Kontradiksi Al Bani Dalam Memposisikan Hadis

1 Sep

Kami mengetahui setiap manusia tidak luput dari kesalahan walaupun para imam atau ulama pakar kecuali Rasulallah SAW yang maksum. Tujuan dari mengutip kesalahan-kesalahan Syeikh Albani ini bukan untuk memecah belah antara sesama muslimin, tapi tidak lain adalah untuk lebih meyakinkan para pembaca bahwa Syeikh ini sendiri masih banyak kesalahan dan belum yakin serta masih belum banyak mengetahui mengenai hadits karena masih banyak kontradiksi yang beliau kutip didalam buku-bukunya. Dengan demikian hadits atau riwayat yang dilemahkan, dipalsukan dan sebagainya oleh Syeikh ini serta pengikut-pengikutnya tidak bisa dipertanggung jawab-kan kebenarannya, harus diteliti dan diperiksa lagi oleh ulama madzhab lainnya.

Kontradisksi Syeikh Albani ini yaitu umpamanya disatu halaman atau bukunya mengatakan kedudukan atau derajat hadits ini lemah, tapi dihalaman atau dibuku lainnya mengatakan (pada hadits yang sama) Shohih atau Hasan. Begitu juga beliau disatu buku atau halaman mengatakan bahwa perawi ini adalah Tidak Bisa Dipercaya karena banyak membuat kesalahan dan sebagainya, namun dibuku atau halaman lainnya beliau mengatakan bahwa perawi (orang yang sama) ini Dapat Dipercaya dan Baik. Begitu juga beliau disatu halaman atau bukunya memuji-muji seorang perawi atau ulama sedangkan dibuku atau halaman lainnya beliau ini mencela perawi atau ulama (orang yang sama) tersebut. Aneh, bukan ?

Dan yang lebih aneh lagi ulama dan pengikut golongan Wahabi/Salafi ini tetap mempunyai keyakinan tidak ada kontradiksi atau kesalahan dalam hadits yang dikemukakan oleh Albani tersebut meskipun bukti konkrit berada dihadapannya, tapi lebih merupakan ralat, koreksi atau rujukan. Alasan yang mereka ungkapkan biasanya sebagai berikut : “..umpama Albani menetapkan dalam kitabnya suatu hadits kemudian dalam kitab beliau lainnya menyalahi dengan kitab yang pertama ini bisa dikatakan bahwa dia meralat atau merujuk hal tersebut..”. Juga diantara mereka ada yang berkata : “..masalah kontradiksi tentang hadits atau perubahan pendapat terdapat juga pada empat ulama pakar yang terkenal (Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafii dan Imam Hanbali) atau ulama lainnya !..”

Perlu kita ketahui dan ini sangat penting !, bahwa perubahan pendapat empat ulama ini biasanya adalah masalah yang berkaitan dengan pendapat atau ijtihadnya sendiri. Misalnya, disalah satu kitab mereka membolehkan suatu masalah sedangkan pada kitab lainnya memakruhkan atau mengharamkan masalah ini atau sebaliknya. Perubahan pendapat ulama ini kebanyakan tidak ada sangkut pautnya dengan hadits yang mereka kemukakan sebelum dan sesudahnya, melainkan kebanyakan yang bersangkutan dengan pendapat atau ijtihadnya sendiri saat mengartikulasikan hadits yang bersangkutan tersebut. Dan jikapun seandainya diketemukan adanya kontradiksi mengenai hadits yang disebutkan ulama ini pada kitabnya yang satu dengan kitabnya yang lain, maka kontradiksi ini tidak akan kita dapati melebihi dari 10 hadits. Jadi bukan ratusan yang diketemukan !

Alasan yang dikatakan para ‘pembela’ Albani diatas (bahwa kontradiksi Albani itu adalah merupakan ralat, koreksi atau rujukan), baik oleh ulama maupun awam tidak bisa diterima baik secara aqli (akal) maupun naqli (menurut nash). Seorang yang dijuluki ulama ‘pakar’ hadits oleh pengikutnya dan di klaim sebagai Imam Muhadditsin karena ilmu haditsnya seperti ‘samudra yang tidak bertepi’, seharusnya sebelum menulis satu hadits, beliau harus tahu dan meneliti lebih dalam apakah hadits yang akan ditulis tersebut shohih atau lemah, terputus dan sebagainya. Sehingga tidak memerlukan ralatan yang begitu banyak lagi pada kitabnya yang lain. Apalagi ralatan tersebut, yang diketemukan para ulama bukan puluhan tapi ratusan ! (Lihat : ‘Tanaqudlaat Albany al-Waadlihah fiima waqoía fi tashhihi al-Ahaadiits wa tadlíiifiha min akhthoí wa gholath’, ‘Kontradiksi Albani yang nyata terhadap penshahihan hadits-hadits dan pendhaifannya yang salah dan keliru’ oleh Hasan Ali Assegaf – Anda bisa mendapatkan banyak ulasannya di internet atau membeli langsung kitabnya atau sebagian kami petik dibagian akhir tulisan ini). Sebab, seyogyanya bahwa yang bisa dianggap sebagai ralatan yaitu bila si penulis menyatakan dibukunya sebagai berikut : ‘..hadits ‘A’ yang saya sebutkan pada kitab ‘Anu’ sebenarnya bukan sebagai hadits dhoif, maudhu dan (sebagainya), tapi sebagai hadits shohih (dan sebagainya). Dalam kata-kata semacam ini jelas si penulis telah mengakui kekeliruannya serta meralat pada kitabnya yang lain. Dan jika selama hal tersebut tidak dilakukan, maka ini berarti bukan ralatan atau rujukan tapi kesalahan dan kekurang telitian si penulis.

Mari kita sekarang melihat beberapa contoh dari sebagian pilihan/seleksi isi buku Syeikh Saqqaf tentang kesalahan-kesalahan al-Albani yang dikutip dari buku bahasa Inggrisnya dan diterjemahkan dari versi bahasa Inggris dengan judul ‘Al-Albani’s Weakening of Some of Imam Bukhari and Muslim’s Ahadit. Kitab asli bahasa Arabnya berjudul ‘Tanaqadat al-Albani al-Wadihat’ (Kontradiksi yang nyata/jelas pada Al-Albani) oleh Syeikh Saqqaf, Amman, Jordania.

Terjemahan-terjemahan yang terpilih dari jilid (volume) 1.

No.7: (Hal.11 nr.7) Hadits: ‘Siapa yang membaca 10 surah terakhir dari Surah Al-Kahfi, akan dilindungi dari kejahatan Dajjal ‘ (Muslim nr. 809). Al-Albani dalam Daeef Al-Jami wa Ziyadatuh, 5/233 nr. 5772 menyatakan hadits ini lemah. Walaupun hadits ini diriwayatkan oleh Muslim, Ahmad dan Nasa’i dari Abi Darda ra. juga dikutip oleh Imam Nawawi dalam Riyadhos Sholihin 2/1021 dalam versi Inggris).
NotaBene: Didalam riwayat Muslim disebut Menghafal (10 surat terakhir Al-Kahfi) bukan Membaca sebagaimana yang dinyatakan Al-Albani, ini adalah kesalahan yang nyata !

AL-ALBANI TIDAK SESUAI DALAM PENYELIDIKANNYA (jilid 1 hal.20)
Syeikh Seggaf berkata: ‘ Sangat heran dan mengejutkan, bahwa Syeikh Al-Albani menyalahkan dan menolak hadits-hadits yang banyak diketengahkan oleh ulama-ulama pakar ahli hadits baik secara langsung atau tidak secara langsung, tidak lain semuanya ini karena kedangkalan ilmu Al-Albani !. Dia mendudukkan dirinya sebagai sumber yang tidak pernah dikalahkan. Dia sering meniru kata-kata para ulama pakar (dalam menyelidiki suatu hadits) ‘Lam aqif ala sanadih’ artinya ‘ Saya tidak menemukan rantaian sanadnya’ atau dengan kata-kata yang serupa. Dia juga menyalahkan beberapa ulama pakar penghafal Hadits yang terbaik untuk kurang perhatian, karena dia sendiri merasa sebagai penulis yang paling baik.

bercomentarlah dengan santun dan mendidik

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: