Penyimpangan Al Bani yang dicatat Ulama

1 Sep

Setelah kita menyimak berbagai contoh kesalahan dan penyimpangan yang dilakukan dengan sengaja atau tidak oleh ‘Yang Terhormat Al-Muhaddis Syeikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani’ oleh ‘Al-Alamah Syeikh Muhamad Ibn Ali Hasan As-Saqqof’ dimana dalam kitabnya tersebut beliau (Rahima- hullah) menunjukkan ± 1200 kesalahan dan penyimpangan dari Syeikh Al-Albani dalam kitab-kitab yang beliau tulis seperti contoh diatas. Maka kita bisa menarik kesimpulan bahwa bidang ini tidak dapat digeluti oleh sembarang orang, apalagi yang tidak memenuhi kualifikasi sebagai seorang yang layak untuk menyadang gelar ‘Al-Muhaddits’ (Ahli Hadits) dan tidak memperoleh pendidikan formal dalam bidang ilmu hadits dari Universitas-universitas Islam yang terkemuka dan ‘Para Masyaik’h yang memang ahli dalam bidang ini.

Demikian yang diatas itu adalah beberapa contoh kontradiksi yang dilakukan dari keilmuan seorang ‘Muhaddits’ palsu Albani yang diambil dari tulisan Syeikh Saqqaf, Amman, Jordania berjudul ‘Tanaqadat al-Albani al-Wadihat’ (Kontradiksi yang nyata/jelas pada Al-Albani). Dan begitulah yang teramat disayangkan dari Albani sendiri serta pengikutnya, yang bahkan sampai saat ini belum ada periwayatan tentang sanad keilmuan Albani dalam literatur atau pustaka pada golongannya sekalipun sehingga menimbulkan kekacauan pemikiran dan pemahamannya.

Namun para pengikut golongan Salafi/Wahabi ini bukan hanya tidak mau menerima kritikan ulama-ulama yang tidak sependapat dengan keyakinan ulama mereka. Dari pengamatan didunia nyata maupun dunia maya (internet, yang menjadi andalan mereka dalam propaganda pahamnya), belum pernah ditemukan suatu kemenangan mutlak bagi mereka dalam dialog, debat atau diskusi, kecuali bantahan-bantahan yang bolak-balik tak tentu arah dan bukan pada tempatnya meskipun argumen mereka seolah ‘orang berilmu tinggi’ bagi orang-orang awwam. Malah justru sebaliknya, kebanyakan mereka mengecam pribadi ulama-ulama yang mengeritik ini sebagai orang yang bodoh, golongan zindik, tidak mengerti bahasa Arab, dan lain sebagainya. Mereka juga sering menulis hadits-hadits Nabi SAW dan hasil wejangan ulama-ulamanya untuk menjawab kritikan ini tetapi sebagian isinya tidak ada sangkut pautnya dengan kritikan yang diajukan oleh para ulama madzhab, selain madzhab Wahabi/Salafi ini !

Alangkah baiknya kalau golongan Salafi ini tidak mencela siapa/bagaimana pribadi ulama pengeritik itu, tapi mereka langsung membahas atau menjawab satu persatu dengan dalil yang aqli dan naqli masalah yang dikritik tersebut. Sehingga bila jawabannya itu benar maka sudah pasti ulama-ulama pengeritik ini dan para pembaca akan menerima jawaban golongan Wahabi dengan baik. Ini tidak lain karena ke-egoisan dan kefanatikan pada ulamanya sendiri sehingga mereka tidak mau terima semua keritikan-keritikan tersebut, dan mereka berusaha dengan jalan apapun untuk membenarkan riwayat-riwayat atau nash baik yang dikutip oleh al-Albani maupun ulama mereka lainnya. Sayang sekali golongan Salafi ini merasa dirinya yang paling pandai memahami ayat al-Qurían dan Sunnah Rasulallah SAW, paling suci, dan merasa satu-satunya golongan yang memurnikan agama Islam dan sebagainya. Dengan demikian mudah mensesatkan, mensyirikkan sesama muslimin yang tidak sepaham dengan pendapatnya.

Syekh Al-Albani ini sering juga mengeritik para ulama lainnya, diantaranya beliau juga mengeritik buku Fiqih Sunnah oleh Sayyid Sabiq dan buku At- Tajj Al Jaamií Lil Ushuuli Fii Ahadadiitsir Rasuuli oleh Syeikh Manshur Ali Nashif Al-Husaini. Al-Albani sering menyalahkan dan menolak hadits-hadits yang banyak diketengahkan oleh ulama-ulama pakar ahli hadits baik secara langsung maupun tidak langsung. Dia mendudukkan dirinya sebagai sumber yang tidak pernah dikalahkan. Dia selalu meniru kata-kata ulama pakar dalam menyelidiki suatu hadits yaitu ‘..lam aqif ala sanadih..’, yang artinya : ‘..saya tidak menemukan rantaian sanadnya..’ atau kata-kata yang serupa.

Masih banyak ulama berbeda madzhab yang mengeritik kekhilafan dan kesalahan Syekh Albani dan pengikut madzhab Wahabi ini yang tidak tercantum disini. Berpuluh-puluh kitab dan makalah yang mereka tulis sebagaimana sebelumnya telah disebutkan diatas. Dengan banyaknya ulama dari bermacam-macam madzhab (Hanafi, Maliki, Syafii dan Hanbali) mengeritik kekhilafan dan kesalahan ulama madzhab Wahabi, khususnya Syeikh Albani, maka kita akan bertanya sendiri apakah bisa beliau ini dikatagorikan sebagai Imam Muhadditsin (Imamnya para ahli hadits) pada zaman sekarang ini sebagaimana yang dijuluki oleh sebagian golongan Salafi/Wahabi ? Memang ada ulama-ulama yang memuji Syekh Albani ini dan memuji ulama gologan Salafi/Wahabi lainnya, tapi ulama-ulama yang memuji ini semuanya ternyata semadzhab dan sejalan dengan golongan Wahabi/Salafi !

Dan sudah tentu kita tidak jujur kalau mengatakan bahwa semua pendapat/faham golongan Salafi/Wahabi yang mengaku sebagai penerus akidah dari Ibnu Taimiyyah atau Muhammad Ibnul Wahhab ini salah dan disangkal oleh ulama-ulama pakar lainnya, tapi ada juga pendapat-pendapat beliau dan pengikutnya mengenai syariat Islam yang sefaham dengan ulama-ulama madzhab lainnya. Yang sering disangkal selain kontradiksi Albani dalam ilmu hadits, juga pendapatnya mengenai tajsim dan tasybih Allah SWT (akidah tauhid) dengan makhluk-Nya, yang mana hal ini bertentangan dengan firman-firman Allah SWT dan sunnah Rasulallah SAW.

Disamping itu yang sering disangkal juga oleh para ulama dan pengikut ahlussunnah dikarenakan pendapat mereka yang selalu ramai mempermasalahkan masalah khilafiyyah dan furu’, membid’ahkan, menuduh sesat kepada seseorang maupun golongan baik secara implisit dan eksplisit, sampai-sampai berani mensyirikkan tawassul, tabarruk pada pribadi orang baik yang masih hidup maupun yang telah wafat, ziarah kubur, peringatan keagamaan, kumpulan majlis dzikir dan sebagainya. Padahal semuanya ini baik untuk diamalkan serta tidak keluar dari syariat agama, bahkan banyak dalil shohih baik secara langsung maupun tidak yang menganjurkan amalan-amalan tersebut diatas. Setiap Muslim boleh memohon pertolongan dan bertawassul, bertabarruk kepada para Nabi, para waliyullah didalam setiap urusan, baik yang gaib maupun yang materi, dengan menjaga dan memperhatikan syarat-syarat sebagaimana yang telah diuraikan sebelumnya.

bercomentarlah dengan santun dan mendidik

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: