ENGGAN BERMADZHAB KARENA KELIRU MENGARTIKAN BERMADZHAB

3 Sep

MELURUSKAN KESALAHPAHAMAN MEMAKNAI BERMADZHAB

بِسْــــــــــــــــــــــمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

Sebelumnya sebagai penghantar perlu kiranya anda merenungkan beberapa hal berikut :

Pertama Firman Alloh :

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Maka bertanyalah kepada orang yang memiliki pengetahuan jika kalian tidak mengetahui” (QS. An Nahl : 43)

Perhatikan ayat Alloh diatas, betapa luas kemurahan Alloh pada hamba-Nya, karena Dia Maha Mengetahui bahwa sebagian hamba-Nya ada yang tiada atau belum mempunyai pengetahuan, hingga Dia jadikan “Bertanya” sebagai solusi bagi hamba yang belum/tidak tahu.

Kedua : Sabda Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam :

مَنْ قَالَ فِي الْقُرْآنِ بِغَيْرِ عِلْمٍ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ

“Barangsiapa berbicara tentang al qur’an tanpa ilmu, maka hendaklah mengambil tempatnya di neraka” (HR. At Tirmidzi, dan beliau nyatakan sebagai hadits hasan shohih)

Ketiga : Pernyataan para Ulama

a. Pernyataan Imam Ahmad yang dinukil oleh Ibnul Qoyyim dalam I’laamul Muwaqqi’in :

إذا كان عند الرجل الكتب المصنفة فيها قول رسول الله ص – واختلاف الصحابة و التابعين فلا يجوز أن يعمل بما شاء ويتخير فيقضي به ويعمل به حتى يسأل أهل العلم ما يؤخذ به فيكون يعمل على أمر صحيح

“Jika seseorang mempunyai beberapa kitab yang didalamnya terdapat sabda Rosululloh shollallohu ‘alai wasallam, dan khilafiyah para sahabat dan tabi’in, maka ia tidak boleh sekehendaknya mengamalkan dan memilih dan lalu memberi putusan dengan itu semua sampai ia bertanya peda ahli ilmu, pendapat mana yang boleh diambil. Jika demikian maka ia telah menjalankan sesuatu yang benar” (I’laamul Muwaqqi’iin, vol. I, hlm.44 )

Imam Ahmad juga berkata :

“Barangsiapa mempunyai anggapan bahwa ia tidak ber-Taqlid dan tidak ber-Taqlid kepada seseorang dalam agamanya, maka itu adalah pendapat orang fasiq menurut Alloh dan Rosul-Nya”. (Ibnu Abi Ya’la Al Farro’ – Thobaqotul Hanabilah, vol. 1, hlm. 31 dan 65)

b. Pernyataan Al Hafidz Adz Dzahabi ketika menolak orang yang berkata : “Mengambil hadits lebih baik daripada mengambil ucapan As Syafi’iy dan Abu Hanifah”. Imam Adz Dzahabi berkata :

هذا جيد، لكن بشرط أن يكون قد قال بذلك الحديث إمام من نظراء هذين الامامين مثل مالك، أو سفيان، أو الاوزاعي، وبأن يكون الحديث ثابتا سالما من علة، وبأن لا يكون حجة أبي حنيفة والشافعي حديثا صحيحا معارضا للآخرة.

“Pendapat tersebut baik, akan tetapi dengan syarat orang yang berkata tentang hadits tersebut adalah seorang Imam yang sepadan dengan kedua Imam tersebut (Imam As Syafi’iy dan Abi Hanifah), seperti Imam Malik, Sufyan, Al Auza’iy. Dan hendaknya hadits yang ditetapkannya adalah hadits yang tidak mengandung ‘Illat (steril), juga hendaknya hadits yang dijadikan hujjah bagi Imam Abi Hanifah dan Imam As Syafi’iy adalah bukan hadits yang shohih serta bertentangan (Ta’aarudh) dengan yang lain”. (Al Hafidz Adz Dzhabi dalam – Siyaaru A’laamin Nubalaa, vol. 16, hlm. 405)

c. Pernyataan Imam As Syathibi dalam Al Muwafaqoot pada masalah ke sembilan :

فتاوى المجتهدين بالنسبة إلى العوام كالأدلة الشرعية بالنسبة إلى المجتهدين.
والدليل عليه أن وجود الأدلة بالنسبة إلى المقلدين وعدمها سواء؛ إذ كانوا لا يستفيدون منها شيئا؛ فليس النظر في الأدلة والاستنباط من شأنهم، ولا يجوز ذلك لهم البتة وقد قال تعالى: {فَاسْأَلوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ}
والمقلد غير عالم؛ فلا يصح له إلا سؤال أهل الذكر، وإليهم مرجعه في أحكام الدين على الإطلاق، فهم إذن القائمون له مقام الشارع، وأقوالهم قائمة مقام [أقوال] الشارع.

“Fatwa para Mujtahid bagi orang awam bagaikan dalil Syar’iy bagi para Mujtahid. Adapun dalil (yang menjadi dasar) atas ahal tersebut adalah : Bahwasannya adanya dalil atau tidak adanya dalil bagi orang-orang yang ber-Taqlid adalah sama, mengingat mereka tidak akan dapat mengambil manfaat dari dalil-dalil tsb.Dan tidak akan ada (tidak dapat) Nadzor (analisa) terhadap dalil-dalil dalam kondisi mereka (orang awam), dan hal tersebut (menganalisa dalil-dalil) tidak diperkenankan samasekali bagi mereka.”
Dan bagi orang yang tidak  ‘alim yang ber-taqlid, tidak sah baginya kecuali hanya bertanya kepada para ahli ilmu. Dan para ahli ilmulah tempat yang menjadi rujukan bagi orang awam yang ber-taqlid…. dst . (Al Muwaafaqoot – vol.5, hlm. 336-337)

Methode-methode Bermazhab
Banyak kalangan keliru dalam mengartikan “BERMADZHAB”, terlebih bagi kalangan yang menolak bermadzhab.

Tulisan kami kali ini tidak dalam rangka menjelaskan alasan serta dasar hukum bermadzhab, akan tetapi lebih kepada penjelasan tentang pola ummat Islam dan para ulama’nya dalam bermadzhab. Hal ini penting agar tidak ada lagi kekeliruan dalam mengartikan bermadzhab.

Sebagai bukti adanya kalangan yang tidak memahami maksud dan pola dalam bermadzhab adalah : Adanya tuduhan sesat terhadap amaliyah atau pendapat yang tidak difatwakan oleh Imam Madzhab.

Ketahuilah saudaraku, para Aimmatul Madzahib (para Imam Madzhab) khususnya yang empat, secara garis besar mewariskan setidaknya dua hal yang dapat diikuti (dijadikan pedoman) ummat Islam untuk mengetahui hukum-hukum dalam Islam. Dua hal tersebut adalah Qouliy dan Manhajiy. Dari dua hal tersebut, dalam prakteknya kita dapati Tiga Pola bagi para ulama dan ummat Islam dalam mengaplikasikan bermadzhab.

Pertama : METODE QOULIY

Bermadzhab secara Qouliy adalah mengikuti pendapat para Imam Madzhab tentang hukum suatu perkara, dalam hal ini kita ambil contoh : Sunnahnya Qunut dalam sholat shubuh, Dianjurkannya Talaffudz Niyat (bacaan Usholli atau Nawaitu) Sunnahnya Ziyarah Kubur, dll (dalam Madzhab Imam As Syafi’iy dan Syafi’iyyahh).

Pada contoh-contoh diatas, ummat Islam menjadikan pendapat (hasil ijtihad) para Mujtahid sebagai rujukan dalam mengetahui dan menetapkan hukum atas perkara-perkara tsb. Sedangkan para ulama/para Kiyai dan Asatidza hanya sebatas sebagai penyampai informasi atas pendapat-pendapat yang telah menjadi ketetapan para Mujtahid.

Kedua : METODE ILHAQIY

Bermadzhab dengan cara “Ilhaqiy” secara garis besar hampir sama dengan penggunaan “Qiyas” dalam ber-Istinbath/ menggali hukum. Perbedaannya adalah jika dalam “Metode Qiyas” yang menjadi rukun ”Ashal” (Musyabbah Bih atau perkara yang dengannya perkara lain disamakan untuk diketahui hukumnya) adalah Nash yang bersifat “Qoth’iy” (pasti benar). sedangkan dalam “Metode Ilhaqiy” yang menjadi rukun ”Ashal” adalah pendapat para Mujtahid yang bersifat “Dzhonniy” (memiliki kemungkinan salah/keliru).

“Metode Ilhaqiy” biasa digunakan oleh para Ulama atau para Asatidz di pesantren (dalam Bahtsul Masaail) atas perkara-perkara baru yang belum difatwakan hukumnya oleh para Mujtahidin, dimana perkara baru tersebut memiliki kesamaan dengan perkara yang telah difatwakan oleh para Mujtahid.

Dalam hal ini kita ambil contoh Fatwa para Ulama NU tentang “Kenduri Kematian”, dimana dalam tradisi tersebut memiliki kesamaan dengan “Ma’tam” yang dimakruhkan oleh Imam As Syafi’iy atau “Wahsyah, Juma’ atau Arba’in” yang juga dimakruhkan oleh para Ulama Syafi’iyyah.

Disini perlu kami tegaskan sekali lagi, bahwa “Tahlilan” dalam kenduri kematian bukanlah “Ma’tam, Juma’ atau Arba’in” yang dimaksud oleh Imam As Syafi’iy dan para ulama Syafi’iyyah.

Dalam tradisi “Tahlilan/Kenduri Kematian” makanan yang dihidangkan bersifat seadanya dalam rangka menghormat para tamu, dan memang fakta yang terjadi di daerah kami adalah : dengan atau tanpa hidangan makanan para tetangga tetap akan hadir dirumah keluarga simati untuk mendo’akan si mati. Berbeda dengan Ma’tam, Juma’ atau Arba’in, dimana dalam tradisi tersebut keluarga si mati membuat hidangan makanan dengan tujuan menghadirkan orang lain di rumah mereka (hampir menyerupai walimah), sehingga kita dapati Illat (alasan) yang menyebabkan tradisi seperti Ma’tam dihukumi Makruh adalah “Tajdiidul Huzni” dan “Takliful Mu’nah” (menambah kesedihan dan beratnya ongkos/biaya yang ditanggung keluarga si mati) (Lihat Al Umm, vol. 1, hlm. 279).

Disamping itu dalam tradisi “Ma’tam, Juma’ atau Arba’in” yang dimaksud oleh Imam As Syafi’iy dan para ulama Syafi’iyyah tidak disebutkan adanya acara do’a untuk si mati.Dalam hal ini para Ulama NU dalam fatwanya No : 18, menghukumi “Makruh” atas perkara yang berupa “Tahlilan/ Kenduri Kematian” karena memiliki kesamaan dengan “Ma’tam, Juma’, Wahsyah atau Arba’in” yang terletak pada adanya berkumpul dirumah keluarga si mati dan adanya hidangan makanan dalam tradisi tsb. Inilah yang kami maksud bermadzhab dengan cara “Ilhaqiy”.

Ketiga : METODE MANHAJIY

Bermadzhab dengan Metode/cara/pola “Manhajiy” adalah : Menggunakan Manhaj atau Metode yang digariskan oleh para Imam Madzhab dalam Ber-Isthinbath (menggali hukum dari sumber utamanya yakni al qur’an dan as sunnah). Pola ini biasanya diterapkan oleh para “Mujtahid Muqoyyad” (para ulama yang memiliki kapasitas untuk menggali hukum langsung dari sumbernya, akan tetapi penggaliannya tetap menggunakan Manhaj atau Metode yang telah digariskan oleh para Imam Madzhab yang dianutnya).
Dalam hal ini kita ambil contoh Al Imam Ar Rofi’iy, Al Imam An Nawawiy, Al Imam Ibnu Hajar, yang kesemuanya dinisbatkan sebagai “As Syafi’iy” atau “Ash-haabus Syafi’iy” (para ualama yang bermadzhab As Syafi’iy) meskipun dalam banyak hal mereka berpendapat berbeda dengan Al Imam As Syafi’iy sendiri. Akan tetapi karena Manhaj atau metode yang digunakan mereka dalam ber-Isthinbath adalah metode yang digariskan oleh Imam Syafi’iy, karenanya mereka disebut sebagai para Ulama Syafi’iyyah.

Dalam hal ini kita ambil contoh fatwa para Ulama Syafi’iyah tentang “Maulid Nabi”, diantaranya ada Al Allamah Abu Syamah dalam Al Ba’its, Al hafizh Jalaluddin As Suyuthi dalam As Syamil, As Sayyid Abu Bakar Syatho dalam I’anah, As Sayyid Ahmad Zaini Dahlan dalam Siroh An Nabawiyyah dll. Meskipun perayaan Maulid Nabi belum terjadi pada masa Imam As Syafi’iy dan tentunya tidak kita dapati fatwa beliau tentang Maulid Nabi, akan tetapi “Maulid Nabi” adalah “Bid’ah Hasanah” dalam Madzhab Syafi’iyyah, karena Isthinbath (penggalian hukum) dalam perkara tersebut menggunakan “Manhaj/Metode” yang telah digariskan oleh Imam As Syafi’iy.

Bermadzhab dengan pola semacam ini sangat diperlukan di era sekarang dan para ulama NU merekomendasikan dan mendorong bermadzhab dengan cara ini (sebagaimana keputusan MUNAS 1992), mengingat banyaknya perkembangan perkara baru yang belum didapati ketentuan hukumnya dari para Imam Madzhab. Di antaranya tentang “Tausi’ul Mina” (perluasan area Mina), “Tausi’ul Mas’a” (pelebaran lalulintas Sa’i), “Wujubu Idzni Zaujah” (mewajibkan izin dari istri sah bagi pelaku poligami), dst.

Semoga tulisan singkat ini dapat menambah wawasan yang bermanfaat bagi kita guna meminimalisir “Perpecahan” yang tidak kita inginkan bersama akibat dari kebodohan dalam mensikapi “Khilafiyah”. Wallohu A’lam…

bercomentarlah dengan santun dan mendidik

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: