Syekh Wahabi Jualan Obat

1 Sep

DOKTER ,PERAWAT & TUKANG OBAT
(Imam Madzab, Imam Muhadditsin DAN al-Bani)

Dulu saya sempat terpesona dg ‘dakwa’ Wahabi , begitu menggebu ,gencar di dunia maya & dg begitu meyakinkan seakan mereka membawa kunci sorga…
apalagi kalau menyampaikan Hadits dg laNtang mereka berkata: ” SHAHIH AL-ABANI”
seakan2 kebenaran itu sudah Mutlak BAHKAN Ulama mujtahid sekelas Imam Bukhori lewaaatttt………

Lama kelamaan makin sadar saya ,dakwah mereka penuh kebencian & curiga maka aku mulai mencari referensi tentang ajaran ini dan siapa Syeik Agung Al-Bani,,,

sungguh memang susah mencari kebenaran di jaman yg sdh tua ini, kemudian aku teringat sabda Nabi:
Hadis riwayat Abdullah bin Amru bin Ash ra., ia berkata:
Aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda:

إِنّ الله لا يقْبِضُ العِلْم اِنْتِزاعًا ينْتزِعُهُ مِن العِبادِ ولكِنْ يقْبِضُ العِلْم بِقبْضِ العُلماء حتىّ إِذالم يُبْقِ عالِمًا اِتّخذ النّاسُ رُءُوسًا جُهّالاً فسُئِلُوا فأفْتوْا بِغيْرِ عِلْمٍ فضلُّوا وأضلُّوا

SESUNGGUHNYA ALLAH TIDAK MENGAMBIL ILMU DG CARA MENCABUTNYA BEGITU SAJA DARI MANUSIA, AKAN TETAPI ALLAH KAN MENGAMBIL ILMU DG CARA MENCABUT (nyawa) PARA ULAMA, SEHINGGA KETIKA ALLAH TIDAK MENINGGALKAN SEORANG ULAMA PUN, MANUSIA AKAN MENGANGKAT PEMIMPIN YG BODOH YANG APABILA DITANYA MEREKA AKAN MEMBERIKAN FATWA TANPA DI-DASARI ILMU LALU MEREKAPUN SESAT SERTA MENYESATKAN.
(Shahih Muslim No.4828)

yaa… sungguh susah membedakan ulama mujtahid dengan para abal-abal penyesat (Wahabi).
Dan yang merasakan kesulitan serupa agaknya bukan saya sendiri, berjuta umat Islam yang awam juga kebingungan membedakannya.

Sebab keduanya sering memakai kostum dan atribut yang serupa. Padahal kalau cuma dibedakan berdasarkan seragam, nyaris jadi tidak ada bedanya. Mana yang ulama dan mana yang bukan, susah buat kita untuk membedakannya.

Lebih parahnya lagi, para abal-abal ini sering berdakwah di-dumay bahkan menyusup di berbagai pengajian dan majelis taklim, sehingga sering diberi gelar ustadz, da’i, bahkan kadang disebut juga sebagai ulama.
Wah, makin kabur saja perbedaannya….

Para abal-abal itu harus diakui sebagai tokoh agama, tentunya apa yang mereka ceramahkan berguna buat para jamaah, dan pasti ada hikmah yang bisa dipetik. Dalam hal ini kita tidak perlu menghujat mereka dan aktifitas mereka, materi ceramahnya secara umum pasti mengajak kepada kebaikan TAPI ujung2nya sungguh kebLinger…
Apalagi kalau mendengar Fatwa Syeik mereka.

Kenapa Harus Dibeda-bedakan?

Lalu kenapa kita harus membeda-bedakan, mana ulama mujtahid dan Abal-abal?

Jawabnya sbgmana sabda baginda Nabi bahwa di zaman akhir muncul banyak sekali para Abal-abal, yang menyirami umat dengan nasihat dan ceramah-ceramah & berfatwa ngacooo..

Lalu bagaimana kita tahu Ulama Mujtahid dg yg abal-abal ?

Penjelasannya begini, bahwa ulama mujtahid itu bekerja berdasarkan disiplin ilmu yang dimilikinya. Dan agama itu pada dasarnya harus dibangun dengan ilmu yang lurus dan benar.Tolok ukur kebenaran dan hukum halal dan haram yang menjadi urat nadi agama Islam, harus sejajar dengan disiplin ilmu dan tdk saling tumpang-tindih (plin-plan)

Para abal-abal ini bukannya tidak berilmu, tetapi dengan latar belakang pendidikan yang hanya nyaris rata-rata, mereka bukan tempat rujukan dalam ilmu agama, khususnya ilmu syariah dan hukum-hukumnya.

Sementara umat terlanjur menganggap mereka sebagai tokoh agama. Dan dianggap sebagai rujukan dalam ilmu syariah. Tiap ada masalah syariah dan hukum-hukumnya, abal-abal ini dijadikan rujukan, bahkan dijadikan tolok ukur kebenaran.

Kalau yg abal-abal (Wahabi) ini rada tawadhu’ dan tahu diri, lalu mengelak dengan halus untuk berfatwa hukum, tentu malah jadi baik. Sayangnya, yang bisa tawadhu’ itu jarang-jarang adanya. Entah karena gengsi malu kalau dibilang ilmunya cetek, atau karena memang terlalu lugu, atau juga karena tidak tahu, seringkali para abal-abal ini berfatwa, bicara hukum halal haram, bicara ketentuan syariah, tetapi tanpa landasan ilmu.

Inilah yang dikhawatirkan oleh Rasulullah SAW 14 abad yang lalu, dimana muncul tokoh-tokoh yang jahil tapi rajin berfatwa. Mereka bukan mengajarkan agama tetapi malah menjauhkan orang dari agama.

sebagaimna Hadits di-awal menceritakan bahwa umat Islam pada akhir masa nanti akan kehilangan para ulama, lantas mereka menjadikan para pemimpin yang bodoh dan tidak punya ilmu sebagai tempat untuk merujuk dan bertanya masalah agama.

Alih-alih mendapat petunjuk, yang terjadi justru mereka semakin jauh dari kebenaran, bahkan sesat dan malah menyesatkan banyak orang.

Dan apa yang disampaikan oleh Rasulullah SAW 14 abad yang lalu rasanya sangat tepat kalau kita sebut bahwa hari ini benar-benar sedang terjadi.
Sangat jauh perbedaan antara mereka abal-abal (Wahabi) dengan ulama mujtahid yang yang memang ahli di bidang ilmu-ilmu syariah. Dalam disiplin ilmu syariah, sebenarnya mereka memang bukan mujtahid dan juga belum sampai derajatnya sebagai pakar ilmu syariah.

• ANALOGI MUJTAHID DENGAN DOKTER
__________________

Akhirnya saya menemukan analogi sederhana yang sedikit banyak bisa membantu mendekatkan kita pada duduk permasalahan di benak kita.

Dan saya menggunakan analogi dengan dunia kedoteran. Ilmu kedokteran bisa disandingkan dengan ilmu syariah, dimana keduanya dibangun di atas dasar sain yang begitu ilmiyah, penuh dengan pengujian yang eksak dan tentunya profesional. Baik ilmu syariah ataupun ilmu kedokteran sudah menjelma menjadi disiplin ilmu yang baku dan diajarkan di seluruh dunia lewat jenjang kuliah S-1, S-2 dan S-3 serta pendidikan spesialisasi lainnya.

Cuma bedanya, dalam dunia kedokteran, kita dengan mudah bisa membedakan mana dokter dan mana yang bukan dokter. Sedangkan dalam disiplin ilmu fiqih dan syariah, banyak orang yang sama sekali tidak mengerti membedakan ulama ahli fiqih dengan ustadz dan sejenisnya.

Siapakah Dokter itu?
Dokter adalah lulusan SMA pintar yang berhasil menjebol seleksi ketat Fakultas Kedokteran di Universitas tertentu. Lalu dia dengan tekun mengikuti perkuliahan yang berat dan bertahun-tahun lama, hingga akhirnya dinyatakan lulus.

Begitu lulus, dia belum jadi dokter tetapi baru sekedar menjadi Sarjana Kesehatan. Untuk itu dia kemudian diharuskan untuk menempuh berbagai proses lagi, hingga akhirnya mendapatkan surat izin praktek. Dan jadilah dia seorang dokter umum seperti yang banyak kita kenal.

Dokter Spesialis
Barangkali buat orang awam, semua dokter itu sama saja. Padahal para dokter ini pun punya hirarki keilmuan dan juga spesialisasi yang berbeda-beda.

Hirarki yang paling rendah adalah dokter umum. Mereka boleh buka praktek secara umum, tetapi manakala pasien terindikasi punya penyakit yang rada berat, misalnya sakit jantung, paru, ginjal, atau kanker, maka harus ditangani oleh dokter spesialis yang hirarkinya di atas dokter umum.

Tugas dokter umum ini memberikan rujukan ke rumah sakit tertentu, dimana disana ada dokter spesialis ahli di bidang penyakit tertentu.

Untuk bisa menjadi seorang dokter spesialis, maka dokter umum harus balik lagi ke kampus mengambil kuliah spesialis. Kalau dokter umum ini sukses menempuh perkuliahan spesialisasinya, barulah dia jadi dokter spesialis.

Tapi ingat, di atas hirarki para dokter spesialis, masih ada lagi keahlian yang lebih tinggi lagi dan yang lebih tinggi lagi.

• ULAMA MUJTAHID IBARAT DOKTER

Para ulama mujtahid ini bisa kita analogikan sebagai para dokter. Ada yang cuma dokter umum, tetapi ada yang dokter spesialis dan seterusnya. Namun yang pasti, tidak mungkin ada ulama mujtahid kecuali dia sudah menghabiskan hampir seluruh usianya untuk kuliah, belajar dan mendalami ilmu syariah.

Untuk menjadi ulama mujtahid tentu tidak cukup hanya sekedar mengenakan seragam gamis panjang dengan jenggot lebat plus sorban melingkari kepala dan tasbih diputar-putar.

Dan untuk menjadi ulama mujtahid tidak cukup hanya namanya dicantumkan dalam daftar pengurus suatu lembaga yang berlabel ulama, atau berlabel fatwa, tarjih dan sejenisnya. Maksudnya, tidak mentang-mentang seseorang duduk jadi pengurus di suatu lembaga fatwa pada suatu organisasi, otomatis dia langsung jadi ahli syariah. Tidak sama sekali.

Karena jabatan dan keilmuan itu dua hal yang sangat berbeda. Seorang yang bodoh dan tidak paham agama bisa saja tiba-tiba dicantumkan namanya menjadi pejabat di suatu lembaga fatwa, cukup dengan punya koneksi dan kedekatan dengan tokoh tertentu. Dan bisa saja ulama yang betulan tiba-tiba namanya dicoret begitu saja dari suatu lembaga fatwa tertentu.

Untuk jadi ulama, mereka harus menempuh jenjang pendidikan berkuatas yang lama dan panjang, mulai dari jenjang pendidikan dasar dan menengah, hingga meneruskan ke jenjang perguruan tinggi, mulai dari Strata-1, Strata-2 dan hingga Strata-3.

Lulus pendidikan khusus, tidak otomatis mereka jadi mujtahid. Sebab mereka harus hidup bergelut di dunia keilmuan, serta mengabdikan diri demi perkembangan ilmu yang telah dipelajarinya.

Untuk menjadi ulama betulan, seorang murid yang belajar ilmu syariah harus mengaji, mengaji, dan mengaji tidak pernah berhenti. Berguru kemana-mana menuntut ilmu, kalau perlu meninggalkan tanah kelahiran untuk terus menerus menimba ilmu syariah. Dan ciri yang mudah untuk dikenal apabila ilmunya sudah banyak, keluar sikap tawadhu’ dan rendah hatinya. Dia tidak pernah merasa pintar, apalagi mengaku-ngaku sebagai ahli ijtihad.

• PARA MUJTAHID PUN BERJENJANG
________

Para mujtahid di masa lalu punya hirarki berjenjang. Ada mujtahid mutlak macam para pendiri mazhab yang empat, yaitu Al-Imam Abu Hanifah, Al-Imam Malik, Al-Imam Asy-Syafi’i dan Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahumullah. Mereka adalah soko guru utama yang menciptakan rumus dan kaidah ilmu istimbath hukum secara lengkap dan tidak terbantahkan sepanjang zaman.

Di bawah keempat mujtahid mutlak itu ada level-level yang lebih rendah. Langsung di bawah para mujtahid mutlak adalah level mujtahid mutlak ghairu mustaqil. Di bawahnya ada lagi level mujtahid yang disebut dengan mujtahid muqayyad, mujtahid tarjih dan mujtahid fatwa. Masing-masing dengan spesifikasi, kapasitas ilmu dan kewenangannya. Tidak mungkin dirinci secara detail dalam tulisan singkat ini.

• PROFESI YG DEKAT DG KESEHATAN
______________

Di luar profesi para dokter, kita mengenal adanya orang-orang yang juga bekerja terkait dengan dunia kesehatan. Sebutlah misalnya ada perawat, apoteker, ahli farmasi dan juga ahli gizi.

Mereka juga harus kuliah panjang dan lama agar mencapai profesi itu. Meski berpendidikan tinggi dan lama, tetapi mereka jelas bukan dokter, sehingga kedudukannya tidak bisa disejajarkan begitu saja dengan para dokter.

Seorang perawat meski bisa menyuntik, memasang alat infus atau merawat luka, tetapi harus bekerja di bawah arahan dokter ahli. Dokterlah yang menentukan obat apa yang harus disuntikkan ke dalam tubuh pasien. Tidak boleh seorang perawat main suntik pasien begitu saja seenak perutnya, tanpa izin dari dokter.

Seorang apoteker tidak boleh mengobati pasien secara langsung, walaupun dia bekerja di ruangan yang penuh dengan obat. Apoteker bekerja berdasarkan resep dari dokter untuk meracikkan obat bagi pasien. Maka seorang apoteker tidak boleh langsung memberi obat kepada pasien, tetapi harus lewat dokter dulu. Kalau dia melanggar, maka pasti dipersalahkan karena tidak sesuai prosedur.

Apalagi kalau sok melakukan pembedahan cesar buat ibu hamil yang bayinya terlibat tali pusat, pasti sudah masuk penjara. Kenapa? Karena seorang apoteker bukan ahli bedah kandungan, walaupun masih bau-bau dunia kesehatan.

Seorang ahli gizi memang mengerti jenis makanan apa saja yang cocok untuk kesehatan pasien. Tetapi dia tidak boleh melakukan tindakan medis yang menjadi preogratif profesi dokter. Ahli gizi tidak boleh membedah perut pasien, karena hal itu di luar kewenangannya, disebabkan memang ilmu dan kemampuannya bukan di bidang itu.

Nah sekarang mari kita analogikan, orang-orang yang berprofesi di dunia kesehatan yang bukan dokter ini sebagai para ulama juga, tetapi bukan ulama mujtahid ahli syariah. Sebab ilmu yang mereka pelajari hanya bersifat parsial dan merupakan potongan-potongan kecil dari ilmu fiqih yang besar.

• Lalu siapa contohnya?
_______

Kita bisa masukkan misalnya para ulama hadits atau muhadditsin besar, seperti Al-Imam Bukhari, Al-Imam Muslim, Al-Imam At-Tirmizy, Al-Imam Al-Baihaqi dan banyak lagi yang lainnya. Ilmu mereka tentu tinggi, tetapi bukan di bidang istimbath hukum. Ilmu yang mereka bidangi hanya bagian kecil dari sebuah proses istimbath hukum, yaitu sebatas pada memastikan keshahihan suatu hadits.

Keshahihan suatu hadits hanya salah satu unsur dari lusinan unsur dalam pekerjaan mujtahid dan fuqaha. Tetapi untuk menentukan hukum suatu masalah, tentu bukan tugas dan wewenang para ahli hadits.

Jadi status mereka memang bukan mujtahid dan bukan fuqaha, tetapi mereka sekedar meneliti suatu hadits, apakah shahih atau tidak. Kalau sudah berhasil mengidentifikasi hukum suatu hadits, peran mereka pun selesai sudah.

Secara hukum syariah, para ahli hadits ini bukan mujtahid, sehingga mereka tetap harus berittiba’ kepada para mujtahid. Maka jangan kaget kalau Al-Bukhari dan Muslim ternyata bermazhab Syafi’i. Demikian juga dengan Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani yang merupakan muttabi’ dalam mazhab yang sama.

•• TUKANG OBAT ??!!!!
___________

AJAIB-NYA, di luar profesi dokter, perawat, apoteker dan ahli gizi di atas, di tengah masyarakat kita juga menemukan sosok ‘aneh’ yang suka banyak bicara tentang kesehatan, yaitu tukang obat.

Tukang obat ini banyak sekali bicara tentang obat, karena tujuan mereka memang berjualan obat. Kebanyakan dari mereka berjualan obat di pinggir jalan dengan membuat kerumunan massa..

Dan menariknya, untuk menjadi tukang obat, ternyata tidak dibutuhkan pendidikan atau keahlian khusus. Tidak ada fakultasnya, tidak ada jenjang perkuliahan S-1 hingga S-3.

Apalagi untuk jadi tukang obat di perempatan jalan, seseorang cukup melatih bakat berpidato di depan massa. Semakin menarik pidatonya, semakin banyak kerumunan orang-orang yang merubungnya. Dan tentunya semakin laris obat jualannya.

Untuk itu mereka terbiasa bikin atraksi panggung yang menghibur, walaupun bisa jadi penuh tipu-tipu. Misalnya, ada temannya yang pura-pura jadi orang sakit. Begitu pakai obat jualannya, langsung sembuh seketika. Dan tersihirlah kerumunan massa dan dagangannya langsung laris manis habis tidak bersisa.

Tetapi ada juga jenis tukang yang lebih maju. Mereka tidak mangkal di perempatan jalan, tetapi buka praktek klinik pengobatan. Untuk itu mereka rajin pasang iklan yang heboh, baik di koran atau internet. Terigur keuntungan, tidak sedikit dari mereka berani pakai modal besar untuk beriklan di TV. Maka orang-orang akan datang berduyun-duyun ke kliniknya.

Kadang biar rada keren dan meyakinkan pasein, para tukang obat modern ini pakai baju yang dimirip-miripkan dengan baju dokter, yaitu seragam putih-putih juga, lengkap dengan stateskop melingkar di leher. Bahkan boleh jadi suka bicara dengan mengutip istilah-istilah kedokteran modern.

Kita yang awam bisa dipastikan tertipu mentah-mentah dengan penampilannya.

• WAHABI(dg al-bani) SAMA DENGAN TUKANG OBAT
________________

Nah, di akhir jaman ini ,seagaimana sabda Nabi kita seringkali menemukan para tokoh ‘tukang obat’ ini.
Mereka memang pandai ceramah dan pidato, lihai menyihir jamaah dengan memainkan kata, sehingga semua ikut tertawa, menangis, bahkan bertakbir.

Saya sendiri kagum luar biasa dengan kemampuan pidato dan atraksi panggung mereka. Sampai acara pengajiannya bisa jadi tontonan kolosal yg menghipnotis pemirsa.
Tetap kita syukuri keberadaan mereka.

Tetapi mohon maaf, jangan sampai mereka mengambil alih wilayah yang bukan otoritas mereka. Sebab kalau kita teliti dengan jujur latar belakang ilmu dan spesialisi pendidikannya, yang terjadi malah sebaliknya. Ternyata mereka tidak pernah melewati jenjang pendidikan ilmu & pengetahuan.
Sehingga tentu saja mereka bukan sosok ulama mujtahid yang berlimpah ilmu pengetahuan agama. Mereka lebih merupakan sosok aktor panggung yang pandai retorika menyihir massa.

Oleh karena itu jangan heran kalau seringkali mereka butuh atribut buat manggung, mulai dari kostum baju koko khas (cingkrang), peci, dan asesoris lainnya. Bahkan mereka butuh yel-yel khas yang biasa dipakai oleh para trainer motivator. Yah, namanya juga atraksi panggung tukang obat, harus menghibur dong.

Kita semua ini adalah umat yang awam, masuk dalam tataran rakyat jelata. Sebab ilmu yang kita miliki terlalu sedikit dibandingkan dengan ilmu yang dipelajari para dokter dan juga para perawat. Dan tentunya kita pun tidak jualan obat di pinggir jalan.

Kita cukup menjadi pasien yang baik, mendengarkan nasehat dokter, kalau kurang mengerti, tentu bertanya kepada dokter, agar dapat informasi yang benar, valid dan akurat. Kita tidak perlu sok merasa jadi dokter, padahal cuma jadi tetangganya dokter.
Sampai kapan pun tetangga dokter tidak akan pernah dipanggil dokter hehe….

Dan sebagai tetangga dokter, kita tidak boleh beli obat sembarangan dari tukang obat di perempatan jalan.
Apalagi sampai mempercayai bulat-bulat semua jurus ngibulnya. Tentu pak dokter sendiri akan malu kalau mengetahui bahwa ada tetangganya masih saja belum tercerahkan wawasannya.

Semoga keluarga kita terjauhkan dari Kibulan ‘tukang obat’ pinggir jalan & Selalu dlm lindungan Allah SWT…
Amien ya rabbal alamin.

Wallahu a’lam bishshawab.

bercomentarlah dengan santun dan mendidik

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: