Muqoddimah

1 Sep

Pada akhir-akhir ini diantara ulama yang dibanggakan dan dijuluki oleh golongan Wahabi/Salafi sebagai ahli hadits adalah Syeikh Albani, karena menurut mereka ilmunya tentang hadits ‘bagaikan samudera tak bertepi’. Di kalangan Wahabi/Salafi, lelaki satu ini dianggap ‘muhaddits’ paling ulung di zamannya. Itu klaim mereka. Bahkan sebagian mereka tak canggung menyetarakannya dengan para imam hadits terdahulu. Dari karakteristik cara pengikutnya dalam membanggakan Albani, terkesan seolah Albani sederajad dengan Imam Bukhori pada zamannya. Cukup fantastis. Mereka gencar mempromosikannya lewat berbagai media. Dan usaha mereka bisa dikatakan berhasil.

Sering ditemukan beberapa tahun belakangan ini banyak kitab, buku, artikel, dan postingan di internet yang memuat kalimat : ‘disahihkan oleh Syaikh Al Albani’. Padahal selama ini orang setidaknya hanya mengenal redaksi hadits seperti : diriwayatkan oleh ‘Syaikhon’ (Imam Bukhari dan Imam Muslim), atau ‘diriwayatkan oleh Imam Bukhari’, ‘sahih Bukhari’, ‘sahih Muslim’ dan yang semisalnya dari Imam-imam Muhaddits yang mu’tabar (kredibel).

Kalangan muslim banyak yang tertipu dengan hadits-hadits edaran mereka yang di akhirnya terdapat kutipan, ‘disahihkan oleh Albani’ itu, sehingga semua hadits bila telah dishohihkan atau dilemahkan dan sebagainya, oleh beliau ini, sudah pasti lebih mendekati kebenaran. Dan dengan munculnya seorang yang dianggap sebagai ahli hadits abad ini, kini muncul istilah baru yang jadi icon dan ‘jaminan mutu’, apabila sebuah hadits sudah dapat stempel : ‘disahihkan oleh Al Albani’. Para salafi itu seolah memaksakan kesan bahwa dengan kalimat itu Albani sudah setaraf dengan Imam Turmuzi, Imam Ibnu Majah dan lainnya. Bahkan mereka menjulukinya sebagai Al-Imam Al-Mujaddid Al ‘Allamah Al-Muhaddits Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani. Sayangnya pemujaan terhadap syaikh yang satu ini tanpa disebutkan dari mana sang Mujaddid wal Muhaddits ini mendapatkan sanad hadits. Meskipun salah satu situs resmi Wahhabi di Indonesia mencoba membantahnya dengan menyebutkan guru-gurunya, namun tidak dapat membuktikan sanad yang muttashil (bersambung) sampai kepada Rasululloh shallallohu ‘alayhi wa aalihi wa sallam.

Bagi para pengikutnya, -entahlah ini merupakan ghuluw ataupun bukan, julukan dan pujian terhadap ulama mereka Albani semacam itu mungkin tidak ada masalahnya. Asalkan tidak memaksakan klaim sepihak, maka para ulama dan umat muslim lainnya pun tidak ada masalah. Bagi kita juga tidak dapat menghalangi datangnya hidayah Allah dan kelebihan pada seseorang. Hanya sekarang yang dimasalahkan adalah penemuan ulama-ulama ahli hadits dari berbagai madzhab seperti diantaranya dari Jordania yang bernama Hasan Ali Assegaf, yang menulis tentang banyaknya kontradiksi dari hadits-hadits dan catatan-catatan yang dikemukakan oleh Albani ini yang jumlahnya lebih dari 1200 hadits. Judul bukunya yang mengeritik Albani ialah: ‘Tanaqudlaat Albany al-Waadlihah fiima waqoía fi tashhihi al-Ahaadiits wa tadlíiifiha min akhthoí wa gholath’ (Kontradiksi Albani yang nyata terhadap penshahihan hadits-hadits dan pendhaifannya yang salah dan keliru). Belum lagi tulisan-tulisan para ulama tentang kontradiksi Albani lainnya dalam aqidah, fiqhiyyah, dan fatwa-fatwa Albani lainnya. Maka tidaklah heran bahwa dalam dunia pesantren belum pernah ditemukan kajian-kajian yang melibatkan tulisan buah karya Albani ini kecuali pada jaman sekarang sebagaimana gencarnya ‘promo’ dari para pengikutnya yang telah disinggung diatas.

Para pengikut Albani ini mengatakan bahwa ulama Al Albani juga tidak sembarang mendhaifkan suatu hadits kalau memang hadits itu dhaif, Imam Bukhari dan Imam Muslim pasti punya salah oleh karenanya ulama Al Albani mentakhrij lagi hadits-hadits tersebut. Jadi menurut mereka, Imam Bukhari dan Imam Muslim pasti punya salah, -sedangkan ulama Al Albani ?

Al Albani adalah ulama dari kalangan “orang-orang yang membaca hadits” dan mencoba mentakhrij hadits-hadits yang disampaikan Imam Bukhari dan Imam Muslim yang merupakan ulama dari kalangan “orang-orang yang membawa hadits” yakni ulama yang mempunyai ketersambungan sanad atau memiliki ilmu riwayah dan dirayah dari Salafush Sholeh yang meriwayatkan hadits Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Sedangkan ulama dari kalangan “orang-orang yang membaca hadits” adalah para ulama yang mengaku-aku mengikuti atau hanya menisbatkan kepada salafush sholeh namun tidak bertemu atau bertalaqqi (mengaji) dengan Salafush Sholeh. Apa yang mereka katakan sebagai pemahaman Salafush Sholeh adalah ketika mereka membaca hadits, tentunya ada sanad yang tersusun dari Tabi’ut Tabi’in, Tabi’in dan Sahabat. Inilah yang mereka katakan bahwa mereka telah mengetahui pemahaman Salafush Sholeh. Bukankah ternyata itu hanyalah pemahaman mereka sendiri terhadap hadits tersebut ?

Mereka berijtihad dengan pendapatnya terhadap hadits tersebut. Apa yang mereka katakan tentang hadits tersebut, pada hakikatnya adalah hasil ijtihad dan ra’yu mereka sendiri. Sumbernya memang hadits tersebut, tapi apa yang mereka sampaikan semata lahir dari kepala mereka sendiri. Sayangnya mereka mengatakan kepada orang banyak bahwa apa yang mereka sampaikan adalah pemahaman Salafush Sholeh.

Tidak ada yang dapat menjamin hasil upaya ijtihad mereka pasti benar dan terlebih lagi mereka tidak dikenal berkompetensi sebagai Imam Mujtahid Mutlak. Apapun hasil ijtihad mereka, benar atau salah, mereka atas namakan kepada Salafush Sholeh. Jika hasil ijtihad mereka salah, inilah yang namanya fitnah terhadap Salafush Sholeh !

Al-Hafizh Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam risalahnya : Fadhlu Ilmis Salafi ‘Alal Khalaf pada halaman 9 berkata : “Para Imam dan Fuqaha ahli hadits sama-sama berpedoman pada hadits shahih, apabila hadits shahih itu berlaku dikalangan sahabat dan orang-orang sesudahnya, atau segolongan dari mereka. Sedangkan hadits yang disepakati untuk tidak diamalkan, maka hadits itu dinyatakan tidak boleh diamalkan. Namun ini BERDASARKAN PENGETAHUAN MEREKA bahwa hadits itu memang tidak berlaku.”
Umar bin Abdul Aziz berkata : “Ambillah hukum pendapat yang sesuai dengan ulama sebelum kamu, karena mereka lebih tahu dari kamu”
Selanjutnya masih dalam kitab yang sama di halaman 13 Ibnu Rajab berkata : “Hendaknya orang waspada terhadap kejadian setelah para Imam kita, Syafi’I, Ahmad bin Hanbal dan lainnya, karena setelah mereka timbul beberapa kejadian, yaitu munculnya orang yang mengaku pengikut sunnah dan hadits dari GOLONGAN AHLI ZHAHIR dan yang sejenis. Padahal, yang demikian itu benar-benar menyalahi sunnah, karena berlaku ganjil terhadap Imam dan MELEPASKAN DIRI DARI PENGERTIAN MEREKA, atau BERPEDOMAN PADA YANG BUKAN PEDOMAN PARA IMAM SEBELUMNYA.”
Mengenai ini, hendaklah kita memperhatikan, bahwa umat Islam telah banyak tertimpa bencana, seperti yang difirmankan Allah SWT dalam Al-Qur’an :
“Dan apabila dikatakan kepada mereka: janganlah kamu membuat kerusakan dibumi, mereka menjawab : Sesungguhnya kami hanyalah melakukan PERBAIKAN. Ketahuilah, bahwa MEREKA ITU MELAKUKAN KERUSAKAN, HANYA SAJA MEREKA TIDAK MENYADARI.” [Al-Baqarah: 11-12]

Imam Ahmad bin Hanbal berkata :
“Apabila seseorang mempunyai kitab karangan yang didalamnya terdapat sabda Rasulullah SAW dan perbedaan (pendapat) para sahabat dan tabi’in, maka orang tidak boleh mengamalkannya sekehendak sendiri, memilihnya sendiri, lalu dijadikan keputusan suatu hukum dan diamalkan, sebelum dia menanyakan kepada ahli ilmu, mana yang benar untuk dipakai pegangan hukum. Setelah itu, maka dia mengamalkannya menurut hukum yang benar (shahih).” [Ibnul Qayyim, A’lamul Muwaqqi’in ‘an Rabbil ‘Alamin, jilid I, hal. 44]
Pesan ini mengandung peringatan buat kita. Suatu hadits kadang dianggap shahih oleh seseorang, lalu difatwakan berdasarkan keshahihan hadits itu saja, dengan keyakinan bahwa hadits itu sudah bisa diamalkan tanpa bertanya kepadd ahlinya dan bahkan mendapatkan konsensus jumhur ulama lainnya. Imam Ahmad bin Hanbal mengingatkan, bahwa memberi fatwa secara gegabah adalah suatu hal yang tidak cermat, dan dilarang menurut hukum serta prasyarat seorang mujtahid. Maka sangat perlu orang bertanya kepada ahli hukum lebih dahulu, yaitu ahli ilmu yang tsiqah dan makrifat, apakah hadits itu berlaku untuk dijadikan pegangan suatu hukum atau tidak.

Sebetulnya, kapasitas ilmu dari seorang ‘muhaddits’ andalan Wahabi/Salafi ini sangat meragukan, -kalau tak mau dibilang ‘ngawur’. Dia sendiri mengakui bahwa sebenarnya dia tidak hafal sepuluh hadits dengan sanad muttashil (bersambung) sampai ke Rasulullah, meskipun begitu dia berani mentashih dan mentadh’ifkan hadits sesuai dengan kesimpulannya sendiri dan bertentangan dengan kaidah para ulama hadits yang menegaskan bahwa sesungguhnya mentashih dan mentadh’ifkan hadits adalah tugas para hafidz (ulama ahli hadits yang menghapal sekurang-kurangnya seratus ribu hadits). Ketika ia diminta oleh seseorang untuk menyebutkan 10 hadits beserta sanadnya, ia dengan entengnya menjawab, “Aku bukan ahli hadis sanad, tapi ahli hadis kitab.” Si peminta pun tersenyum kecut, “Kalau begitu siapa saja juga bisa,” tukasnya.

Namun demikian dengan ‘over pede’-nya Albani merasa layak untuk mengkritisi dan mendhoifkan hadits-hadits dalam Bukhari-Muslim yang kesahihannya telah disepakati dan diakui para ulama’ dari generasi ke generasi sejak ratusan tahun lalu. Aneh bukan?

Over pede Albani ini juga bisa kita simak pada perkataan beliau dalam kitabnya, Shahih al-Kalam ath-Thayyib li Ibni Taimiyyah, pada halaman 4, cetakan ke 4 tahun 1400H sebagai berikut :

“Aku nasihatkan kepada orang yang membaca buku ini atau buku yang lainnya, untuk tidak cepat-cepat mengamalkan hadits-hadits yang ada didalam buku-buku tersebut, kecuali setelah benar-benar menelitinya. Aku telah memudahkan jalan tersebut kepada kalian dengan komentar-komentar yang aku berikan. Jika hal itu (komentar dariku) ada, barulah dia mengamalkan hadits itu dan menggigit gerahamnya. Jika tidak ada (keterangan dariku), maka tinggalkanlah hadits-hadits itu.”

Lihatlah bagaimana Albani seolah telah memposisikan dirinya sebagai ahli hadits yang mumpuni, yang melampaui ulama-ulama hadits terdahulu, yang hidup lebih dekat kepada masa Rasulullah SAW, sedangkan dia jauh berabad-abad masa hidupnya yang diabad 20 ini.

Mari kita simak pula sebuah dialog yang dikutip dari kitab karangan Albani sendiri, Fatawa al-Albani :

Ada seorang yang bertanya tentang hakikat Imam Bukhari yang telah mentakwil firman Allah “Kullu syai’in haalikun illa wajhahu” dengan takwilan “Kullu syai’in haalikun illa mulkuhu”, dan dalam riwayat Muammar tertulis Imam Bukhari mentakwil ayat tersebut dengan kata “Kullu syai’in haalikun illa huwa”. Kemudian orang itu bertanya, “Bagaimana jawaban Anda, ya syaikh?” Albani menjawab : “Wahai saudara, takwilan ini tidak dituturkan oleh seorang muslim yang beriman”

Bagaimana menurut Anda dengan dakwaan Albani terhadap Imam Bukhari ini ?

Jauh sebelumnya, nada-nada kesombongan ini gaungnya telah terdengar dari perkataan seorang teolog yang menjadi panutan Albani; Muhammad bin Abdul Wahab bin Sulaiman bin Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Rasyid bin Barid bin Muhammad bin Barid bin Musyarraf at Tamimi at Najdi. Ia (Muhammad bin Abdul Wahhab) berkata : “…dahulu, aku tidak memahami arti dari ungkapan Laailaaha Illallah. Kala itu, aku juga tidak memahami apa itu agama Islam. (Semua itu) sebelum datangnya anugerah kebaikan yang Allah berikan (kepadaku). Begitu pula para guru(ku), tidak seorangpun dari mereka yang mengetahuinya. Atas dasar itu, setiap ulama “’al-Aridh’” yang mengaku memahami arti Laailaaha Illallah atau mengerti makna agama Islam sebelum masa ini (sebelum turunnya anugerah kepada Muhammad bin Abdul Wahhab, -red) atau ada yang mengaku bahwa guru-gurunya mengetahu hal tersebut maka ia telah melakukan kebohongan dan penipuan. Ia telah mengecoh masyarakat dan memuji diri sendiri yang tidak layak bagi dirinya.”
(Lihat: Ad-Durar as-Saniyah karya Abdurrahman bin Muhammad bin Qosim al-Hambali an-Najdi : jilid 10 halaman 51, lihat juga di : Muallafaat Syeikh Muhammad Bin Abdul Wahhab, cet: Jami’ah Ummul Qura Makkah Al-Mukarramah, bagian ke-enam: Ar-Risalah ke-18 hal: 186-187)

Dari ungkapan di atas sepertinya Muh bin Abdul Wahhab telah mengaku hanya dirinya yang selama ini memahami konsep tauhid dari kalimat Laailaaha Illallah dan telah mengenal Islam dengan sempurna. Ia menafikan pemahaman ulama dari golongan manapun berkaitan dengan konsep tauhid dan pengenalan terhadap Islam, termasuk guru-gurunya sendiri dari mazhab Hambali. Apalagi dari mazhab lain. Ia pun seolah menuduh para ulama lain yang tidak memahami konsep tauhid dan Islam -telah melakukan penyebaran ajaran batil, ajaran yang tidak berlandaskan ilmu dan kebenaran. Ia seolah merasa hanya dirinya yang mendapat anugerah khusus Ilahi itu, dan dirinya pulalah yang berhak mendapat pujian.

Jangan heran jika para pengikutnya pun hingga saat ini terus men-talqin-kan diri mereka telah selamat dari kesesatan pemahaman para ulama, -para ulama diluar golongannya. Dan dari sinilah kesombongan dan monopoli kebenaran muncul di benak mereka. Bila kita telusuri sejarah, tentu Anda akan ingat pada tahun 8 hijriyyah, -bagaimana dengan sombongnya Dzul Khuwaishirah dari keturunan Bani Tamim al najdi menuntut ‘keadilan’ Rasulullah SAW dalam perkara pembagian ghanimah.

bercomentarlah dengan santun dan mendidik

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: