin Hanbal, bahwasanya imam Ahmad berkata :

والله تعالى لا يلحقه تغير ولا تبدل ولا تلحقه الحدود قبل خلق العرش ولا بعد خلق العرش ، وكان ينكر على من يقول إن الله في كل مكان بذاته لأن الأمكنة كلها محدودة

“ Allah Ta’ala tidak berubah dan tidak mengalami pergantian, tidak diliputi oleh batasan sebelum menciptakan ‘Arsy, dan Imam Ahmad mengingkari orang yang mengatakan bahwa Allah dengan dztNya berada di semua tempat, karena tempat-tempat itu ada batasannya ”.

bercomentarlah dengan santun dan mendidik

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: