Kontrofersi Sosok Al Bani

1 Sep

Syeikh Nashiruddin Al-Albani oleh beberapa kalangan sangat dihormati sebagai ulama yang setuju dengan pandangan-pandangannya, namun memang ada juga sebagian lainnya yang kurang suka kepada pendapatnya serta cara penyampaiannya yang khas. Mereka yang gemar dengan pendapat beliau umumnya adalah kalangan muda yang getol mempelajari ilmu hadits. Namun kurang dalam mempelajari ilmu fiqih serta perangkat-perangkatnya. Paling tidak, sistematika fiqih yang beliau kembangkan oleh beliau tidak sebagaimana umumnya sistematika ilmu fiqih yang digunakan oleh para ahli fiqih umumnya.

Misalnya buat beliau, kesimpulan hukum suatu masalah lebih sering ditetapkan semata-mata berdasarkan kekuatan riwayat suatu hadits. Sedangkan pertimbangan lainnya sebagaimana yang ada di dalam ilmu fiqih, termasuk pendapat para imam mazhab, seringkali ditepis oleh beliau.

Sebagaimana misalnya, apabila teori ‘dakwa nasakh’ tidak bisa dicapai, maka imam mujtahid mengalihkan perhatiannya pada ‘teori mentarjih (menguatkan)’ salah satu dari dua hadits itu. Namun inipun merupakan pekerjaan yang sangat sulit dan rumit. Teori pertama memerlukan pengertian dan ilmu Mushthalahul Hadits (dirayatul hadits), teori kedua memerlukan pelacakan dan ilmu riwayat hadits, dan teori yang ke tiga ini memerlukan dirayat dan riwayat. Dirayat memerlukan pengertian orang jenius dan pandangan ‘tembus’. Riwayat memerlukan pelacakan semua itu, baik secara umum atau mendetail dari berbagai macam hadits. Hadits ini harus berhubungan dengan satu masalah, mulai dari segi sanadnya, sampai kepada para perawinya dikalangan para sahabat, meliputi sejarah mereka, sifat mereka, lafal bunyi hadits itu sendiri dan sebagainya yang tidak mudah dilakukan begitu saja. Para ulama ahli ushul, benar-benar dibuatnya panik untuk menegaskan, memeriksa dan meneliti teori tarjih ini.

Hal ini telah dipaparkan oleh Al-Hazimi dalam mukaddimah kitabnya Al-I’tibar Fin Nasikh Wal Mansukh Minal Atsar. Dalam hal. 9-23 disebutkan sebanyak 50 macam jalan tarjih dengan sebagian besar contoh-contohnya. Kemudian pada akhir ungkapannya pada hal. 23, beliau berkata : “Masih banyak pula jalan tarjih ini. Hanya saja kami sebutkan sekian, agar kitab mukhtasar ini tidak membahasnya secara panjang lebar pula.”

Al-Hafizh Al-Iraqi mengutip ungkapan Al-Hazimi ini dalam kitabnya Hasyiyah Ibnu Shalah halaman 245, katanya : “Jalan tarjih ini lebih dari 100 jalan banyaknya. Aku hendak menghitungnya secara singkat saja, yaitu mulai dari 50 jalan yang telah diungkapkan oleh Al-Hazimi. Setelah itu aku rangkaikan sisanya secara beruntun.” Maka dirangkaikannya sebanyak 110 jalan tarjih olehnya, lalu diakhir ungkapannya itu pada hal. 250, beliau berkata lagi :”Disitu masih banyak pula jalan tarjih ini, namun sebagian ada yang harus diteliti dulu, dan sebagian yang lain bisa diterima atau memenuhi syarat.”

Sungguh malang dan kasihan adanya orang yang tergesa-gesa mentarjih dua buah hadits yang secara lahiriah seolah-olah berlawanan, hanya karena salah satu hadits itu (yang dianggapnya lebih kuat/arjah) diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, lalu terburu-buru hadits yang bukan riwayat Bukhari-Muslim dianggapnya marjuh, tidak berfungsi, tanpa meneliti jalan tarjih yang lain. Ia terkecoh dengan ‘batasan’ jalan tarjihnya sendiri yang sedikit dan singkat hanya karena telah didapat kesesuaian kepuasan hawa nafsunya.

Albani memang dikenal sebagai tokoh di bidang ilmu hadits yang cenderung tidak mau berpegang kepada pendapat-pendapat dari mazhab-mazhab fiqih yang ada. Kesan itu akan sangat terasa menyengat bila kita banyak mengkaji ceramah dan tulisan beliau, terutama yang menyangkut kajian fiqih para ulama mazhab.

Bagi beliau, pendapat para ulama mazhab harus ditinggalkan bila bertentangan dengan apa yang beliau yakini sebagai hasil ijtihad beliau dari hadits-hadits shahih. Bahkan beliau mudah menjatuhkan vonis ahli bid’ah kepada siapa saja yang menurut beliau telah berdalil dengan hadits yang lemah. Maksudnya lemah di sini adalah lemah menurut hasil penelitian beliau sendiri. Termasuk juga pada masalah-masalah yang umumnya dianggap sudah final di kalangan para ahli fiqih. Buat beliau, semua itu harus diabaikan, bila berbeda dengan pandangan beliau dengan landasan ijtihad beliau di bidang ilmu hadits.

Hal-hal inilah yang sering menimbulkan pandangan tertentu atau kontroversi di kalangan para ulama tentang sosok beliau.

Syekh Al-Albani sering juga mengeritik para ulama lainnya diantaranya beliau juga mengeritik buku Fiqih Sunnah oleh Sayyid Sabiq dan buku At-Tajj Al Jaami’ Lil Ushuuli Fii Ahadadiitsir Rasuuli oleh Syeikh Manshur Ali Nashif Al-Husaini. Al-Albani sering menyalahkan dan menolak hadits-hadits yang banyak diketengahkan oleh ulama-ulama pakar ahli hadits baik secara langsung maupun tidak langsung. Dia mendudukkan dirinya sebagai sumber yang tidak pernah dikalahkan. Dia selalu meniru kata-kata ulama pakar dalam menyelidiki suatu hadits yaitu :  Lam aqif ala sanadih artinya saya tidak menemukan rantaian sanadnya atau kata-kata yang serupa.

Beberapa Tugas yang Pernah Diemban

Syeikh al-Albani pernah mengajar hadits dan ilmu-ilmu hadits di Universitas Islam Madinah meski tidak lama, hanya sekitar tiga tahun, sejak tahun 1381-1383 H.

Setelah itu beliau pindah ke Yordania. Pada tahun 1388 H, Departemen Pendidikan meminta kepada Syeikh al-Albani untuk menjadi ketua jurusan Dirasah Islamiyah pada Fakultas Pasca Sarjana di sebuah Perguruan Tinggi di kerajaan Yordania. Tetapi situasi dan kondisi saat itu tidak memungkinkan beliau memenuhi permintaan itu.

Pada tahun 1395 H hingga 1398 H beliau kembali ke Madinah untuk bertugas sebagai anggota Majelis Tinggi Jam’yah Islamiyah di sana. Mendapat penghargaan tertinggi dari kerajaan Saudi Arabia berupa King Faisal Fundation tanggal 14 Dzulkaidah 1419 H.

bercomentarlah dengan santun dan mendidik

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: